Aku selalu percaya, cinta yang benar tidak pernah tergesa-gesa. Ia tumbuh perlahan, mengakar dalam doa, bertahan dalam sabar, dan berserah pada waktu.
Itulah yang kupercayai saat namamu pertama kali menyapaku dengan suara paling tenang yang pernah kudengar.
Namamu Alya.
Kita bertemu bukan di tempat yang romantis. Bukan di kafe, bukan pula di acara meriah. Kita bertemu di lorong sempit rumah sakit, saat aku menunggu ibu yang terbaring lemah, dan kau berdiri di ujung sana, menggenggam map rekam medis ayahmu dengan mata yang sembab.
Kau menoleh. Mata kita bertemu. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan. Tapi entah kenapa, sejak detik itu, aku tahu—kau akan menjadi bagian penting dalam hidupku.
Hari-hari setelahnya berjalan biasa, namun diam-diam berubah. Kita mulai saling menyapa. Kau selalu datang dengan jilbab polos dan langkah yang hati-hati, seakan takut dunia terlalu keras untukmu. Aku, dengan segala keterbatasanku, hanya bisa menawarkan telinga dan kesediaan mendengar.
Kita bicara tentang hal-hal kecil. Tentang kopi rumah sakit yang pahit. Tentang hujan yang selalu datang sore hari. Tentang rasa takut kehilangan orang tua. Tentang doa-doa yang tak selalu dijawab segera.
Dan dari percakapan sederhana itulah, aku jatuh cinta. Bukan cinta yang meledak-ledak. Tapi cinta yang tenang. Cinta yang ingin menjaga, bukan memiliki.
Aku tidak pernah memegang tanganmu. Tidak pernah memelukmu. Bahkan menyentuh ujung jilbabmu pun tidak. Kita sepakat sejak awal: jika memang ini cinta, biarlah ia suci sampai akad.
Kau sering berkata,
“Aku ingin dicintai dengan cara yang membuat Tuhan tenang.”
Aku mengangguk setiap kali kau berkata begitu, meski dalam hati aku takut—apakah aku cukup pantas?
Waktu berjalan.
Ayahmu berpulang lebih dulu. Aku ingat betul malam itu. Kau menangis bukan dengan suara keras, tapi dengan bahu yang bergetar dan mata yang menatap kosong. Aku hanya duduk di sampingmu, menjaga jarak, membiarkan doaku menjadi satu-satunya pelukan.
Beberapa bulan kemudian, ibuku menyusul. Kini kita sama-sama yatim oleh keadaan, disatukan oleh kehilangan.
Mungkin karena itu, cinta kita tumbuh makin dalam. Kita saling menguatkan.
Saling mengingatkan shalat.
Saling mendoakan dari kejauhan.
Dan suatu sore, di bawah langit yang redup, aku berkata dengan suara gemetar.
“Jika Tuhan mengizinkan, aku ingin datang secara baik-baik. Melamarmu.”
Kau tersenyum. Senyum yang tidak pernah kulupakan sampai hari ini. Senyum yang mengandung harap dan takut sekaligus.
“Aku menunggumu,” katamu pelan.
Lamaran itu terjadi sederhana. Tidak ada kemewahan. Hanya keluargaku, pamanmu, dan beberapa saksi. Kau duduk di balik tirai, aku melihat siluetmu yang anggun. Tanganku gemetar saat menyebut namamu di hadapan mereka.
Tanggal akad ditentukan. Dua bulan