Pada abad pertengahan, ketika pedang lebih sering berbicara daripada doa, hiduplah seorang iblis yang tidak lagi memiliki tempat. Neraka membuangnya, surga menutup pintu untuknya. Ia berjalan di bumi dengan nama palsu dengan wajah manusia, membawa dosa yang tak pernah bisa ia tebus.
Suatu malam, lonceng gereja berdentang merayakan sebuah pernikahan bangsawan. Cahaya obor menyala, musik biola memenuhi aula batu, dan manusia berdansa untuk melupakan perang yang mengintai di luar tembok kota.
Di sanalah ia melihatnya.
Seorang wanita berdansa di tengah aula gaunnya berwarna gading, rambutnya disanggul sederhana, senyumnya lembut namun penuh kebahagiaan yang tak terucap.
Dialah Putri Tamara. Tubuhnya bergerak mengikuti irama, tangannya berada dalam genggaman pria yang akan menjadi suaminya.
Untuk pertama kalinya sejak ia jatuh dari langit, hati sang iblis bergetar.
Namun getaran itu segera berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Ia melihat cara pengantin pria memandang Tamara seolah dunia hanya berisi mereka berdua. Sesuatu yang tak pernah dimiliki iblis itu,tak akan pernah diizinkan untuknya. Api iri menjalar, memenuhi rongga hatinya yang telah lama mati.
Malam itu, ia merancang rencana.
Pada hari pernikahan, ketika kota sibuk berpesta dan penjagaan melemah, iblis itu memicu pencurian besar di gudang emas kerajaan.
Kekacauan pecah, pedang terhunus, api membakar hampir seluruh bangunan. Dan di tengah kekacauan itu, sang pengantin pria kehilangan nyawanya, darahnya membasahi batu gereja yang suci.
Tamara menjadi janda sebelum malam pertamanya.
Hari-hari berikutnya, iblis itu mendekati Tamara. bukan sebagai monster, bukan pula sebagai malaikat. Ia hadir sebagai seorang asing berwajah pucat, bermata sendu, berbicara dengan suara yang tenang.
Ia mendengarkan duka Tamara. Ia hadir sebagai pelipur lara.
Tamara melihatnya bukan sebagai iblis. Bukan juga sebagai penyelamat.Hanya seorang jiwa yang tampak sama hancurnya dengan dirinya.
Awalnya Tamara menolak. Ia menjauh, hatinya menjadi waspada. Ada sesuatu yang salah pada pria itu, kehadirannya, bayangannya tak pernah benar-benar tersentuh oleh cahaya. Namun kesedihan adalah pintu yang rapuh, dan kesabaran iblis itu perlahan mengikis pertahanannya.
Hingga suatu senja, di reruntuhan kapel tua, mereka saling menatap terlalu lama.
Untuk pertama kalinya, bibir mereka bertemu.
Namun ciuman itu bukanlah anugerah.
Itu adalah kutukan.
Cinta iblis tak pernah bebas dari dosa. Saat bibir mereka bersentuhan, takdir Tamara terkunci.
Tubuhnya melemah hari demi hari,napasnya semakin pendek, hingga akhirnya ia meninggal dengan wajah tenang seolah telah menemukan kedamaian yang tak pernah ia dapatkan.
Tamara naik ke surga.
Dan iblis itu tertinggal di bumi.
Kini ia mengelilingi bumi yang tak pernah memaafkannya.Tanpa cinta, tanpa harapan, tanpa air mata yang bisa jatuh.
Ia abadi, terkutuk oleh cintanya sendiri.
Selamanya.