Aku bukan perempuan jahat, begitu dulu aku meyakini diriku sendiri.
Aku hanya perempuan yang ditinggalkan di ruang tamu dengan dua cangkir kopi dingin—satu milikku, satu milik suami yang tak pernah kembali. Hari itu hujan, dan ponselnya menyala di atas meja. Nama Nilam berpendar seperti pisau kecil yang rapi, tapi tajam.
“Aku cuma teman,” katanya dulu.
Kata “teman” itu kini seperti lelucon kejam dari dunia mereka.
Aku ingat betul bagaimana rasanya menjadi korban. Dada seperti diperas perlahan. Harga diri retak tanpa suara. Orang-orang bilang aku kuat, sabar, dewasa. Mereka tak tahu setiap malam aku mengulang adegan yang sama di kepala—tangan suamiku yang kini bukan lagi milikku, tawa yang tak lagi pulang.
Nilam mencuri suamiku.
Tapi yang lebih kejam: ia mencuri keyakinanku pada dunia.
Aku bercerai. Aku hidup. Tapi jiwaku tinggal di hari pengkhianatan itu.
---
Lalu aku bertemu "dia".
Laki-laki itu tak istimewa. Bahkan terlalu biasa. Yang membuatku terpikat justru caranya menatapku—seolah aku perempuan yang masih pantas dipilih. Aku tahu ia sudah menikah. Aku tahu istrinya setia, polos, percaya.
Dan anehnya…
pengetahuan itu tidak menghentikanku.
“Aku tidak merebut,” bisikku pada cermin.
“Aku hanya mengisi celah.”
Ah, betapa liciknya kalimat itu.
Di dalam kepalaku, suara lain tertawa pelan:
Bukankah dulu Nilam juga hanya “mengisi celah” dalam rumah tanggamu, Bherna?
Aku menepisnya. Aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku berbeda. Aku terluka. Aku berhak. Dunia sudah mengambil terlalu banyak dariku.
Tapi setiap kali ia menggenggam tanganku, ada getar aneh—bukan bahagia, melainkan "pembuktian".
Aku ingin membuktikan bahwa aku masih diinginkan.
Bahwa aku belum habis.
---
Kadang, di malam paling sunyi, wajah perempuan itu muncul di benakku—istrinya. Aku tak mengenalnya, tapi aku tahu rasanya menjadi dia. Aku tahu bagaimana tubuhnya akan gemetar saat kebenaran datang. Aku tahu suara hatinya akan pecah menjadi ribuan serpih.
Dan justru di situlah sesuatu dalam diriku retak lebih jauh.
"Kenapa aku tetap melangkah?"
"Kenapa aku tidak berhenti?"
Jawabannya memalukan:
Karena aku tidak sedang membalas dendam pada Nilam.
Aku sedang membalas dendam pada "keadaan".
Pada hidup yang tak adil.
Pada cinta yang tak setia.
Pada diriku sendiri yang pernah terlalu percaya.
Aku ingin dunia merasakan kekacauan yang sama seperti yang kutelan sendirian.
---
Suatu pagi aku tersadar—bukan oleh tangisan, bukan oleh rasa bersalah, tapi oleh kekosongan. Aku berdiri di ambang jurang yang dulu kucaci. Aku telah berubah menjadi bayangan yang kubenci.
Aku bukan lagi korban murni.
Aku bukan pula penjahat sepenuhnya.
Aku adalah perempuan yang terlalu lama menyimpan luka sampai lupa cara sembuh, lalu memilih menularkannya.
Dan di sanalah aku akhirnya mengerti:
Lingkaran ini tidak dimulai oleh Nilam.
Dan tidak akan berhenti padaku—kecuali aku berani menghentikannya.
Tapi keberanian itu…
terasa lebih menakutkan daripada menjadi pelakor.
Aku terbangun dengan dada sesak, bukan karena rindu, tapi karena "takut".
Takut pada diriku sendiri.
Ponselku masih menyala. Namanya ada di sana. Pesan-pesan yang dulu membuatku merasa hidup, kini seperti noda. Aku memandangi cermin dan untuk pertama kalinya aku tidak mencari pembenaran.
Yang kulihat adalah perempuan dengan mata lelah—bukan karena disakiti, tapi karena "terlalu lama menyangkal".
“Apa bedanya aku dengan Nilam?”
Pertanyaan itu akhirnya berani kuucapkan.
Aku ingat diriku yang dulu: perempuan yang menangis di sajadah, bertanya kenapa Tuhan membiarkan rumah tangganya hancur. Aku ingat doaku yang lirih, bukan minta balas dendam—hanya minta kuat.
Lalu kapan aku berubah?
Kapan luka berubah menjadi izin untuk melukai?
---
Aku memutuskan pergi sendirian ke masjid kecil di ujung gang. Bukan karena alim. Bukan karena suci. Tapi karena aku kelelahan bersembunyi.
Sajadah itu dingin. Air mataku jatuh tanpa suara.
"Tuhan…"
"Aku bukan pelakor karena cinta."
"Aku pelakor karena marah."
Kalimat itu memukulku lebih keras dari tamparan mana pun.
Aku sadar: yang kukejar bukan laki-laki itu, melainkan "rasa berharga" yang dulu dicuri dariku. Aku menempelkan luka pada orang yang salah, berharap sembuh dengan cara yang rusak.
Padahal aku hanya sedang tersesat jauh dari diriku sendiri.
---
Pagi itu aku mengakhiri segalanya. Tanpa drama. Tanpa ceramah. Satu pesan pendek, jujur, dan getir:
“Aku berhenti. Bukan karena kamu salah, tapi karena aku sudah terlalu salah pada diriku sendiri.”
Tanganku gemetar. Tapi ada lega yang asing—seperti menghela napas setelah lama tenggelam.
Aku tahu hijrah bukan sulap. Trauma tidak lenyap dalam semalam. Dendam tidak langsung mati. Kadang masih berbisik, masih menggoda.
Tapi sekarang aku tahu arah pulang.
Aku belajar satu hal yang pahit tapi jujur:
menjadi korban bukan alasan untuk menjadi pelaku.
Dan hari itu, untuk pertama kalinya sejak lama, aku tidak ingin membalas dunia. Aku hanya ingin "berdamai".
Dengan masa lalu.
Dengan keadaan.
Dengan diriku sendiri.
Aku bukan perempuan tanpa dosa.
Tapi aku perempuan yang akhirnya memilih berhenti melukai.
Dan itu…
cukup untuk memulai hijrah.
---