Suara dorongan koper terdengar disetiap sudut jalan yang sedang dilewati Anya menuju pemilik kosan tersebut.
Pada saat dia sudah berdiri didepan pintu rumah pemilik kosan, Anya mengetuk pintu rumah tersebut dengan pelan.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu langsung terbuka dan memperlihatkan seorang pria tampan, tinggi melebihi tinggi Anya berdiri dihadapannya dengan wajah bingung.
"Maaf saya ingin menemui pemilik kosan untuk mengambil kunci kamar saya."ucap Anya dengan sopan mengatakan alasan dia datang kesini
Pria itu masih terdiam memperhatikan penampilan wanita dihadapannya yang sempat membuat pria itu terpanah dalam sesaat. Namun segera tersadar ketika wanita dihadapannya bicara dan meminta kunci kamar seperti yang dikatakan ibunya tadi.
"Tunggu!."ucap pria itu singkat lalu berbalik masuk kedalam mengambil kunci wanita itu yang ditinggal ibunya tadi sebelum pergi
Dengan sabar Anya menunggu pria itu untuk mengambil kunci kamarnya, sepertinya pria itu adalah putra dari pemilik kosan ini. Karena kosan ini adalah kosan wanita dan pria dilarang menempatinya.
Tak bersilam lama pria itu datang lagi sambil membawa kunci dan sebuah tas ditangannya. Setelah itu menyerahkan semua yang dia bawa kepada wanita dihadapannya.
"Ambillah!."ucapnya dengan wajah tenang setelah menyerahkan apa yang dia ambil pada wanita itu
Melihat dia menerima tas besar membuat Anya bingung dibenaknya. Lalu dengan sopan bertanya pada pria itu tentang tas yang diberikan padanya ini.
"Kenapa kamu memberikan tas ini pada saya? Saya hanya meminta kunci kamar saya saja?."tanya Anya dengan nada tidak enak bukankah dia hanya menginginkan kunci kamarnya saja
"Ambil saja, jangan banyak komentar!."jawabnya dengan nada ketus lalu balik masuk kedalam dan menutup pintu rumahnya
Melihat bagaimana respon pria itu, membuat Anya terdiam terkejut. Kenapa pria itu marah-marah padahal tujuannya hanyalah meminta kunci kamarnya saja. Apa salahnya menjelaskan kenapa dia memberikan tas ini padanya saja.
Karena Anya telah mendapatkan kunci kamarnya, dia bergegas meninggalkan tempat ini menuju kamarnya yang berada dilantai tiga.
Beberapa saat dia telah berada dilantai atas, setelah itu mencari kamarnya yang ternyata lumayan besar dan banyak sekali tempat dikosan ini. Terlihat setiap lantai ada 7 kamar itupun setiap lantai jika sampai lantai tiga mungkin lebih dari 21 kamar.
Pada saat Anya mencari kamar nomer 3, dia tidak sengaja berpapasan dengan seorang wanita yang terlihat keluar dari kamarnya. Mereka berdua saling pandang cukup lama, bahkan wanita disana menatap wanita asing dihadapannya dengan tatapan serius.
"Kamu anak baru ya!."ucap Sisi dengan sopan bertanya dari kejauhan berjalan mendekati wanita asing sambil melihat barang bawaan wanita itu
Karena ini pertama kalinya dia datang disini, Anya harus menunjukkan sikap ramah dan berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru. Dia menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum kecil.
"Benar saya baru pindah hari ini!."jawab Anya dengan sopan menanggapi
"Oh, pantas saja dikamar nomer 3 dibersihkan tadi. Nama kamu siapa perkenalkan namaku Sisi."ucap Sisi mengangkat satu tangannya berjabatan tangan sebagai perkenalan
Dengan cepat Anya meletakkan tas besar dilantai lalu membalas jabatan tangan wanita ramah dihadapannya dengan baik.
"Salam kenal, nama saya Anya!."ujar Anya tersenyum kecil menjabat tangan wanita bernama Sisi itu
"Anya ya! Nama yang bagus, nanti aku akan kasih tahu kesemua kosan siapa nama kamu biar mereka bisa akrab denganmu."ujar Sisi dengan santai akan membantu Anya agar semua orang dikosan ini mengenalinya
"Terimakasih atas bantuannya!."jawab Anya tersenyum berterimakasih pada Sisi karena telah baik padanya
"Biar aku bantu bawa barang-barangnya masuk kesana, kebetulan kamar kita sebelahan. Aku bakal jadi teman sebelah kamu yang akan membantumu nanti!"ujar Sisi
Melihat Sisi berniat ingin membantunya, membuat Anya merasa tidak enak hati. Pada saat dia ingin menolak niat baiknya, Sisi dengan enggan tetap ingin membantunya. Alhasil Sisi membawa tasnya menuju kamarnya.
"Oh iya Sisi apa saya boleh bertanya sesuatu?."ucap Anya seketika teringat tentang pria yang dia temui tadi
Saat mendengar Anya masih mengucapkan kata terlalu formal, membuat Sisi merasa aneh ketika mendengarnya.
"Kita adalah teman sekarang, jadi jangan terlalu formal begitu padaku. Katakan apa yang ingin kamu katakan?."sahut Sisi dengan tegas meminta Anya untuk tidak begitu formal bukankah sekarang mereka teman
"Ah..baiklah, apakah pemilik kosan ini memiliki seorang pria yang tinggal disini."ucap Anya bertanya dengan wajah penasaran
Mendengar pertanyaan Anya, sejenak membuat Sisi tertoleh kearah Anya dengan wajah tenangnya. Sambil meletakkan tas besat ditangannya ketika mereka telah berada didalam kamar Anya sekarang.
"Dia adalah anak pemilik kosan ini, memangnya ada apa?."jawab Sisi dengan santai menjawab
"Oh gitu, pantas saja dia yang berikan kunci ini padaku. Dia juga memberikan tas itu padaku meski aku sempat ingin menolak dan malah membuatnya marah."ujar Anya sambil menunjuk tas besar diatas meja
Arah pandangan Sisi tertuju pada tas besar diatas meja, lalu dia juga mengingat bahwa dia juga pernah mendapatkannya ketika masuk pertama kali. Tetapi mendengar bahwa Anya diberikan langsung oleh anak dari pemilik kosan membuat Sisi terkejut dan merasa penasaran.
Bagaimana anak dari kosan itu yang memberikannya pada Anya, biasanya ibu kosan yang selalu memberikannya. Sama sekali tidak membiarkan orang lain yang menyerahkannya.
"Jadi kamu bertemu dengan anak dari pemilik ibu kosan ini, Anya?."ucap Sisi spontan berdiri didepan Anya yang berada didepan dan membelakanginya
"Benar, memangnya kenapa?. Apa kamu belum pernah bertemu dengan pria itu?."sahut Anya dengan wajah bingung ketika melihat reaksi Sisi yang begitu penasaran
Sisi mengelengkan kepalanya cepat, dia sendiri yang sudah berada ditempat ini beberapa tahu tak pernag bertemu dengan anak dari pemilik kosan. Bagaimana Anya bisa menemuinya bahkan berhadapan secara langsung.
"Aku belum pernah bertemu dengannya, apalagi semua orang dikosan ini. Kamu orang pertama yang lihat wajah pria itu Anya, lalu bagaimana tampangnya apakah tampan atau lebih mirip ibu kosan yang sedikit jelek itu."ujar Sisi srcara blak-blakkan menyindir ibu kosan yang jelek
"Sisi tidak baik mengejek orang lain apalagi ibu kosan, nanti kalau dia tahu gimana."lontar Anya sedikit terkejut ketika Sisi mengejek ibu kosan jelek
"Biarin aja, lagian ibu kosan juga jelek banget. Sekali dandan selalu menor kayak badut, kamu belum menemuinya Anya setelah tahu kamu bakal harus nahan tawa ketika bertemu dengannya, ya kadang walaupun begitu ibu kosan adalah orang baik dan peduli dengan kami semua."ujar Sisi