Namaku Senja, seorang penulis novel roman yang selalu gagal dalam urusan cinta. Aku lebih suka menciptakan kisah cinta yang indah daripada menjalaninya sendiri. Suatu sore, saat menatap senja dari balik jendela apartemenku, aku melihat seorang pria di taman seberang. Dia tampak sedang membaca buku, dengan rambut yang sedikit berantakan tertiup angin. Entah mengapa, aku merasa tertarik padanya.
Hari-hari berikutnya, aku selalu memperhatikan pria itu. Aku jadi tahu dia sering datang ke taman pada jam yang sama, selalu membaca buku yang berbeda. Aku mulai berfantasi tentangnya, membayangkan kami bertemu dan jatuh cinta seperti di novel-novelku.
Suatu hari, aku memberanikan diri untuk menghampirinya. "Hai," sapaku gugup. "Aku Senja."
Pria itu tersenyum. "Aku Aksara," jawabnya. "Aku tahu kamu. Kamu sering memperhatikanku dari jendela apartemenmu, kan?"
Aku terkejut. "Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Aku juga seorang penulis," kata Aksara. "Aku sedang mencari inspirasi untuk novelku. Dan kamu, Senja, adalah inspirasiku."
Kami mulai sering bertemu di taman. Aksara menceritakan tentang novelnya, dan aku menceritakan tentang novelku. Kami saling bertukar pikiran dan memberikan saran. Aku merasa semakin dekat dengannya.
Suatu malam, Aksara mengajakku makan malam di sebuah restoran romantis. Setelah makan malam, dia menggenggam tanganku dan menatapku dalam-dalam. "Senja," katanya, "aku jatuh cinta padamu."
Aku terkejut. Aku juga merasakan hal yang sama, tapi aku takut untuk mengakuinya. Aku takut jika cinta ini hanya akan menjadi seperti kisah-kisah cinta di novelku yang selalu berakhir dengan kesedihan.
"Aku juga mencintaimu, Aksara," jawabku akhirnya.
Kami berciuman di bawah bintang-bintang. Aku merasa seperti mimpi. Akhirnya, aku menemukan cinta yang selama ini aku cari.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Suatu hari, Aksara menghilang tanpa jejak. Aku mencarinya ke mana-mana, tapi tidak ada yang tahu keberadaannya. Aku merasa hancur.
Beberapa bulan kemudian, aku menerima sebuah paket dari penerbit. Di dalamnya terdapat novel karya Aksara. Aku membacanya dengan air mata berlinang. Novel itu menceritakan tentang seorang pria yang jatuh cinta pada seorang wanita yang dilihatnya dari jendela apartemen. Namun, pria itu ternyata menderita penyakit parah dan tidak ingin membuat wanita itu sedih. Jadi, dia memutuskan untuk menghilang.
Di akhir novel, Aksara menulis, "Senja, jika kamu membaca ini, ketahuilah bahwa aku selalu mencintaimu. Aku harap kamu bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri."
Aku menangis tersedu-sedu. Aku baru menyadari bahwa cinta tidak selalu berakhir bahagia seperti di novel-novelku. Kadang-kadang, cinta bisa berakhir dengan kesedihan dan kehilangan. Tapi, aku tidak akan pernah menyesal telah mencintai Aksara. Karena dia telah memberikan warna dalam hidupku.
Aksara ternyata sengaja menciptakan cerita tentang dirinya sakit parah sebagai bagian dari novelnya, dan menghilang untuk melihat bagaimana Senja akan bereaksi. Dia ingin tahu apakah Senja benar-benar mencintainya atau hanya mencintai karakter yang dia ciptakan.