Nama itu panjang, asing di lidah kampung, tapi laris manis di papan reklame. "Valentine Aurelia van der Laan"—darah Indonesia bertubrukan dengan Belgia, cantik yang dijadikan komoditas dunia kapitalis, tubuh yang dijual atas nama kebebasan berekspresi dan seni untuk seni.
Ia tumbuh dengan tepuk tangan, lalu belajar bahwa tepuk tangan adalah bunyi kosong. Orang bertepuk bukan karena mengerti, tapi karena ingin dilihat sedang menyukai dan apresiasi terhadap seni.
Valentine tidak pernah sungguh hidup. Ia dipakai hidup.
Pernikahan pertamanya kala ia sweet seventeen adalah kontrak kekerasan.
Suaminya, Beno Stefano, sang aktor antagonis itu adalah antagonis di dunia nyata. ia memukul bukan karena benci—melainkan karena merasa berhak. Kata-kata lebih dulu menghantam, tangan menyusul. Setelah itu maaf. Selalu maaf. Maaf yang basi.
Beno lari ke pesta, ke pil, ke bubuk putih yang menjanjikan lupa.
Tidak ada yang benar-benar lupa. Yang ada hanya "penundaan kehancuran". Dan Valentine ikut terjerumus. Antara cinta dan benci, sayang tapi bodoh. Semua menjadi satu.
Tubuh cantiknya kurus, pikirannya gemetar. Tidurnya penuh jeritan yang tak keluar. Psikiater menyebutnya "trauma kompleks". Valentine menyebutnya "neraka yang menempel".
Ia memuntahkan obat. Ia muak pada penjelasan ilmiah yang dingin. Ia ingin alasan, bukan resep. Saat kekerasan itu didapatkan, maka pelariannya adalah obat-obatan itu.
---
Hari ketika semuanya runtuh, tidak ada kamera.
Ia dikunci di kamar apartemen—bukan oleh orang, tapi oleh "ketakutan". Jantungnya berlari tanpa tujuan. Napasnya patah-patah. Ia jatuh di lantai seperti barang rusak.
Di luar, dunia tetap berjalan.
Di dalam, Valentine mati berulang kali.
Ia memukul dinding. Darah keluar.
Tidak ada yang datang.
Dan untuk pertama kalinya, ia mengerti:
ketenaran tidak menyelamatkan siapa pun.
---
Ia mulai membaca apa saja. Buku-buku berat, tipis, apa pun yang tidak berisik. Di sela itu, ia bertemu "Islam"—bukan sebagai agama damai yang dipamerkan, tapi sebagai "disiplin batin" yang keras.
Ayat-ayatnya tidak membelainya. Ia merasa ditelanjangi.
Tentang nafsu. Tentang pertanggungjawaban. Tentang manusia yang hina bila tak tahu batas.
Valentine tersinggung. Lalu terpukul.
Dan karena sudah terlalu hancur, ia bertahan dalam labirin yang ingin ia lewati untuk menemukan satu hal : Cahaya. Setelah tiga tahun yang berat itu, akhirnya gugatan cerai adalah jalannya.
---
Pemuda itu datang sebagai "penjaga", bukan penakluk.
Namanya "Adam Musa Khasanov"—keturunan Chechnya, wajah tenang, tubuh seperti prajurit yang belajar menahan marah. Ia bukan ustaz. Ia tidak berkhotbah. Ia "hadir".
Adam diminta tinggal di kamar yang sama—menjaga, menemani, memastikan Valentine tidak menyakiti diri sendiri. Tidak ada sentuhan. Tidak ada rayuan. Ada jarak yang tegas, nyaris kejam.
“Kalau kau ingin hancur, lakukan sendiri,” katanya suatu malam.
“Aku di sini untuk memastikan kau tidak sendirian.”
Kalimat itu lebih keras dari pukulan.
Adam bangun sebelum subuh. Berwudu dengan air dingin. Salat tanpa pamer. Valentine mengamati dari sudut kamar—seorang lelaki yang menundukkan diri tanpa drama.
Ia cemburu.
Bukan pada Tuhan.
Pada "ketenangan".
---
Malam-malam panjang mereka diisi percakapan singkat.
Tentang perang di tanah leluhur Adam. Tentang kematian yang tidak punya waktu untuk drama. Tentang iman sebagai "keputusan", bukan perasaan.
Valentine gemetar. Bukan karena jatuh cinta.
Karena "takut pada kebenaran".
Ia sadar: selama ini ia menuntut kebebasan, tapi tidak pernah siap memikul akibatnya.
Ia menangis. Lama. Keras. Jelek.
Adam tidak memeluk.
Ia menunggu. Berharap segera Valentine menjawab maksud hatinya.
---
Hari Valentine mengucap syahadat, tidak ada musik.
Tidak ada unggahan.
Tidak ada busana putih.
Hanya suara yang parau, dan hati yang tidak lagi lari.
Ia tidak sembuh. Ia "berubah arah".
Trauma masih ada. Obat penenang resep dari dokternya, masih diminum. Luka masih bicara.
Tapi kini, setiap kali malam memerasnya, ia tahu ke mana harus menghadap.
Valentine Aurelia van der Laan—
perempuan yang dulu dijual sebagai mimpi,
kini memilih hidup sebagai "tanggung jawab".
Dan itu jauh lebih berat.
Tapi untuk pertama kalinya…
jujur.
---
Malam kembali mengintai Valentine.
Bukan sebagai kenangan—melainkan sebagai "ancaman".
Ia tahu mantan suaminya belum pergi. Bayangannya muncul di lorong parkir, di pantulan kaca lift, di dering telepon tanpa suara. Tidak memukul. Tidak berbicara. Justru itu yang paling kejam: "mengawasi".
Setiap langkah Valentine terasa diawasi. Setiap pintu ditutup dua kali. Tidurnya patah-patah. Jiwanya bergetar seperti binatang yang tahu pemburu belum lelah.
Trauma lama bangkit. Tubuhnya ingat lebih cepat daripada pikirannya.
Adam Musa Khasanov tidak banyak bertanya. Ia menambah kunci. Mengubah rute. Duduk di dekat pintu ketika malam terlalu panjang. Ia tidak berkata "kau aman". Ia berkata,
“Takut itu wajar. Tinggal di sini. Jangan lari.”
Suatu dini hari, suara langkah terdengar di luar.
Valentine membeku. Jantungnya menghantam rusuk. Dunia menyempit.
Ia ingin menjerit. Ia ingin kembali jadi siapa pun selain dirinya.
Tapi ia berdiri. Gemetar. Menghadap jendela yang gelap.
Untuk pertama kalinya—ia "tidak meminta dunia berhenti".
Ia berwudu dengan tangan yang tak stabil. Air dingin menampar kesadarannya. Ia berdiri, sujud, dan untuk pertama kalinya doanya bukan keluhan.
"Jika ini akhir, terimalah aku."
"Jika ini hidup, kuatkan aku."
Di luar, langkah itu pergi.
Seperti semua yang tak punya kuasa selain menakuti.
---
Pagi datang tanpa gegap gempita.
Valentine masih hidup.
Masih trauma.
Masih rapuh.
Tapi ia tahu sesuatu telah mati—
"ketakutan yang dulu memerintahnya".
Ia menatap cahaya tipis di sela tirai. Tidak silau. Tidak ajaib. Cukup.
Adam berdiri di ambang pintu. Tidak tersenyum. Tidak bangga. Hanya berkata,
“Kau bertahan.”
Valentine mengangguk. Air mata jatuh—bukan darah, bukan panik.
Air mata orang yang "tidak lagi sendirian".
Ia tahu masa depan tidak menjanjikan aman.
Tapi ia telah memilih arah.
Dan dalam sunyi itu, untuk pertama kalinya,
hidup tidak lagi mengejarnya—
ia berjalan "bersamanya".
---