Di dunia Aethelgard, alam semesta tidak terbagi oleh benua atau lautan, melainkan oleh garis cakrawala yang disebut Meridian.
Di satu sisi adalah Solaris, kerajaan cahaya abadi di mana matahari tidak pernah tidur, bangunan terbuat dari kristal yang membiaskan pelangi, dan penduduknya—kaum Lumin—memiliki kulit yang bersinar keemasan dengan darah yang panas seperti magma.
Di sisi lain adalah Umbra, kerajaan malam abadi. Di sana, langit adalah kanvas beludru hitam yang dihiasi ribuan rasi bintang diam. Penduduknya—kaum Noctis—memiliki kulit seputih pualam dingin, mata sekelam obsidian, dan kemampuan untuk melarutkan diri ke dalam bayangan.
Hukum alam Aethelgard mutlak: Cahaya tidak boleh menyentuh Kegelapan tanpa perantara, atau kiamat kecil akan terjadi. Ledakan energi yang mampu menghancurkan segalanya. Karena itulah, Meridian dijaga ketat, sebuah zona abu-abu berkabut tempat kedua dunia bertemu namun tak pernah bersatu.
Elara adalah seorang penenun cahaya. Tugasnya setiap "pagi" (sebuah konsep waktu yang ambigu di Solaris) adalah memintal benang-benang sinar matahari menjadi jubah pelindung bagi para tetua. Dia adalah perwujudan sempurna dari kaum Lumin: rambutnya pirang nyaris putih yang menyala, matanya biru seperti inti api, dan senyumnya hangat namun penuh aturan.
Namun, Elara memiliki rahasia. Dia membenci kesilauan yang konstan. Dia lelah harus selalu "bersinar". Matanya sering terasa perih oleh cahaya yang tak pernah redup. Karena itu, setiap siklus kerja berakhir, dia akan menyelinap ke perbatasan Meridian, tempat kabut abu-abu memberikan satu-satunya keteduhan di dunianya.
Hari itu, kabut di Meridian lebih tebal dari biasanya. Elara duduk di atas batu pembatas, membiarkan kakinya menggantung ke arah wilayah abu-abu. Dia menutup matanya, menikmati sensasi dingin yang menggelitik ujung kakinya.
"Kau membakar lumut di batu itu." Sebuah suara berat dan dingin memecah keheningan.
Elara tersentak, nyaris jatuh dari batu jika dia tidak segera menyeimbangkan diri dengan sayap cahayanya. Dia menoleh ke bawah, ke dalam kabut pekat.
Di sana, berdiri seorang pria. Atau setidaknya, seseorang yang menyerupai pria. Dia tinggi, mengenakan jubah yang tampak terbuat dari asap yang dijahit. Kulitnya pucat, kontras dengan rambut hitam legam yang jatuh lurus ke bahunya. Itu adalah seorang Noctis.
Elara mundur, instingnya berteriak bahaya. "Jangan mendekat! Energiku akan menghanguskanmu."
Pria itu tidak mundur. Dia justru mendongak, menatap Elara dengan mata hitam pekat yang tampak menyedot seluruh cahaya di sekitarnya. Tidak ada pupil, tidak ada iris, hanya kehampaan yang tenang.
"Namaku Kaelen. Dan kau, Nona Bercahaya, terlalu terang untuk tempat suram ini."
"Aku Elara," jawabnya, suaranya sedikit bergetar, "dan aku tidak bermaksud membakar apapun. Aku hanya ... mencari tempat untuk mengistirahatkan mataku."
Kaelen tertawa pelan, suaranya seperti angin malam yang berdesir di antara pepohonan mati.
"Ironis. Kami di Umbra sering mendaki ke Meridian hanya untuk merasakan sedikit kehangatan. Dunia kami sedingin es."
Itu adalah percakapan pertama mereka. Percakapan yang seharusnya tidak terjadi. Seharusnya, Elara memanggil penjaga Solaris dan Kaelen seharusnya melarutkan diri ke dalam bayangan sebelum terdeteksi.
Namun, rasa ingin tahu mengalahkan doktrin ribuan tahun.
Pertemuan itu berlanjut menjadi rutinitas rahasia.
Mereka tidak bisa bersentuhan. Jarak aman selalu terjaga—sekitar dua meter, dibatasi oleh batu perbatasan. Elara akan duduk di sisi terang Meridian, dan Kaelen berdiri di sisi gelapnya.
Mereka bertukar cerita tentang dunia mereka yang asing.
"Seperti apa rasanya tidur?" tanya Elara suatu hari, matanya berbinar penasaran. Di Solaris, mereka hanya melakukan meditasi ringan; tidur lelap adalah konsep asing karena cahaya terus memacu adrenalin mereka.
Kaelen duduk bersandar pada pohon mati yang membatu, memainkan bayangan di jari-jarinya seolah itu adalah tanah liat.
"Tidur itu ... seperti menyerah. Kau membiarkan tubuhmu berat, pikiranmu kosong, dan kau hanyut ke dalam ketiadaan yang damai. Saat kau bangun, kau merasa baru."
Elara menghela napas panjang, sebuah suara kerinduan.
"Di tempatku, kami selalu sadar. Selalu waspada. Cahaya menuntut kesempurnaan. Tidak ada tempat untuk bersembunyi dari tatapan orang lain."
"Di Umbra, kami terlalu banyak bersembunyi," balas Kaelen, nada suaranya terdengar sepi. "Hening adalah teman, tapi juga penjara. Kadang aku ingin berteriak hanya untuk memastikan aku masih ada. Tapi suara di Umbra langsung diredam oleh kegelapan."
Kaelen kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik jubah asapnya. Sebuah batu kecil berwarna hitam legam, namun memiliki bintik-bintik putih yang berkilauan di dalamnya.
"Apa itu?" tanya Elara.
"Batu Bintang. Pecahan meteor yang jatuh ke wilayah kami," jelas Kaelen. Dia meletakkan batu itu di tanah, tepat di tengah garis batas antara mereka.
"Ambillah. Ini dingin, tidak akan melukaimu."
Elara mengulurkan tangannya dengan ragu. Saat jari-jarinya yang bersinar menyentuh batu hitam itu, ada desis pelan, tapi tidak ada ledakan. Dia menggenggamnya. Batu itu dingin, menyejukkan kulit telapak tangannya yang selalu panas.
Sebagai gantinya, Elara memetik sehelai bulu dari sayap cahayanya. Bulu itu bersinar lembut, tidak menyilaukan, melainkan hangat seperti lilin. Dia meletakkannya di tempat batu tadi berada.
"Jangan sentuh langsung dengan kulitmu," peringat Elara. "Bungkus dengan bayanganmu."
Kaelen mengangguk. Kabut hitam keluar dari ujung jarinya, membungkus bulu cahaya itu sebelum dia mengambilnya. Dia mendekatkan bungkusan itu ke wajahnya, merasakan kehangatan yang memancar menembus lapisan bayangan.
"Hangat," bisiknya, matanya terpejam sesaat.
Di sanalah, di perbatasan antara siang abadi dan malam kekal, cinta tumbuh bukan dari persamaan, melainkan dari kebutuhan akan apa yang tidak mereka miliki. Elara membutuhkan keteduhan Kaelen, dan Kaelen membutuhkan kehangatan Elara.
Namun, keseimbangan Aethelgard adalah sesuatu yang rapuh.
Tiga bulan setelah pertemuan pertama mereka, langit di atas Meridian mulai retak. Garis batas yang memisahkan Solaris dan Umbra mulai menipis. Badai energi—campuran kacau antara petir emas dan kabut hitam—mulai menyambar secara acak.
Para Tetua Solaris mengumumkan bahwa ada kebocoran energi. Seseorang telah melubangi segel pemisah. Di Umbra, para Raja Bayangan menyiapkan pasukan, menuduh Solaris mencoba menginvasi wilayah mereka dengan cahaya yang mematikan.
Elara tahu ini salah mereka. Pertukaran hadiah kecil itu, kedekatan aura mereka yang berulang kali di perbatasan, telah menciptakan anomali. Alam semesta bereaksi terhadap ketertarikan mereka yang tidak wajar.
Malam itu—atau waktu yang dianggap malam di jam biologis Elara—dia berlari ke Meridian. Badai sedang mengamuk. Angin melolong, membawa serpihan kristal dan debu obsidian.
Kaelen sudah ada di sana. Dia tampak kesakitan. Kulit pucatnya memiliki luka bakar keemasan, dan jubah asapnya terkoyak.
"Kaelen!" teriak Elara, suaranya nyaris tenggelam oleh gemuruh guntur.
Pria itu menoleh, wajahnya menyiratkan ketakutan yang belum pernah Elara lihat sebelumnya. "Elara, jangan mendekat! Batasnya runtuh. Jika kau mendekat, energimu akan memicu reaksi berantai."
"Dunia kita akan hancur jika kita tidak melakukan sesuatu!" Elara mencoba maju, melawan angin yang mendorongnya mundur.
"Para Tetua bilang satu-satunya cara menutup retakan adalah dengan mengorbankan sumber anomali itu."
"Kita," kata Kaelen getir. "Kitalah anomalinya."
"Kita harus pergi," kata Elara, air mata cahaya menetes dari pipinya, mendesis saat jatuh ke tanah. "Kita harus lari jauh dari sini, agar keseimbangan pulih."
"Tidak ada tempat untuk lari, Elara. Seluruh Aethelgard adalah dualitas ini. Ke manapun kita pergi, kita akan merusak alam." Kaelen menatap retakan besar di langit di atas mereka. Lubang itu menyedot segalanya, seperti pusaran air raksasa.
Elara menatap Kaelen, lalu menatap tangannya sendiri yang bersinar terang. Dia teringat bagaimana Batu Bintang itu terasa dingin di tangannya, dan bagaimana Kaelen tersenyum saat merasakan kehangatan bulu sayapnya.
"Mereka bilang sentuhan kita adalah kehancuran," kata Elara tiba-tiba, sebuah ide gila namun masuk akal muncul di benaknya.
"Itu fakta, bukan mitos," bantah Kaelen.
"Mereka bilang itu akan meledak. Tapi, Kaelen ... ledakan juga bisa berarti penciptaan. Seperti bintang yang lahir dari debu dan gas." Elara melangkah maju, menembus batas aman.
"Elara, tidak! Kau akan mati!" Kaelen mundur, mengangkat tangannya untuk membentuk perisai bayangan.
"Atau kita akan menjadi sesuatu yang baru." Elara terus maju. Cahaya dari tubuhnya semakin terang, tidak lagi lembut, tapi membara karena emosinya yang memuncak.
"Aku lelah menjadi sempurna, Kaelen. Aku lelah hidup dalam silau tanpa henti. Aku ingin ... redup bersamamu."
Kaelen terdiam. Dia melihat tekad di mata biru Elara. Dia melihat wanita yang tidak takut pada kegelapannya, wanita yang justru mencari kedamaian di dalam bayangannya.
Perlahan, Kaelen menurunkan perisainya. Dia merentangkan tangannya, membiarkan dadanya terbuka tanpa perlindungan.
"Jika ini akhir, biarlah aku terbakar oleh apimu."
Elara berlari. Dia tidak berhenti di garis batas. Dia melompat menerjang badai, menubrukkan dirinya ke dalam pelukan Kaelen.
Saat kulit bercahaya Elara menyentuh kulit dingin Kaelen, dunia menjadi sunyi.
Tidak ada suara ledakan.
Tidak ada api yang menghanguskan tulang.
Yang terjadi adalah penyatuan yang menyakitkan sekaligus nikmat. Cahaya Elara tidak membakar Kaelen; cahaya itu masuk ke dalam pori-pori Kaelen, mengisi kekosongan di dalam dirinya.
Dan kegelapan Kaelen tidak mematikan Elara; kegelapan itu menyelimutinya, meredam rasa sakit, mendinginkan panas berlebih yang selama ini menyiksanya.
Di titik pertemuan mereka, warna baru lahir. Bukan emas, bukan hitam.
Tapi perak.
Abu-abu yang berkilauan. Ungu senja.
Pusaran energi di langit berhenti berputar liar. Retakan itu tidak menutup, tapi berubah. Tepiannya yang kasar menjadi halus, warnanya berubah menjadi gradasi indah seperti saat matahari terbenam.
Elara membuka matanya. Dia masih hidup. Dia mendongak dan melihat Kaelen juga menatapnya dengan takjub.
Penampilan mereka telah berubah. Kulit Elara tidak lagi menyilaukan mata, kini bersinar lembut seperti cahaya bulan—pucat namun bercahaya. Rambut Kaelen tidak lagi hitam pekat, melainkan memiliki kilau perak seperti langit malam yang penuh bintang.
"Kita tidak meledak," bisik Kaelen, tangannya masih melingkar di pinggang Elara. Untuk pertama kalinya, dia bisa menyentuh seseorang tanpa membekukan mereka.
"Kita menjadi gerhana," jawab Elara, menyentuh wajah Kaelen. Jari-jarinya terasa sejuk, tidak panas.
Tiba-tiba, suara langkah kaki bergemuruh dari kedua sisi. Pasukan Lumin dengan tombak cahaya dan Pasukan Noctis dengan pedang bayangan tiba di lokasi. Mereka berhenti, tertegun melihat pemandangan di hadapan mereka.
Elara dan Kaelen tidak lagi termasuk golongan Lumin ataupun Noctis. Mereka adalah entitas baru. Keberadaan mereka di sana membuat udara di sekitar Meridian menjadi stabil, tidak lagi kacau.
Salah satu Tetua Lumin maju, matanya menyipit. "Apa yang telah kalian lakukan? Kalian telah melanggar hukum alam tertua!"
"Kami tidak melanggarnya," jawab Elara, suaranya kini memiliki gema ganda—lembut namun berwibawa. "Kami menyempurnakannya."
"Kalian adalah kekejian!" seru Jenderal Noctis. "Kalian tidak memiliki tempat di Umbra."
"Dan tidak ada tempat di Solaris," tambah Tetua Lumin.
Kaelen mempererat pelukannya pada Elara. Dia menatap kedua pasukan itu dengan tenang. Dia tidak lagi merasa sepi. "Kalau begitu, kami akan tinggal di sini. Di antara kalian."
Maka, terbentuklah kesepakatan tak tertulis hari itu. Elara dan Kaelen diasingkan dari kerajaan masing-masing. Mereka tidak boleh menginjakkan kaki di jantung Solaris yang menyilaukan atau di kedalaman Umbra yang hampa.
Mereka tinggal di Meridian, jalur perbatasan yang kini meluas. Di sana, mereka membangun rumah dari kristal yang diselimuti bayangan. Keberadaan mereka mengubah iklim zona itu. Tidak lagi menjadi kabut abu-abu yang membosankan, tempat itu menjadi wilayah Twilight—wilayah Senja Abadi.
Langit di sana selalu berwarna ungu dan jingga, dihiasi bintang-bintang yang bersinar lembut. Udaranya sejuk, tidak panas membakar dan tidak dingin membekukan.
Orang-orang dari Solaris yang lelah dengan cahaya mulai datang ke pinggiran Meridian untuk beristirahat. Orang-orang dari Umbra yang merindukan sedikit kehangatan datang ke sisi lain untuk merasakan bias cahaya.
Elara dan Kaelen menjadi penjaga keseimbangan baru. Mereka adalah bukti hidup bahwa perbedaan yang paling ekstrem sekalipun, jika dipertemukan dengan keberanian dan cinta, tidak akan menciptakan kehancuran.
Mereka menciptakan keindahan jenis baru: sebuah senja yang tidak pernah berakhir, di mana matahari dan bulan bisa berpelukan tanpa saling menyakiti.
Dan di dalam rumah senja mereka, Kaelen akhirnya bisa tidur dengan nyenyak dalam pelukan Elara yang hangat, sementara Elara bisa beristirahat dengan damai dalam lindungan bayangan Kaelen yang meneduhkan.
Mereka berbeda dalam segala hal, namun justru perbedaan itulah yang membuat mereka utuh.
Tamat.
GC RUMAH MENULIS - CINTA PENUH PERBEDAAN