Larasati hanyalah noktah kecil di balik gemerlap lampu panggung. Sebagai asisten pribadi selebriti, ia hafal bagaimana bedak tebal menyembunyikan memar, dan tawa palsu menutupi isak. Namun, di hotel bintang lima itu—sebuah monumen keserakahan yang menjulang ke langit—takdirnya dipelintir.
Kamera pengintai, laksana mata dajjal yang tak pernah berkedip, menangkap sosoknya keluar dari kamar Arkananta Sudibya. Arkan adalah Gubernur muda dengan senyum semanis madu, pria yang di mimbar-mimbar bicara tentang moralitas seolah ia sendiri yang menulis kitab suci. Ia adalah "Family Man" kesayangan kamera.
Keesokan harinya, wajah melankolis Larasati menjadi santapan empuk di meja makan seluruh negeri. Ia dituduh sebagai pelakor nasional. Ribuan jempol yang jemawa mengetik kutukan, seolah mereka adalah malaikat tanpa celah.
“Di negeri ini,” batin Laras perih, “fitnah adalah sarapan pagi dan kebenaran adalah barang antik yang disimpan di gudang.”
Publik tak tahu, malam itu Laras bukan menggoda sang pejabat. Ia justru sedang memungut sisa-sisa harga diri Arkan yang hampir lumat karena jebakan skandal lawan politiknya. Namun, pahlawan tak pernah mendapat panggung jika ia hanya seorang asisten.
Demi menyelamatkan "tahta" dan "kata-kata manis" di depan konstituen, Arkan mengambil langkah paling pengecut. Ia tidak membela Laras; ia menguburnya hidup-hidup.
"Menikahlah denganku secara siri. Berhenti bekerja, masuklah ke rumah yang sudah kusiapkan. Akan kujamin gaya hidupmu, tapi tutup mulutmu!" ancam Arkan. Suaranya dingin, serupa es yang membeku di dasar neraka, jauh berbeda dari suaranya yang hangat saat berpidato tentang kesejahteraan rakyat.
Berita skandal itu lenyap dalam semalam. Para kuli tinta dan pendengung bayaran telah kenyang disuapi uang tutup mulut. Laras menjadi simpanan dalam balutan nikah siri—sebuah status yang hanya ada di antara bayang-bayang. Di rumah mewah itu, ia hanyalah "tempat pelepasan" bagi seorang pria yang lelah bersandiwara sebagai orang suci di televisi.
Dua tahun berlalu. Laras melahirkan Bumi Mahardika. Nama yang agung untuk seorang bayi yang bahkan tidak diizinkan memiliki nama ayah di akta kelahirannya. Mata Bumi adalah cerminan Arkan—tajam dan berwibawa—sebuah warisan genetik yang tak bisa dibantah oleh hukum mana pun.
Setiap malam, Laras meremas mimpi-mimpinya. Ia melihat Arkan di layar kaca, meresmikan gedung dengan memotong pita bersama istri sahnya yang elegan. Mereka tersenyum seolah dunia ini adalah milik mereka sendiri. Sementara itu, di sudut kamar yang sunyi, Bumi sedang menggigil demam, memanggil "Papa" pada dinding yang bisu.
“Ada dosa yang tidak bisa dibasuh oleh doa sesingkat pidato kampanye,” bisik Laras dalam isaknya.
Arkan mengira Laras adalah tanah yang bisa diinjak sesukanya. Ia lupa, Laras tumbuh di kehidupan yang penuh tipu daya. Sejak malam pertama skandal itu, Laras telah menyimpan rekaman suara—sebuah pengakuan di mana Arkan memohon menjadikannya istri simpanan.
Kejutan datang saat istri sah Arkan menemuinya. Tidak ada jambakan. Tidak ada makian. Hanya ada dua wanita yang hancur oleh pria yang sama. "Bantu aku menjatuhkannya! Dia tidak hanya mengkhianatimu, Laras. Dia mengkhianati aku, anak-anakku, dan seluruh negeri yang dia rampok dananya," ucap sang istri sah dengan air mata yang lebih jujur dari sumpah jabatan suaminya.
Laras muncul di depan kilatan kamera. Kali ini bukan sebagai pelakor yang tertunduk, tapi sebagai saksi kunci. Ia tidak menuntut pengakuan sebagai istri. Ia membongkar borok yang lebih besar: korupsi dana bansos provinsi yang digunakan Arkan untuk membiayai kemewahan semu mereka.
Arkan murka. Ponsel Laras bergetar oleh ancaman. "Apa-apaan kamu? Tak cukup semua harta yang kuberi? Kau malah memperkeruh masalah dan situasi!"
Laras menjawab dengan ketenangan seorang ibu yang telah kehilangan segalanya. “Miliaran rupiah tak bisa membeli identitas anakku, Arkan! Bumi butuh pengakuan, bukan sekadar KK dan akta yang kau sembunyikan. Kami lelah menjadi rahasia yang membusuk!”
Ponsel mahal di seberang sana dibanting. Laras menangis, menjerit sepuasnya. Ia hampir gila, tapi ia tidak sendiri.
“Tenang, Laras. Kau aman sekarang,” ujar sebuah suara misterius di balik ponsel lainnya.
Laras mengangguk. Inilah rahasia terdalamnya: Sejak awal, ia adalah mata-mata yang dikirim oleh pihak oposisi untuk menghancurkan Arkan dari dalam. Rasa sakitnya nyata, Bumi adalah darah dagingnya yang nyata, tapi misi ini jauh lebih besar dari sekadar cinta. Arkan jatuh ke lubang yang ia gali sendiri dengan nafsu dan kesombongannya.
Laras pergi membawa Bumi menuju ufuk yang baru. Ia membawa kekayaan dari "upahnya" sebagai mata-mata dan simpanan, sebuah modal untuk menebus masa depan Bumi. Ia meninggalkan Arkan yang kini harus belajar bicara pada dinding penjara—satu-satunya tempat di mana sang Gubernur tak perlu lagi bersandiwara.