Elara, gadis desa yang selalu terjaga setiap malam hingga di ambang fajar. Dimana kegelapan melipat jubahnya, dan cahaya matahari bersiap merangkul bumi. Bagi Elara, desa Lumina tidak pernah benar-benar gelap. Malam hari adalah simfoni cahaya yang tidak bisa dilihat orang lain. Di saat penduduk desa meringkuk di balik selimut karena takut akan 'suasana mencekam' dari suara-suara ghaib di hutan tua, Elara justru duduk di ambang jendela, menatap partikel-partikel emas yang menari di udara.
Elara selalu percaya pada satu hal, kepercayaan yang dibisikkan para leluhurnya. Bahwa manusia tidak tercipta dari tanah biasa seperti yang terlihat. Tetapi dari pecahan bintang yang jatuh ke bumi dan melebur menjadi serpihan debu bintang lalu menjadi tanah demi keseimbangan ekosistem bumi.
Para leluhur membisikkan di setiap malamnya, "setiap sel di tubuhmu adalah warisan kosmik, Elara."
"Kita adalah debu bintang yang belajar bernapas," bisik Elara pada angin.
Keyakinan ini bukan tanpa alasan, matanya mampu menembus tirai realitas, melihat dunia peri yang berdampingan dengan dunia manusia, sebuah dimensi yang disebut Aetheria.
Namun, keseimbangan itu hancur dalam satu malam yang terkutuk. Badai Kelabu dan runtuhnya langit. Bencana itu datang tanpa peringatan meteorologi. Bukan hujan air yang turun, melainkan kabut abu pekat yang menghisap warna dari bunga-bunga. Tanah bergetar, bukan karena pergeseran tektonik, melainkan karena akar pohon dunia di dimensi sebelah sedang merintih.
Desa Lumina luluh lantak.
Bangunan kayu retak, dan jeritan penduduk tenggelam dalam deru angin yang terdengar seperti tangisan ribuan jiwa. Di tengah kekacauan itu, Elara melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.
Retakan besar di langit.
Seperti kaca yang pecah, memuntahkan lidah api biru. Saat Elara berlari menuju hutan untuk mencari perlindungan, ia menemukan seorang pria terkapar di antara puing-puing pohon ek kuno. Pria itu memiliki kulit seputih rembulan dan rambut yang tampak seperti anyaman cahaya perak. Di punggungnya, sisa-sisa sayap yang transparan tampak hangus terbakar.
Dia Brian. Seorang Astral-Born dari klan peri tertinggi di Aetheria.
Elara membawa Brian ke sebuah gua rahasia yang tersembunyi di balik air terjun yang sudah kering. Selama berhari-hari, ia merawat Brian dengan tanaman herbal yang ia kumpulkan, mencampurnya dengan keyakinannya akan energi bintang.
"Kenapa kau membantuku?" suara Brian parau saat ia pertama kali sadar. Matanya berwarna ungu gelap, seperti galaksi yang jauh. "Manusia biasanya lari saat melihat kehancuran."
Elara tersenyum tipis sembari mengoleskan salep pada luka di bahu Brian. "Karena aku tahu kau tidak membawa bencana ini. Kau adalah korban dari runtuhnya batas dunia kita, bukan?"
Brian terpaku. Jarang ada manusia yang bisa melihatnya, apalagi memahami mekanisme dimensi mereka. "Langit kami runtuh. Bencana di desamu hanyalah gema dari perang besar yang terjadi di Aetheria. Kami kehilangan sumber cahaya kami.
"Serbuk bintang," gumam Elara.
Brian menatapnya tajam. "Bagaimana kau tahu?"
"Aku selalu merasakannya. Di dalam darahku, ada getaran yang sama dengan cahaya yang kau pancarkan. Kita semua berasal dari tempat yang sama. Hanya saja, manusia sudah lupa cara untuk bersinar."
Brian menyadari gadis di depannya bukan bahaya yang mengancam, wajahnya mengendur, senyum tipis terulas di wajahnya yang seputih mutiara. "Siapa namamu?" Tanya Brian. "Ah, perkenalkan namaku, Brian," ucapnya seraya menjulurkan tangan.
"Elara Pearly," sambut Elara.
.
Malam-malam tanpa tidur adalah sebuah kebiasaan bagi Elara. Bencana itu menciptakan anomali waktu. Matahari tidak kunjung terbit di Lumina. Desa itu terjebak dalam malam abadi yang dingin. Fenomena ini mereka sebut Noches De Insomniacs, warga Lumina tidak bisa tidur karena ketakutan, bagi Elara dan Brian, inilah tugas yang harus mereka selesaikan.
Dalam kegelapan yang tak berujung, kedekatan yang terus menerus selama bencana itu, cinta tumbuh seperti bunga yang mekar di tengah salju. Brian mengajari Elara cara memanipulasi energi di sekitarnya, sementara Elara memberikan Brian alasan untuk tetap bertahan hidup meski dunianya sedang hancur.
"Di duniaku, kami mencintai dengan cara mengikat esensi jiwa," ujar Brian suatu malam, saat mereka duduk di bawah langit yang hitam pekat. "Tapi aku merasakan sesuatu yang berbeda darimu. Sesuatu yang lebih... hangat. Lebih manusiawi."
Elara menyandarkan kepalanya di bahu Brian yang dingin namun menenangkan. "Itu karena manusia mencintai dengan kesadaran bahwa mereka akan mati. Keindahan kami ada pada kerapuhan kami, Brian."
Brian menggenggam tangan Elara. Di antara jemari mereka, serbuk bintang mulai berpendar. Itu adalah reaksi kimiawi dari dua jiwa yang saling terhubung secara mendalam. Cinta mereka bukan sekadar romansa, itu adalah jembatan yang mulai memperbaiki retakan antar dimensi.
Namun, bencana itu mencapai puncaknya. Kabut abu mulai menelan sisa-sisa kehidupan. Makhluk-makhluk bayangan dari kegelapan Aetheria mulai menyeberang ke dunia manusia, memangsa harapan yang tersisa.
"Hanya ada satu cara untuk menghentikan ini," Brian berdiri dengan sisa kekuatannya. "Seseorang harus menjadi jangkar. Seseorang harus mengembalikan serbuk bintang ke inti langit."
Elara tahu apa artinya itu. "Kau akan kembali ke duniamu? Dan kau tidak akan bisa kembali lagi ke sini?"
Brian menatap Elara dengan tatapan yang menghancurkan hati. "Jika aku tidak melakukannya, duniamu dan duniaku akan musnah. Tapi aku butuh bantuanmu, Elara. Kau adalah satu-satunya manusia dengan kemurnian bintang di jiwamu. Aku butuh cintamu sebagai katalis."
Di bawah langit yang terbelah, mereka melakukan ritual terakhir. Elara memejamkan mata, memanggil seluruh keyakinannya tentang asal-usul manusia. Ia membayangkan setiap sel tubuhnya meledak menjadi cahaya. Ia memberikan seluruh rasa cintanya pada Brian, sebuah energi murni yang tidak terpengaruh oleh abu dan kegelapan.
Brian membawanya terbang ke arah retakan langit, tubuhnya bersinar lebih terang dari matahari mana pun yang pernah dilihat Elara. "Ingatlah, Elara," suara Brian bergema di dalam pikiran gadis itu. "Kita tidak pernah benar-benar berpisah. Cari aku di setiap kerlip bintang."
Ledakan cahaya besar menyapu seluruh desa. Kabut abu lenyap dalam sekejap. Langit yang pecah menutup kembali, meninggalkan jejak pelangi perak yang memudar perlahan.
Gemuruh di atas sana bukan lagi suara petir, melainkan suara realitas yang terkoyak. Cahaya biru elektrik menyambar-nyambar, menciptakan bayangan raksasa yang mengerikan di tanah Lumina. Tubuh mereka kembali terhempas di atas bukit. Namun, Brian berdiri dengan kaki gemetar, sementara Elara mencengkeram jubahnya, berusaha menahan pria itu agar tidak terbang menuju kematiannya.
"Lepaskan, Elara! Jika retakan itu melebar sedikit saja, duniamu akan menjadi debu!" teriak Brian di tengah deru angin yang memekakkan telinga.
"Tidak! Kau baru saja kembali bernapas, Brian! Kau baru saja belajar cara tersenyum sebagai manusia!" Elara berteriak balik, air matanya menguap sebelum sempat jatuh ke pipi karena panas energi yang terpancar dari langit. "Jangan katakan perpisahan padaku di tempat seperti ini!"
Brian berbalik, mencengkeram kedua bahu Elara. Matanya yang ungu kini berpendar terang, menunjukkan retakan cahaya di dalam pupilnya.
"Dengarkan aku!" suara Brian menggelegar, namun ada getaran pilu di dalamnya. "Kau bilang kita terbuat dari serbuk bintang, kan? Maka jangan takut. Aku tidak pergi menuju kegelapan. Aku hanya pulang ke asal-usulku agar kau bisa tetap hidup untuk melihat matahari esok pagi."
"Tapi aku tidak ingin melihat matahari jika itu artinya kau harus menjadi cahaya yang membakarnya!" Elara terisak, tangannya beralih menggenggam jemari Brian yang mulai terasa panas seperti bara.
"Elara, lihat aku," Brian menangkup wajah gadis itu, memaksa mata mereka bertemu di tengah badai. "Cintamu adalah satu-satunya frekuensi yang bisa menyatukan kembali pecahan Aetheria. Aku membutuhkan jiwamu untuk menjadi kompas bagi cahayaku. Jangan menangis, jadilah kuat. Biarkan aku mendengar namaku kau sebut untuk terakhir kalinya sebelum aku menjadi bagian dari semesta."
Elara memejamkan mata, dahi mereka bersentuhan. Di sekeliling mereka, udara bergetar hebat. "Brian... demi bintang-bintang yang melahirkan kita, kembalilah padaku dalam bentuk apa pun. Hujan, angin, atau sekadar debu di jendela..."
"Aku akan selalu ada di sana," bisik Brian tepat di bibirnya. "Setiap kali kau menatap langit malam dan merasa rindu, ketahuilah bahwa itu adalah aku yang sedang balas menatapmu."
Tepat saat itu, langit meledak dalam simfoni cahaya perak dan emas yang membutakan. Elara merasakan jemari Brian terlepas, bukan karena pria itu pergi, tapi karena tubuhnya telah berubah menjadi jutaan partikel cahaya yang melesat naik, menjahit kembali langit yang robek dengan benang-benang cinta yang tak kasatmata.
Ketika Elara membuka mata, matahari sedang terbit di ufuk timur Lumina. Penduduk desa keluar dari persembunyian mereka, menangis haru melihat kembalinya siang. Namun, Elara berdiri sendirian di tengah hutan. Brian telah pergi. Sayap-sayapnya yang hancur kini menjadi rasi bintang baru di langit malam.
.
Bertahun-tahun berlalu, Elara dikenal sebagai penjaga hutan. Ia tidak pernah menikah dengan pria desa. Setiap malam, ia tetap menjadi seorang insomniac—bukan karena takut, melainkan karena ia ingin menyapa kekasihnya.
Ia akan menengadah ke langit, melihat serbuk bintang yang turun perlahan seperti salju halus yang hanya bisa dilihat oleh matanya. Baginya, setiap kerlipan adalah bisikan Brian. Dan di dalam hatinya, ia tahu bahwa cinta mereka adalah bukti nyata bahwa meski bencana bisa meruntuhkan dunia, ia tidak akan pernah bisa memadamkan cahaya yang berasal dari asal-usul yang sama, bintang-bintang.
Notes : Cerpen ini saya persembahkan untu GC Rumah Menulis.
Dengan tema: Cinta di tengah bencana.
Genre : Fantasi romance