Syahdan, tersebutlah kisah ini pada zaman yang amat tua,
tatkala bumi belum bernama dan langit belum berlapis,
ketika laut terbentang tanpa tepi
dan segala yang ada berjalan menurut titah dewata
tanpa pernah membantah.
Pada masa itu, tiadalah insan yang berjalan di bumi,
tiada pula suara doa atau ratap,
hanya desir angin purba dan dengus samudra
yang mendengar kehendaknya sendiri.
Maka pada suatu ketika,
tatkala cahaya bulan turun terlalu rendah ke samudra,
jatuhlah sebahagian sinarnya
ke dalam air yang masih muda.
Dari pertemuan itulah lahir seorang putri,
bukan dari rahim makhluk bernyawa,
melainkan dari cahaya yang menemukan wadahnya.
Maka dinamailah ia Dyah Candhrakala,
putri pembawa terang malam,
yang oleh sinarnya air laut mengenal pasang dan surut,
dan oleh kehadirannya malam tidak menjadi liar.
Adapun Candhrakala itu,
rupanya elok tiada bandingan,
namun keelokannya bukan untuk dipuja,
melainkan untuk menjaga keseimbangan dunia.
Bila ia melangkah, laut berkilau.
Bila ia berdiam, ombak pun menahan diri.
Dan bila ia memejamkan mata,
sunyi pun turun seperti selimut.
Maka para dewata memandang Candhrakala
sebagai anugerah yang besar,
namun juga sebagai beban yang halus,
kerana cahaya yang terlalu terang
akan senantiasa mengundang bayang
untuk mendekat dan melekat.
Maka tersebut pula pada masa itu
seorang makhluk tua bernama Buthakala,
yang tercipta dari sela terang dan gelap.
Ia bukan dewa, kerana tiada dititahi hukum.
Ia bukan pula insan, kerana tiada dibekali usia.
Ia hanyalah makhluk yang diberi sukma,
namun tidak diajarkan batas.
Buthakala hidup dalam senyap,
menyusuri malam dan senja,
hingga pada suatu ketika
matanya tertumbuk pada cahaya Candhrakala.
Maka tergugahlah sukma Buthakala,
laksana malam yang pertama kali mengenal bulan.
Mula-mula ia hanya memandang dari jauh,
lalu mendekat tanpa diseru,
dan akhirnya membayang tanpa diundang.
Pada awalnya Candhrakala tidak gentar,
kerana ia menyangka bayang itu sekadar penyeimbang.
Namun lama-kelamaan ia mendapati
bahawa bayang itu tidak lagi tahu diri,
kerana rindu yang tiada batas
akan berubah menjadi lapar.
Maka laut pun mulai berolak,
pasang datang tanpa hitungan,
surut pergi tanpa isyarat.
Langit terasa sempit,
dan malam kehilangan arah.
Menyedari bahawa sinarnya mendatangkan bencana,
Dyah Candhrakala pun menarik terang itu ke dalam dirinya,
membiarkan malam berlalu tanpa cahaya.
Sejak itulah dunia mengenal kelam,
dan samudra kehilangan iramanya.
Melihat perkara itu,
para dewata pun berhimpun di puncak langit.
Mereka memandang laut yang tidak lagi patuh,
malam yang tidak lagi bertuan,
dan cahaya yang memilih bersembunyi.
Maka setelah bermusyawarah,
diutuslah Bathara Rahu,
yang dikenal sebagai penjaga tatanan dan peredaran.
Ia dititahkan bukan untuk berkasih,
melainkan untuk menegakkan keseimbangan.
Maka titah dewata kepadanya demikian bunyinya:
“Engkau kami utus untuk menjaga Dyah Candhrakala.
Bukan sebagai pendamping,
melainkan sebagai batas.
Pastikan terang tidak memakan bayang,
dan bayang tidak melahap terang.”
Maka Bathara Rahu pun turun ke lapis langit bawah
dengan hati yang teguh dan wajah yang tak mengenal ragu.
Ia berdiri di antara Candhrakala dan Buthakala,
laksana garis yang tidak boleh dilangkahi
oleh siapa pun yang hidup dalam tatanan.
Akan tetapi, Buthakala itu
menafsirkan penjagaan Rahu dengan pengertiannya sendiri.
Baginya, dijaga bererti dimiliki.
Dibatasi bererti dicemburui.
Dan ditolak bererti diuji.
Maka pada suatu malam,
tatkala Candhrakala...
oleh sebab belas kasihnya kepada dunia...
membuka kembali sinarnya sepenuh rupa,
datanglah Buthakala menutupinya.
Langit pun menggelap,
bukan kerana cahaya lenyap,
melainkan kerana cahaya tertudung bayang.
Samudra meraung,
dan angin berhenti beredar.
Peristiwa itulah yang kelak oleh insan
dinamai gerhana.
Maka pada saat itu,
Buthakala berseru dengan suara
yang menggetarkan cakrawala:
“Jika dewata tiada merestui kita bersatu,
mengapa rasa ini ditanamkan ke dalam sukma?
Jika aku tak boleh bersanding denganmu,
biarlah bumi hidup dalam kelam
tanpa cahayamu!”
Maka Bathara Rahu pun melangkah ke hadapan
dan bersabda dengan suara yang tenang,
namun tak dapat disangkal:
“Apakah itu cinta,
jika kehadiranmu membawa bencana?
Luka yang kautinggalkan bukanlah rindu,
melainkan kehancuran.
Maka aku menjaga sang pembawa cahaya
bukan kerana kasih,
melainkan kerana dunia memerlukannya.”
Maka Dyah Candhrakala pun berbicara,
dan tatkala ia berbicara,
samudra pun diam mendengarkan.
“Bukan dewata yang menanamkan cinta ke dalam sukmamu,”
ujar sang putri dengan suara lirih,
“melainkan takdir yang mengajarkan
bahawa tidak segala rasa dicipta untuk bersatu.
Cahaya dan bayangan harus ada.
Namun jika keduanya memaksa berpadu,
yang lahir hanyalah ketiadaan.
Ampunkanlah aku jika takdir mengubur kasihmu.
Namun ketahuilah...
pada tiap gerhana,
aku berharap engkau tetap mencintaiku,
tanpa meruntuhkan dunia.”
Mendengar itu,
Buthakala pun beringsut pergi,
namun tidak pernah benar-benar menjauh,
kerana rindu yang tidak diberi tempat
tidak mengenal akhir.
Maka begitulah Bathara Rahu mengatur terang setahap demi setahap.
Dan tersebutlah pada akhir kisah,
tatkala langit dan bumi telah mengenal iramanya masing-masing,
tiadalah lagi kekacauan yang mengoyak samudra,
dan tiadalah pula malam yang sepenuhnya kehilangan cahaya.
Namun tiada pula yang kembali seperti sediakala.
Sebab sejak hari pemisahan itu,
segala yang bercahaya tak lagi berani penuh,
dan segala yang membayang tak lagi berani mendekat tanpa izin.
Dyah Candhrakala tetap bersemayam di langit malam,
namun sinarnya kini mengenal batas.
Ada kalanya ia bulat sempurna,
ada kalanya ia terpotong sabit,
dan ada pula waktu ia menyembunyikan diri
seolah enggan dilihat oleh dunia.
Pada saat-saat itu,
bumi diselimuti kelam yang bukan petaka,
melainkan peringatan:
bahwa terang tidak selalu hadir sebagai hak,
melainkan sebagai amanah.
Adapun Buthakala,
ia tetap hidup di antara bayang dan waktu.
Tidak lagi ia berteriak pada langit,
tidak lagi ia menuntut takdir.
Namun rindunya tidak pernah benar-benar padam.
Maka pada malam-malam tertentu,
ketika rasa itu tak tertahankan,
ia mendekat ke jalur cahaya,
menutupnya sekejap,
bukan untuk memiliki,
melainkan untuk mengingat.
Dan dunia menyebut peristiwa itu sebagai gerhana,
tanpa tahu bahwa di baliknya
ada sukmā yang gemetar
menahan rasa yang tak boleh lagi tumbuh.
Adapun Bathara Rahu,
ia tetap berdiri di antara mereka,
menjadi penimbang yang tak berpihak,
menjadi garis yang tak boleh dilangkahi.
Ia tidak merayakan keteraturan,
dan tidak pula meratapi perpisahan.
Sebab ia tahu,
bahwa dunia ini hanya dapat berjalan
jika tiap rasa tunduk pada tempatnya.
Maka setiap kali gerhana terjadi,
Rahu hadir bukan sebagai penghukum,
melainkan sebagai penjaga janji lama:
bahwa cahaya dan bayang boleh saling rindu,
namun tidak boleh saling meniadakan.
Dan demikianlah asal-mula
bulan memiliki wajah yang berubah,
kadang penuh,
kadang separuh,
kadang hilang sesaat.
Bukan kerana ia mati,
bukan pula kerana ia dimakan sepenuhnya,
melainkan kerana cinta yang pernah ada
harus belajar berdiam
agar dunia dapat terus bernapas.
Maka orang-orang tua berkata,
jika kelak engkau menatap langit
dan melihat cahaya bulan meredup,
ingatlah kisah ini:
Bahwa tidak semua cinta ditakdirkan bersatu,
namun tidak pula semua cinta harus dilenyapkan.
Ada yang hanya boleh hidup sebagai jarak,
sebagai penantian,
sebagai malam yang sunyi
namun tetap bermakna.
Demikianlah babad ini diturunkan,
bukan untuk menakut-nakuti,
melainkan untuk mengingatkan:
Bahwa keseimbangan dunia
lebih rapuh daripada perasaan,
dan cinta sejati
kadang hanya dapat bertahan
dengan tidak pernah dimiliki.