Lantai marmer di Aula Matahari terasa begitu dingin di bawah kaki Lady Elara yang terbungkus sutra halus. Setiap langkahnya adalah sebuah koreografi yang telah dilatih selama bertahun-tahun, sebuah tarian kepatuhan di bawah tatapan tajam para tetua Lanchester.
Di sekelilingnya, dinding-dinding tinggi dihiasi oleh panji-panji emas yang melambangkan kemegahan kerajaan, namun bagi Elara, kain-kain mahal itu hanyalah jeruji yang sangat indah. Kehidupan bangsawan tinggi bukan tentang kebebasan, melainkan tentang kesunyian yang diatur dengan saksama oleh protokol istana yang kaku.
Di belakangnya, melangkah dengan presisi yang sama kakunya, adalah Sir William. Zirah perak milik ksatria kerajaan itu memantulkan cahaya lilin yang berkedip-kedip, menciptakan aura kegagahan yang membeku.
Dia adalah bayangan yang setia, pelindung yang tidak pernah bicara lebih dari yang diperlukan. Namun, di balik helm baja yang menutupi wajahnya, Elara bisa merasakan denyut kehidupan yang lebih dalam. Ada sebuah percakapan tanpa suara yang terjadi di antara mereka setiap kali mata mereka bertemu dalam pantulan cermin atau genangan air hujan di pelataran.
Malam itu, saat pesta dansa sedang mencapai puncaknya dan tawa palsu para bangsawan memenuhi udara, mereka melarikan diri ke taman rahasia di sayap barat. Di sana, aroma melati malam menyelimuti udara yang sejuk, memberikan kelegaan pada paru-paru Elara yang terasa sesak oleh korset dan kepura-puraan. Pohon-pohon willow merunduk rendah, seolah-olah dahan-dahannya sengaja ditenun untuk menyembunyikan mereka dari mata-mata istana yang haus akan skandal.
"Kau tidak seharusnya berada di sini, Milady," ucap William. Suaranya rendah, bergetar dengan nada bariton yang menenangkan namun sarat akan peringatan.
Elara berbalik dengan gerakan perlahan. Dia melepaskan sarung tangan rendanya, membiarkan kulitnya menyentuh udara malam yang jujur. "Aku lelah menjadi pajangan, William. Aku lelah dengan senyum yang dipahat dan janji-janji politik yang tidak memiliki nyawa."
William melepaskan helmnya, menyingkap wajah tegas yang tampak lelah di bawah sinar rembulan yang pucat. Dia tidak mendekat, tetap menjaga jarak yang telah digariskan oleh status sosial mereka yang terpisah jurang dalam. Namun, matanya mengkhianati disiplin militer yang selama ini dia banggakan. Ada kerinduan yang membara di sana, sebuah api yang tidak mampu dipadamkan oleh sumpah ksatria mana pun.
"Dunia ini tidak pernah adil bagi orang-orang seperti kita," bisik William.
Elara melangkah maju, memangkas jarak yang tersisa. Dia mengambil tangan William yang kasar karena latihan pedang bertahun-tahun dan meletakkannya di atas dadanya, tepat di mana jantungnya berdegup kencang melawan takdir. "Maka kita akan membuat dunia kita sendiri. Di sini. Sekarang."
Di bawah langit Azure yang bertabur bintang, mereka mengucapkan sebuah Sumpah Suci. Itu bukan janji yang disaksikan oleh pendeta atau dicatat oleh juru tulis kerajaan, melainkan janji yang diikat oleh pertemuan dua jiwa yang lelah. Mereka bersumpah untuk saling memiliki, melampaui gelar, melampaui hukum manusia, dan melampaui maut itu sendiri.
Namun, di Lanchester, kedamaian adalah komoditas yang terlalu mahal untuk dimiliki oleh mereka yang memiliki hati.
Beberapa minggu kemudian, ketenangan itu pecah oleh kehadiran Lord Valerius. Sang Duke tidak hanya memiliki pengaruh politik yang luas, tetapi juga kecerdasan yang tajam dan beracun. Saat Elara menolak lamarannya secara terbuka di tengah aula, Valerius tidak meledak dalam amarah. Sebaliknya, dia hanya tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang lebih menakutkan daripada teriakan mana pun.
Suatu sore, Valerius mencegat Elara di galeri lukisan. Dia berdiri di depan potret raja-raja terdahulu yang tewas karena pengkhianatan.
"Lady Elara," ucapnya sambil memutar-mutar cincin segel di jarinya. "Keindahan sering kali membuat kita lupa bahwa fondasi yang paling megah sekalipun bisa runtuh karena satu rayap kecil. Anda menolak saya dengan begitu berani, namun keberanian tanpa perhitungan adalah jalan pintas menuju tiang gantungan."
Valerius melangkah mendekat, aroma parfum musk-nya terasa menyesakkan. "Saya melihat bagaimana ksatria Anda menatap Anda. Sangat menyentuh, namun sangat ceroboh. Ingatlah, Lady, saya tidak suka kehilangan apa yang seharusnya menjadi milik saya. Jika saya tidak bisa memiliki permata itu, maka tidak boleh ada orang lain yang memegangnya."
Sejak hari itu, Valerius menjadi predator yang mengintai di balik bayang-bayang. Dengan kecerdikan yang licik, dia menyusun sebuah rencana untuk menghancurkan mereka. Dia menggunakan jaringan mata-matanya untuk memalsukan serangkaian dokumen korespondensi antara Lady Elara dan pihak pemberontak dari kerajaan tetangga. Dokumen tersebut dirancang dengan sangat teliti untuk membuat Elara terlihat seperti seorang pengkhianat yang berencana menggulingkan takhta demi kekuasaan pribadi.
Suatu malam, William menemukan dokumen-dokumen tersebut di dalam ruang kerja yang gelap. Dia telah mencurigai gerak-gerik Valerius dan melakukan penyelidikan rahasia. Saat dia membaca setiap aksara yang tertulis di atas perkamen tersebut, darahnya seakan membeku. Valerius telah menanamkan bukti-bukti ini di kamar pribadi Elara. Pasukan penjaga kerajaan akan melakukan penggeledahan dalam hitungan jam.
William tahu hukum kerajaan dengan sangat baik. Pengkhianatan terhadap mahkota berarti kematian yang hina. Tidak ada pembelaan bagi seorang wanita, betapapun tingginya statusnya, jika bukti-bukti itu ditemukan. Elara akan dieksekusi, dan namanya akan dihapus dari sejarah dengan noda yang tidak akan pernah hilang.
Dia menatap pedangnya, lalu menatap bayangannya di jendela yang gelap. Sebuah rencana yang nekat dan menyakitkan terbentuk di kepalanya.
Ketika pasukan penjaga menyerbu sayap barat istana, mereka tidak menemukan Lady Elara yang sedang merencanakan makar. Sebaliknya, mereka menemukan Sir William berdiri tegap di tengah ruangan dengan dokumen-dokumen itu di tangannya.
"Berhenti!" teriak kapten penjaga.
William tidak melawan. Dia menjatuhkan pedangnya ke lantai marmer. Bunyi logam yang beradu dengan batu terdengar seperti lonceng kematian yang menggema di seluruh koridor.
"Akulah pelakunya," ucap William dengan suara yang datar dan hampa. "Aku telah menggunakan sihir terlarang untuk mengendalikan pikiran Lady Elara. Semua rencana ini adalah milikku. Dia hanyalah boneka yang tidak sadar di bawah pengaruh sihirku."
Elara, yang baru saja terbangun karena keributan itu, muncul di ambang pintu. Matanya membelalak ketakutan dan tidak percaya. "William? Apa yang kau katakan? Itu tidak benar!"
William menatapnya untuk terakhir kali. Di dalam matanya, Elara melihat seluruh semesta cinta dan permohonan agar dia tetap diam. Itu adalah sebuah peringatan terakhir. "Diamlah, Milady. Sihirku telah berakhir. Anda bebas dari pengaruhku sekarang."
Pernyataan William adalah sebuah bunuh diri sosial dan fisik. Mengaku menggunakan sihir hitam terhadap anggota keluarga kerajaan adalah kejahatan yang jauh lebih berat daripada pengkhianatan biasa. Dia segera dirantai dan diseret menuju penjara bawah tanah yang paling gelap, tempat di mana cahaya matahari tidak pernah berani masuk.
Selama persidangan kilat yang penuh dengan caci maki, William tetap teguh pada ceritanya. Dia menolak pengacara dan membiarkan dirinya dihina oleh publik sebagai ksatria yang menyalahgunakan kepercayaan. Lord Valerius duduk di kursi penonton dengan senyum puas yang tersembunyi di balik jemarinya. Meskipun dia gagal menghancurkan Elara secara langsung, melihat sang ksatria hancur berkeping-keping sudah cukup untuk memuaskan egonya yang terluka.
Fajar eksekusi tiba dengan kabut yang tebal dan dingin, seolah-olah alam pun enggan menyaksikan apa yang akan terjadi. Elara berdiri di menara tertinggi, tangannya mencengkeram besi pembatas hingga buku jarinya memutih. Di bawah sana, di lapangan eksekusi, William berdiri dengan kepala tegak. Dia tidak lagi memakai zirah peraknya, hanya kemeja putih sederhana yang berkibar ditiup angin pagi.
Saat algojo mengangkat kapaknya, William menoleh ke arah menara. Dia tahu Elara ada di sana. Dia memberikan senyum tipis yang hanya bisa dimengerti oleh wanita itu—sebuah janji yang akhirnya ditepati dengan nyawa sebagai taruhannya.
Sore harinya, seorang sipir penjara yang merasa iba mendatangi kamar Elara secara sembunyi-sembunyi. Dia menyerahkan secarik surat yang telah lusuh, ditulis dengan sisa tinta terakhir di sel isolasi yang dingin.
"Untuk Cahaya di Balik Jerujiku," tulis William.
"Jangan menangisi kematianku, karena ini adalah pilihan paling mulia yang pernah kubuat dalam hidupku yang singkat ini. Di dunia yang penuh dengan kebohongan dan intrik yang menyesakkan, cinta kita adalah satu-satunya hal yang nyata. Mereka bisa mengambil nyawaku, tapi mereka tidak akan pernah bisa menghapus fakta bahwa aku pernah mencintaimu, dan kau pernah mencintaiku."
"Maafkan aku karena harus pergi lebih dulu. Aku harus mengotori namaku agar namamu tetap nirmala di mata dunia. Cinta sejati sering kali menuntut pengorbanan yang tidak masuk akal, dan aku memberikannya dengan sukarela. Hiduplah, Elara. Hiduplah untuk kita berdua. Kenanglah aku bukan sebagai pengkhianat, tetapi sebagai ksatria yang akhirnya menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga untuk diperjuangkan daripada sekadar mahkota emas."
Elara melipat surat itu dan menekannya erat ke dadanya, seolah-olah kertas itu adalah detak jantung William yang masih tersisa. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh, membasahi perkamen yang kini menjadi satu-satunya peninggalan sang ksatria. Dia menatap ke luar jendela, ke arah taman rahasia yang kini terasa sunyi dan mati.
Dia masih hidup. Dia masih memakai sutra dan perhiasan yang mahal. Namun, hatinya telah terkubur bersama ksatria yang memberikan segalanya demi sebuah janji di bawah langit Azure. Di dalam istana yang kaku itu, Elara membawa sebuah rahasia yang abadi—bahwa cinta yang paling murni tidak membutuhkan pengakuan dunia, hanya membutuhkan keberanian untuk berkorban di tengah kejamnya fitnah dan ambisi manusia.
Lanchester tetap berdiri kokoh dengan segala kemegahannya, namun di salah satu sudutnya yang tersembunyi, sebuah legenda tentang pengorbanan diam-diam mulai bersemi, tumbuh seperti bunga yang mekar dengan anggun di sela-sela bebatuan yang keras dan dingin.
***
GC Rumah Menulis — Tema 1