Di Desa Wening, malam itu pekat. Rumah Jay sunyi, hanya terdengar detak jam dan hembusan angin di jendela. Jay rebahan di sofa, tangan masih menekan tombol game, snack di pangkuan. Ia menguap, merasa nyaman—sampai lantai berdecit sendiri di ruang tamu.
Bayangan bergerak di sudut mata, cepat menghilang saat Jay menoleh. Sebuah bisikan tipis terdengar di telinga, seperti suara seseorang yang membacakan namanya dari jauh. Ia menatap buku tua di meja—halamannya kosong, tapi pola samar bergerak perlahan, membentuk bayangan familiar, seakan menyelinap masuk ke pikirannya.
JAY: (menggumam, mulai geram) “Eh… lho ya author, balikin snack gue!”
Seketika itu lampu berkedip keras. Bayangan di dinding membesar, seolah menarik napas bersamanya. Suara langkah semakin dekat, tapi tidak terlihat siapa pun. Napas Jay mulai cepat, jantungnya berdetak lebih keras. Ia meraih snack, menggenggamnya erat—tapi rasa takut itu tetap merayap ke seluruh tubuhnya.
JAY: (berbisik ketakutan) “G-gila… ini… bukan lagi mainan, ya?”
Bayangan terakhir menyeruak di lantai, menutup pandangannya sejenak, lalu perlahan lenyap. Rumah kembali tenang, tapi udara terasa berat. Jay menunduk, tangan masih di snack, wajah pucat.
Dan tiba-tiba… sebuah suara meta terdengar dari langit-langit, seperti tertawa ringan tapi mengejek:
NARATOR/AUTHOR: “Diam aja lo, Jay… naskahnya harus jalan. Gimana mau menang lomba cerpen kalo nggak ikut aturan? Eh, tapi sate 100 tusuk… itu tetep gagal kita lempar ke lo, ya!”
Jay menatap ke udara, lalu menggeram:
JAY: “Hah?! Sate gue…?! Lho ya author, jangan ganggu snack gue lagi dong!”
Malam itu, Desa Wening tetap sunyi, tapi aura horor yang menempel di rumah Jay berhasil bikin dia bener-bener ketakutan, walau tetap mager dan ngotot soal snack.