Bulan menggantung rendah malam itu, seperti mata yang menolak terpejam.Di bawahnya,Arka berdiri menungguku, bayangannya terpotong-potong oleh lampu taman yang hampir mati.
“Kamu telat,”katanya.
“Aku hampir nggak datang,”jawabku. “Entah kenapa rasanya malam ini salah,” batinku.
Arka tersenyum.Senyum yang terlalu tenang untuk seseorang yang akan menghilang.
“Kamu selalu punya firasat buruk,” katanya.“Sayangnya,kali ini benar.”
Kami duduk tanpa jarak.Udara dingin menggigit,tapi Arka tidak menggigil. Tangannya dingin saat menyentuhku lebih dingin dari biasanya.
“Kamu tahu,”ucapnya pelan,“bulan itu nggak bercahaya sendiri.Dia cuma memantulkan cahaya yang bukan miliknya.”
Aku menoleh.“Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?”
“Karena aku juga begitu.”
Aku ingin tertawa.Ingin berkata ia berlebihan.Tapi matanya kosong,seolah sebagian dari dirinya sudah pergi lebih dulu.
“Aku capek,”katanya.“Capek berpura-pura akan baik-baik saja.”
Aku meraih tangannya.Kali ini,ia tidak membalas.
“Besok kita ketemu lagi,ya?”tanyaku, hampir memohon.
Arka menggeleng.“Kalau aku bertahan satu malam lagi saja, itu sudah cukup.”
Kalimat itu menghantamku,tapi aku tidak mengerti sepenuhnya.Aku membiarkannya pergi.Itu kesalahanku.
Pagi harinya,kota gempar oleh satu kabar kecil di sudut berita:
*Seorang pemuda ditemukan tak bernyawa di apartemennya.Tidak ada tanda kekerasan.*
Tidak ada namanya di sana.Tapi aku tahu.
Malam berikutnya,aku kembali ke taman. Bangku itu kosong.Lampu mati total. Hanya bulan yang masih menggantung,acuh tak acuh.
Aku duduk di sana sampai dingin menusuk tulang,berharap bodoh bahwa Arka akan muncul atau setidaknya menjelaskan.
Di bawah cahaya bulan,aku akhirnya paham.Aku adalah orang terakhir yang ia datangi,dan aku tetap membiarkannya pulang sendirian.
Sejak itu,setiap malam bulan penuh terasa seperti tuduhan.Ia tidak menerangi.Ia mengawasi.
Dan aku hidup dengan satu kepastian yang tak bisa kubunuh,Arka pergi membawa separuh cahaya yang kupinjam darinya
meninggalkanku untuk menua dalam gelap. 🌘
--END--