Di sudut paling dalam Gang Cempaka Putih, di mana jalan aspal mulai berubah jadi tanah liat yang licin saat hujan, berdiri sebuah toko kopi tanpa nama. Hanya ada papan kayu kusam di depan pintu dengan tulisan tangan yang sudah pudar: “Kita sediakan apa yang kamu cari—bahkan yang tak kamu ketahui ada.” Toko itu milik dua bersaudari perempuan: Yvonne, kakak yang berumur dua puluh tujuh tahun dengan rambut pirang kusut yang selalu tertutup syal wol abu-abu, dan Haico, adiknya yang berusia dua puluh tahun dengan kuku hitam yang selalu tercat rapi dan mata yang bisa melihat apa yang tersembunyi di balik uap kopi.
Malam itu hujan mengguyur kota dengan derasnya, membuat lampu neon di jalan raya berkedip-kedip seperti nyala lilin yang akan padam. Yvonne sedang membersihkan gelas di belakang meja kasir, sambil menyanyi lagu kuno yang diajarkan oleh ibunya sebelum menghilang lima tahun lalu. Suara sendok kayu yang menyentuh dasar cangkir tiba-tiba terdengar dari sudut dalam toko—suara yang seharusnya tidak ada, karena terakhir pelanggan sudah pergi pukul sebelas malam.
“Coco?” panggil Yvonne dengan suara yang sedikit gemetar. “Kau masih membuat kopi?”
Tak ada jawaban. Cuma terdengar desisan uap yang keluar dari mesin espresso yang sudah seharusnya dimatikan. Yvonne menoleh perlahan, mata memfokuskan diri pada area itu. Di sana, Haico berdiri dengan wajah pucat seperti kain kasa, tangannya sedang menuangkan air panas ke dalam cangkir putih yang sudah berisi bubuk kopi hitam murni dari biji Liberica langka yang mereka simpan di lemari bawah tanah. Tapi yang membuat bulu roma Yvonne merinding adalah bentuk busa yang muncul di permukaan cairan hitam pekat itu—sebuah tengkorak dengan dua tulang bersilang di bawahnya, sama persis seperti yang terlihat di foto lama milik nenek mereka.
“Coco, apa yang kamu lakukan?” ujar Yvonne dengan langkah kecil mendekat.
Adiknya baru saja menoleh, matanya yang biasanya cerah kini penuh dengan titik-titik putih seperti embun beku. “Dia datang lagi, Kak,” ujar Haico dengan suara yang datar dan tak seperti dirinya. “Wanita dengan gaun merah tua. Dia bilang kita belum membayar utang nenek.”
Yvonne meraih bahu Haico dengan cepat, tapi tangan kakaknya terasa seperti menyentuh es batu. Saat dia melihat ke arah pintu toko yang tertutup rapat, dia melihat bayangan tipis dengan rambut panjang yang menggantung ke depan, berdiri tepat di luar kaca. Udara di dalam toko tiba-tiba menjadi sangat dingin, membuat uap dari cangkir kopi itu membeku sejenak sebelum menyebar ke udara.
“Kita sudah menghancurkan semua barang nenek yang berhubungan dengan itu,” bisik Yvonne, matanya tidak berani menjauh dari bayangan itu. “Kita janji tidak akan mengulangi kesalahan dia—menggunakan kopi untuk memanggil yang tak boleh dipanggil.”
Haico mengangkat cangkir kopi dengan tengkorak busanya, lalu menghadapkannya ke arah Yvonne. “Nenek bilang utang tidak bisa dibatalkan dengan hanya membuang barang. Dia bilang kita harus memberi apa yang dia minta—atau dia akan mengambilnya sendiri.”
Tiba-tiba, pintu toko terbuka dengan sendirinya, membawa angin sejuk yang bawa aroma kembang sepatu yang sudah basi. Wanita dengan gaun merah tua masuk, wajahnya tertutupi oleh rambut hitam yang lebat. Dia berjalan tanpa suara ke meja tengah, lalu duduk dengan anggun. Saat dia mengangkat kepalanya, Yvonne melihat bahwa wajah wanita itu tidak punya mata—hanya dua lubang hitam yang dalam, seperti lubang di dalam cangkir kopi hitam.
“Kopi hitam yang kamu sediakan hari ini tidak sama dengan yang dulu,” ujar wanita itu dengan suara seperti deru angin melalui celah-celah kayu. “Nenekmu membuat janji dengan saya—setiap generasi harus menyajikan cairan yang bisa menghubungkan dunia ini dengan yang lain. Kalian telah menghentikannya selama lima tahun. Sekarang, saya datang untuk mengambil bagian saya.”
Haico berjalan menuju meja itu, masih membawa cangkir kopi dengan busa tengkorak. Yvonne mencoba meraih tangannya, tapi kaki kakaknya seperti terpasang di lantai. Saat Haico menyajikan cangkir itu ke wanita, busa di permukaan kopi mulai bergerak sendiri—tengkoraknya mulai terbuka seperti sedang tersenyum, lalu keluar suara bisikan yang hanya bisa didengar oleh kedua bersaudari: “Sekarang giliran kalian untuk melanjutkan apa yang dia mulai…”
Wanita itu mengambil cangkir dan menyeduh kopinya dengan lambat. Saat dia menurunkan cangkir, busanya sudah hilang—digantikan oleh wajah kecil yang mengenali Yvonne dan Haico dengan jelas: wajah ibunya yang menghilang lima tahun lalu, dengan mata yang penuh air dan mulut yang sedang berkata sesuatu yang tak bisa mereka dengar.
Haico menangis dengan hebat, tapi tangannya tetap diam di sisi tubuhnya. Yvonne akhirnya bisa bergerak, berlari ke arah meja itu sambil berteriak nama ibunya. Tapi saat dia sampai di sana, wanita dengan gaun merah tua sudah hilang. Yang tersisa di atas meja hanya cangkir kosong dengan noda kopi hitam yang membentuk pola seperti peta jalan yang tidak pernah mereka kenal, dan selembar kertas kecil yang terpasang dengan jarum rajut:
“Besok malam, saya akan kembali. Sediakan biji kopi dari pohon di belakang rumah nenekmu. Jangan lupa—tanpa gula, tanpa susu. Hanya kopi hitam yang murni, seperti janji yang tak bisa diubah.”
Yvonne meraih kertas itu dengan tangan gemetar, lalu melihat ke arah Haico yang masih menangis sambil menatap cangkir kosong. Di luar, hujan mulai reda, tapi suara gemericik air di atap toko terdengar seperti deretan langkah kaki yang sedang mendekat—seolah-olah ada banyak orang yang akan datang ke toko kopi tanpa nama itu malam berikutnya, mencari cairan hitam mistik yang bisa menghubungkan mereka dengan apa yang mereka rindukan… atau apa yang akan menghantui mereka selamanya.