Arif selalu datang lebih pagi dari bunyi bel pertama. Kadang bahkan sebelum matahari benar-benar selesai membuka matanya. Gerbang sekolah masih terkunci, halaman masih basah oleh sisa hujan malam, dan daun-daun ketapang jatuh seperti catatan kecil yang dibiarkan waktu. Ia membuka gembok pelan, seolah takut membangunkan bangunan tua itu dari tidurnya yang singkat.
Sekolah dasar negeri itu berdiri biasa saja. Tidak reyot, tidak pula terawat. Cat temboknya memudar, papan nama miring sedikit ke kiri, seakan ikut menunduk pada usia. Arif menyukainya karena bangunan itu tidak berpura-pura. Ia menerima dirinya apa adanya, seperti Arif menerima hidupnya tanpa banyak bertanya.
Ia menyapu kelas satu per satu. Bukan karena disuruh. Ia melakukannya karena jika lantai bersih, langkah-langkah kecil anak-anak terdengar lebih jelas. Ia menyukai bunyi sepatu murid yang datang berlari, tas yang dilempar sembarangan, dan suara bangku diseret. Semua itu membuatnya merasa diperlukan, meski hanya sebentar.
Di ruang guru, ia menyalakan komputer tua yang sering ngadat. Layar berkedip dua kali sebelum akhirnya menyala. Tangannya hafal tombol. Ia membuka data siswa, mengunggah laporan, memperbaiki kesalahan entri yang bukan ia buat. Di meja sebelah, kursi-kursi guru PNS masih kosong. Mereka akan datang setelah bel berbunyi. Tidak pernah lebih awal.
Arif mengajar enam mata pelajaran. Kadang tujuh. Jika ada guru izin, ia masuk. Jika ada rapat, ia menggantikan. Jika ada lomba, ia mendampingi. Jika ada komputer rusak, ia memperbaiki. Jika printer macet, ia dipanggil. Jika kepala sekolah lupa password, ia yang mengingat.
Gajinya tiga ratus ribu rupiah sebulan. Itu pun sering terlambat. Ia menghitungnya seperti menghitung hari tanpa hujan. Pelan. Berharap. Tidak menuntut.
Pagi itu, kepala sekolah masuk dengan tawa besar.
Wah, Arif sudah datang. Rajin betul. Honorer teladan ini.
Tawa menyebar di ruang guru.
Arif tersenyum.
Belum ada yang disapu, Pak.
Kepala sekolah menepuk pundaknya.
Makanya. Kalau bukan kamu, siapa lagi. Anak muda harus gesit.
Seorang guru senior menimpali sambil menuang kopi.
Pinter sih Arif. Sayang nasibnya kurang rajin cari jalan pintas.
Mereka tertawa lagi. Candaan yang terasa ringan bagi yang mengucap, berat bagi yang menampung. Arif tertawa kecil, seperti biasa. Ia sudah belajar, bahwa membantah hanya akan membuat lelucon berikutnya lebih tajam.
Di kelas empat, ia mengajar matematika. Anak-anak menyukainya karena Arif tidak pernah memarahi dengan suara keras. Ia menulis pelan di papan tulis, menunggu yang tertinggal, dan mengulang dengan cara berbeda.
Kalau angka ini kamu anggap teman, dia tidak akan mengejutkanmu, katanya suatu hari.
Seorang murid bertanya, Pak, kenapa Bapak tidak punya motor baru seperti guru lain.
Arif tersenyum.
Karena motorku masih mau berjalan.
Anak itu tertawa, puas dengan jawaban yang tidak berbohong tapi juga tidak membuka luka.
Siang hari, Arif makan nasi dengan tempe goreng di kantin. Ia duduk di pojok, membuka buku catatan lusuh. Di sana ada jadwal kuliah lama yang sudah tidak relevan. Ia lulus S1 dengan cara yang membuatnya tidak ingin bercerita. Beasiswa yang putus-nyambung. Kerja sambilan yang menguras tenaga. Malam-malam panjang menatap buku sambil menahan lapar. Ia lulus bukan karena hebat, tapi karena bertahan.
Ia yatim piatu sejak SMA. Rumah kontrakan kecilnya sunyi, tapi tidak pernah sepi dari pikiran. Dindingnya tipis, suara tetangga mudah masuk. Kadang ia mendengar tawa keluarga lain, dan ia belajar menutup telinga tanpa menutup hati.
Sore itu, bendahara sekolah memanggilnya.
Arif, tolong rekap tabungan siswa ya. Besok mau dicek.
Ia mengangguk.
Siap, Bu.
Di ruang tata usaha, kotak besi kecil itu tergeletak di lemari. Isinya uang receh dan lembaran lusuh. Tabungan anak-anak. Arif membukanya untuk menghitung. Tangannya rapi. Angkanya akurat. Ia mencatat dengan teliti, seperti mencatat hidup orang lain yang sedang menabung masa depan.
Di antara hitungan, perutnya berbunyi. Ia menutup kotak. Menarik napas. Ia tahu batas. Ia selalu tahu.
Malamnya, listrik di rumah kontrakan padam. Ia menatap meteran dengan sisa cahaya ponsel. Pesan peringatan sudah datang dua kali. Ia duduk di lantai, memakan sisa nasi dingin. Hujan turun, mengetuk atap seng seperti pertanyaan yang tak sabar.
Ia membuka buku catatan lama. Di halaman pertama, ada tulisan tangannya sendiri, bertahun lalu. Hidup tidak harus menang. Cukup tidak menyerah.
Keesokan harinya, di sekolah, kepala sekolah kembali bercanda.
Arif, kamu ini sekolah paling butuh. Kalau kamu pergi, repot kita.
Guru senior menyahut.
Iya, tapi jangan keburu minta naik gaji. Kita ini negara berkembang, katanya sambil tertawa.
Arif menjawab pelan.
Saya tidak minta apa-apa, Pak.
Kepala sekolah mengangkat alis.
Nah, itu baru honorer sejati.
Kalimat itu menempel di dada Arif seperti debu yang sulit disapu. Ia masuk kelas, mengajar dengan suara sedikit lebih pelan. Anak-anak tidak tahu. Mereka hanya tahu Arif tetap sabar.
Sore hari, ia kembali ke ruang tata usaha. Ia menghitung ulang tabungan. Angkanya sama. Tidak ada yang berubah. Ia menutup kotak besi. Menguncinya. Menaruh kembali ke lemari. Tangannya berhenti sejenak di gagang lemari. Ia menghela napas panjang. Seperti orang yang berdiri di tepi sesuatu yang belum bernama.
Malam itu, ia berjalan pulang lebih lambat. Lampu jalan redup. Langkahnya menyentuh aspal dengan ragu. Di rumah, ia menyalakan lilin. Bayangan tubuhnya di dinding tampak lebih besar dari aslinya. Ia duduk, menatap tangan sendiri.
Ia berpikir tentang kecerdasan yang sering dipuji tapi jarang ditanya kebutuhannya. Tentang kerja yang disebut pengabdian tapi lupa memberi makan. Tentang doa yang ia ucapkan pelan, bukan untuk kaya, hanya untuk cukup.
Di luar, hujan berhenti. Sunyi datang, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai cermin. Arif menutup mata. Untuk pertama kalinya, ia tidak menenangkan dirinya. Ia membiarkan lelah itu ada.
Dan di suatu tempat yang belum ia kenali, sebuah keputusan kecil mulai belajar bernapas.
---
Bel berbunyi dua kali pagi itu. Arif sudah berada di kelas sejak sebelum bunyi pertama. Anak-anak masuk sambil berisik, membawa bau matahari dan tanah. Ia mengajar seperti biasa, menulis di papan tulis dengan kapur yang semakin pendek, seakan ikut menipis bersama kesabarannya.
Di tengah pelajaran, pintu kelas terbuka. Kepala sekolah berdiri di sana, tersenyum lebar.
Arif, habis ini ke ruang guru ya. Ada rapat kecil.
Kata kecil sering berarti panjang.
Di ruang guru, kursi disusun melingkar. Guru PNS senior duduk bersandar, kopi di tangan, ponsel di meja. Arif berdiri sebentar sebelum akhirnya duduk di kursi paling pinggir. Ia terbiasa memilih tempat yang tidak mengganggu.
Kepala sekolah membuka pembicaraan dengan nada santai.
Sekolah kita mau akreditasi ulang. Banyak data yang harus dibereskan. Arif, kamu kan operator, paham lah.
Arif mengangguk.
Siap, Pak.
Guru senior yang rambutnya mulai memutih tertawa kecil.
Operator tapi gaji honorer. Ini namanya pengabdian tingkat tinggi.
Yang lain menyahut.
Pahala besar itu, Rif. Nanti di akhirat dapat kompensasi.
Tawa kembali pecah. Arif tersenyum tipis. Ia tahu, jika ia tidak ikut tertawa, ia akan dicap tidak bisa bercanda. Jika ia tertawa, ia mengkhianati dirinya sendiri. Maka ia memilih senyum yang netral, seperti lantai sekolah yang disapu tiap pagi.
Kepala sekolah melanjutkan.
Pokoknya kamu yang bereskan. Kalau lembur, ya wajar. Anak muda kan tenaganya masih banyak.
Arif memberanikan diri bicara.
Pak, kalau boleh, soal honor bulan lalu…
Kalimatnya menggantung. Kepala sekolah mengangkat tangan.
Sabar, Rif. Kita ini keluarga. Masa sama keluarga hitung-hitungan.
Kata keluarga itu terasa asing. Arif tidak punya keluarga. Ia tidak tahu harus mengukur kata itu dengan apa.
Hari-hari berikutnya berlalu lebih berat. Arif datang lebih pagi, pulang lebih malam. Ia mengajar, mengisi data, mengoreksi, memperbaiki jaringan internet sekolah yang sering mati. Ia tidur dengan laptop di sampingnya. Bangun dengan pesan baru dari grup sekolah.
Arif, data kelas lima belum masuk.
Arif, printer macet.
Arif, tolong gantikan Pak Danu hari ini.
Arif, kenapa laporan ini telat.
Tidak ada satu pun pesan yang bertanya apakah ia sudah makan.
Suatu siang, seorang guru senior mendekatinya di ruang tata usaha.
Rif, kamu ini pintar. Harusnya bisa cari jalan. Masa hidup segini-gini aja.
Arif menjawab pelan.
Saya sudah berusaha, Pak.
Guru itu tertawa.
Berusaha mah semua orang bilang begitu. Kamu kurang nekat.
Kata nekat itu menggantung lama. Arif tidak tahu harus menaruhnya di mana.
Sore hari, ia duduk sendirian di ruang kelas kosong. Cahaya matahari masuk lewat jendela, jatuh di bangku-bangku kecil. Ia membayangkan dirinya duduk di sana dulu, sebagai murid. Ia mencoba mengingat apakah ada guru yang bertanya tentang rumahnya. Tentang makannya. Tentang tidurnya.
Ia tidak ingat.
Malamnya, Arif pulang ke rumah kontrakan dengan langkah berat. Ia membuka pintu, menyalakan lampu yang redup. Sebuah surat terlipat di lantai. Pemberitahuan terakhir. Ia duduk lama memegang kertas itu, seperti memegang vonis yang tidak pernah ia minta.
Ia berbicara pada dirinya sendiri dengan suara pelan.
Sebentar lagi. Sedikit lagi. Nanti juga beres.
Ia sering berkata begitu. Kata nanti menjadi doa yang paling sering ia ucapkan.
Keesokan harinya, di sekolah, bendahara kembali memanggilnya.
Arif, tolong hitung ulang tabungan siswa ya. Ada selisih kecil kemarin.
Ia mengangguk.
Siap, Bu.
Kotak besi itu kembali terbuka di hadapannya. Uang-uang kecil tersusun tidak rapi. Nama-nama anak tertera di buku. Setiap nama seperti wajah yang ia kenal. Ia menghitung pelan. Angkanya cocok. Tidak ada yang salah.
Ia menutup kotak. Tangannya berhenti lebih lama dari biasanya. Ia menarik napas. Melepaskan. Mengunci.
Di ruang guru, kepala sekolah kembali bercanda.
Arif ini aset sekolah. Murah, banyak fungsi.
Tawa kembali terdengar. Kali ini, Arif tidak ikut tertawa. Ia menunduk, menatap lantai.
Seorang murid perempuan menghampirinya setelah pulang sekolah.
Pak Arif, ibu saya bilang terima kasih. Nilai saya naik.
Arif tersenyum tulus.
Yang rajin ya. Jangan takut sama angka.
Murid itu pergi sambil melambaikan tangan. Arif menatap punggung kecil itu sampai hilang di tikungan koridor. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya. Sesuatu yang membuatnya bertahan sejauh ini.
Malam kembali datang. Arif duduk di lantai, mematikan lampu untuk menghemat listrik. Ia membuka buku catatan. Menulis tanpa tujuan. Tentang hari yang terasa panjang. Tentang kalimat-kalimat yang menusuk tanpa darah. Tentang kecerdasan yang seperti pisau bermata dua.
Ia menulis satu kalimat dan berhenti lama setelahnya.
Jika aku pergi, apakah ada yang mencari.
Di luar, suara motor lewat. Hidup orang lain terasa berjalan normal. Arif menutup buku. Berbaring. Menatap langit-langit yang gelap. Ia tidak menangis. Ia hanya merasa kosong, dan kekosongan itu terasa berbahaya.
Di suatu sudut pikirannya, kotak besi kecil itu muncul lagi. Tidak sebagai benda, melainkan sebagai kemungkinan. Ia mengusir bayangan itu. Berkali-kali. Sampai ia lelah.
Dan di kelelahan itulah, sebuah garis tipis mulai retak.
Bukan karena ia ingin jahat.
Melainkan karena ia terlalu lama sendirian di persimpangan.
---
Arif jarang bermimpi. Tidurnya selalu dangkal, seperti orang yang takut terperosok terlalu jauh ke dalam dirinya sendiri. Tapi malam itu, mimpi datang tanpa izin.
Ia berdiri di depan rumah kayu yang dulu ia sebut rumah. Pintu setengah terbuka. Bau kayu basah dan tanah lama menyambutnya. Ia memanggil pelan, tapi tidak ada jawaban. Di dalam, kursi tua kosong. Jam dinding berdetak terlalu keras. Dan di dinding, foto ayah-ibunya tergantung miring—seakan hendak jatuh, tapi menahan diri.
Arif terbangun dengan dada sesak.
Ia duduk di tepi kasur, menatap gelap. Nafasnya pendek. Ia mengusap wajah, seperti ingin menghapus sesuatu yang menempel di sana sejak lama. Jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi. Waktu yang sering dipakai orang untuk berdoa atau menyesali hidupnya.
Ia bangkit, mengambil air, minum perlahan. Lalu duduk bersila di lantai. Ia tidak tahu doa apa yang harus dibaca. Kata-kata sering terasa gagal menjelaskan apa yang ia rasakan. Maka ia diam saja. Diam yang panjang. Diam yang penuh.
Ayahnya meninggal ketika Arif kelas dua SMP. Ibunya menyusul setahun kemudian. Sejak itu, hidup Arif seperti buku tanpa sampul—isinya ada, tapi tidak ada yang merasa wajib membacanya.
Ia tinggal berpindah-pindah. Dari rumah paman ke rumah bibi. Dari satu kebaikan ke kebaikan lain yang selalu disertai kalimat, *“Kami bantu sebisanya ya.”* Kalimat itu terdengar baik, tapi selalu menyimpan batas.
Arif belajar cepat. Bukan karena ambisi, tapi karena takut. Ia tahu, satu-satunya cara agar ia tidak dianggap beban adalah dengan menjadi “anak pintar”. Nilai rapor menjadi alat tawarnya. Ia menukar kesepian dengan prestasi.
Kuliah S1 ia jalani seperti berjalan di jembatan rapuh. Beasiswa datang dan pergi. Ia bekerja sambilan apa saja: jaga warnet, mengajar les, mengetik skripsi orang lain dengan bayaran murah. Ia sering lapar, tapi tidak pernah mencuri. Bukan karena ia tidak punya kesempatan, melainkan karena ia masih punya ibu di ingatannya—ibu yang selalu berkata, *“Miskin itu boleh, Nak. Tapi jangan sampai hina.”*
Kalimat itu menempel di kepalanya seperti mantra.
Pagi hari, Arif kembali ke sekolah dengan mata sembab tapi langkah tetap rapi. Ia mengajar matematika. Angka-angka di papan tulis tersusun sempurna. Dunia terlihat sederhana di sana. Dua tambah dua selalu empat. Tidak ada ambiguitas.
Seorang murid bertanya,
Pak, kalau salah terus gimana?
Arif menjawab sambil tersenyum.
Kalau salah, berarti kamu sedang belajar. Yang bahaya itu kalau menyerah.
Kalimat itu membuatnya terdiam sesaat. Ia seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Di jam istirahat, Arif duduk di bangku belakang sekolah. Angin menggerakkan daun mangga. Ia membuka ponsel tua, membaca pesan dari nomor tak dikenal. “Tunggakan kontrakan bulan ini mohon segera dilunasi.”
Ia menutup layar. Menyimpan ponsel. Menatap langit yang terlalu biru untuk suasana hatinya.
Sore itu, ia dipanggil lagi ke ruang kepala sekolah.
Rif, kamu ini sebenarnya bisa jadi guru PNS kalau mau ngurus. Tapi ya… perlu biaya lah. Kamu paham.
Arif mengangguk pelan.
Saya paham, Pak.
Kepala sekolah menepuk bahunya.
Sabar ya. Rezeki itu berputar.
Arif keluar ruangan dengan perasaan aneh. Kata rezeki terasa seperti barang yang selalu lewat di depannya, tapi tak pernah berhenti.
Malamnya, Arif duduk di mushola kecil dekat kontrakan. Ia sendirian. Lampu putih menggantung rendah. Ia menempelkan dahi ke sajadah. Tidak ada air mata. Hanya kelelahan yang menumpuk.
Ia berbisik, hampir tanpa suara.
Tuhan, kalau aku salah nanti… apakah Kau masih mau mendengarku?
Pertanyaan itu menggantung. Tidak ada jawaban. Tapi keheningan itu justru terasa berat.
Hari-hari berikutnya berjalan semakin sempit. Harga kebutuhan naik. Honor tak kunjung turun. Candaan di sekolah makin kasar.
Honorer jangan banyak gaya.
Masih untung bisa ngajar.
Kalau gak kuat, ya mundur.
Arif mendengar semuanya. Ia menyimpannya di tempat yang sama: di dada, tepat di bawah tulang rusuk, tempat sakit yang tidak terlihat.
Suatu sore, bendahara kembali menyerahkan kunci kecil itu.
Tolong simpan di lemari ya, Rif. Saya pulang duluan.
Arif mengangguk. Ia memegang kunci itu lebih lama dari biasanya. Beratnya terasa berbeda. Seperti memegang sesuatu yang bukan sekadar logam.
Ia berjalan ke ruang tata usaha. Sendirian. Lampu sebagian mati. Lemari besi berdiri di sudut. Arif membuka pintu. Kotak tabungan itu ada di sana. Tenang. Diam.
Ia menutup pintu lemari. Mengunci. Memasukkan kunci ke saku.
Tangannya gemetar. Ia duduk di kursi. Menutup mata.
Dalam kepalanya, suara ibunya muncul.
Jangan hina, Nak.
Lalu suara lain menyusul.
Kalau kamu mati di kontrakan itu, siapa yang peduli?
Arif membuka mata. Nafasnya cepat. Ia menunduk. Tangannya mengepal. Ia belum melakukan apa-apa. Tapi sesuatu di dalam dirinya telah bergeser.
Ia berdiri. Mematikan lampu. Mengunci ruangan. Berjalan pulang dengan langkah yang tidak lagi sepenuhnya miliknya.
Di malam yang sunyi itu, Arif menyadari satu hal yang membuatnya takut:
bahwa manusia tidak jatuh ke jurang dengan melompat—
melainkan dengan alasan yang terdengar masuk akal.
---
Malam itu hujan turun tanpa suara petir. Airnya jatuh lurus, sabar, seperti tahu ke mana ia harus sampai. Arif duduk di lantai kontrakan, lampu mati, hanya cahaya ponsel menerangi wajahnya yang pucat. Di depannya tergeletak kunci kecil itu. Kunci yang sudah berhari-hari ia simpan tanpa ia sadari sering ia usap, seperti orang mengusap rosario atau tasbih.
Ia membuka saku. Mengeluarkan amplop lusuh berisi tagihan: kontrakan, listrik, utang warung, dan satu lembar kertas dari kampus lama—pengingat cicilan wisuda yang tak pernah terbayar. Hidupnya seperti daftar tunggu yang tak kunjung dipanggil.
Ia berdiri. Mengenakan jaket. Langkahnya pelan, hampir ragu. Di luar, hujan menyambutnya tanpa tanya.
Di sekolah, suasana gelap. Hanya satu lampu menyala di ruang tata usaha. Arif menyalakannya lebih terang. Suara dengung listrik terdengar asing. Ia membuka lemari besi. Kotak tabungan siswa itu ada di sana. Ia membukanya perlahan.
Di dalamnya, ada amplop-amplop kecil bertuliskan nama. Tulisan tangan yang miring. Nama anak-anak yang ia ajar. Anak-anak yang ia tahu sarapan apa, yang sepatu bolongnya ia perhatikan tapi tak pernah ia sebutkan.
Tangannya gemetar.
Ia mengambil satu amplop. Membacanya. Menaruh kembali. Mengambil yang lain. Lalu berhenti.
Aku cuma pinjam, katanya dalam hati.
Nanti aku ganti.
Kalimat itu terdengar rapi. Masuk akal. Dan itulah yang paling menakutkan.
Ia mengambil sebagian. Tidak banyak. Cukup untuk bertahan. Ia menutup kotak itu kembali. Mengunci lemari. Duduk di kursi terlalu lama. Kepalanya tertunduk.
Ia tidak merasa menang. Ia juga tidak merasa kalah. Yang ia rasakan hanya kosong—seperti seseorang yang baru saja menutup pintu rumah masa kecilnya untuk terakhir kali.
Keesokan paginya, kabar itu pecah pelan-pelan. Bukan seperti ledakan, tapi seperti retakan kaca. Bendahara kebingungan. Kepala sekolah memanggil rapat. Guru-guru berbisik. Nama Arif disebut tanpa suara keras, tapi cukup jelas.
Arif tidak datang ke sekolah.
Ia sudah berada di terminal sejak subuh. Tas ransel kecil di punggungnya. Tidak ada yang berat di sana—kecuali rasa bersalah yang tidak muat ditinggalkan. Ia membeli tiket kapal ke luar pulau. Tujuan acak. Yang penting jauh.
Di bangku terminal, seorang ibu tua duduk di sebelahnya.
Mau ke mana, Nak?
Arif tersenyum tipis.
Ke mana saja yang tidak mengenal saya.
Ibu itu tertawa kecil, lalu berkata pelan.
Kadang kita pergi bukan untuk lari, tapi untuk bernapas.
Arif mengangguk. Kata itu masuk terlalu dalam.
Di atas kapal, laut terbentang luas. Arif berdiri di dek, memejamkan mata. Angin membawa bau asin. Ia teringat ibunya. Teringat suara yang dulu menuntunnya tidur.
Miskin itu boleh, Nak. Tapi jangan sampai hina.
Air mata akhirnya jatuh. Tidak meledak. Hanya satu, lalu menyusul yang lain. Ia tidak mengusapnya. Ia biarkan laut melihatnya kalah.
Bulan-bulan berlalu. Arif bekerja serabutan di kota kecil pesisir. Mengajar anak nelayan membaca dan berhitung. Ia tidak memakai nama lengkapnya. Ia hidup sederhana. Ia menabung, sedikit demi sedikit.
Suatu hari, ia mengirim amplop ke alamat sekolah lama. Isinya uang. Tidak utuh. Tidak sempurna. Tapi disertai secarik kertas tanpa nama.
Uang ini belum cukup. Tapi niat ini sungguh.
Ia tahu, ia mungkin tidak akan dimaafkan. Dan mungkin itu adil. Tapi ia belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan di kampus atau rapat sekolah:
bahwa orang baik bisa jatuh bukan karena ia jahat,
melainkan karena ia sendirian terlalu lama.
Di senja yang tenang, Arif duduk di tepi pantai. Anak-anak mengaji pelan di surau kecil. Ia menatap matahari tenggelam. Tidak ada janji bahagia. Tidak ada pengampunan instan.
Hanya hidup yang terus berjalan.
Dan Arif, dengan semua salahnya, memilih tetap berjalan juga—
pelan, lirih,
mencoba jujur pada hari esok,
meski hari kemarin tak bisa dihapus.
---