Rania menunggu di ruang rumah sakit yang dingin, dengan tangan gemetar dan napas yang tak lagi teratur. Bau antiseptik menusuk hidungnya, bercampur dengan ketakutan yang tak berani ia ucapkan. Jam di dinding menunjukkan pukul 02.17 dini hari.
Sudah tiga jam ia menunggu.
Tiga jam sejak dokter membawa Arga masuk ke ruang operasi tanpa sempat menoleh ke arahnya. Tanpa sempat mendengar Rania memanggil namanya. Tanpa sempat tahu bahwa seseorang sedang menunggunya dengan doa yang hampir habis.
“Keluarga pasien?” tanya seorang perawat tadi.
Rania terdiam.
Ia bukan keluarga. Ia bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang terlalu lama mencintai dalam diam.
Ia mengenal Arga sejak bangku SMA. Mereka duduk sebangku, berbagi buku, berbagi tawa kecil, dan berbagi kesunyian yang sama. Arga adalah tempat Rania pulang dari segala kelelahan—meski Rania tak pernah benar-benar menjadi tempat pulang bagi Arga.
“Aku suka seseorang,” kata Arga suatu hari, sambil menatap papan tulis.
Rania tersenyum, pura-pura biasa saja. “Oh ya?”
“Iya. Tapi aku nggak berani bilang.”
Saat itu, Rania tidak tahu bahwa orang yang Arga maksud adalah dirinya. Dan Arga tidak pernah tahu bahwa Rania menunggunya untuk berkata jujur selama bertahun-tahun.
Waktu berlalu. Mereka dewasa. Hidup memisahkan mereka dengan cara yang halus namun kejam. Tapi Arga selalu kembali—dengan cerita tentang kelelahan hidupnya, tentang mimpi yang tidak tercapai, tentang rasa ingin menyerah yang sering datang diam-diam.
Dan Rania selalu ada. Mendengarkan. Menguatkan. Menyimpan perasaannya sendiri hingga terasa sesak.
“Aku capek,” kata Arga malam itu di telepon. “Kalau aku nggak bangun besok, kamu jangan sedih ya.”
Rania tertawa gugup. “Kamu aneh. Besok kita ketemu, kan?”
“Iya… kalau aku sempat.”
Itu percakapan terakhir mereka.
Ponsel Rania bergetar keras di tengah malam. Sebuah panggilan dari nomor asing. Suara di seberang terdengar formal, terlalu dingin untuk membawa kabar baik.
Arga mengalami kecelakaan. Ia kritis.
Dan sekarang, Rania menunggu di kursi besi itu, dengan doa yang tak lagi utuh. Ia menunduk, memeluk tasnya, mencoba mengingat kapan terakhir kali ia mengatakan hal yang jujur pada Arga.
Tidak pernah.
Pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter melangkah keluar, wajahnya menyimpan kelelahan dan keheningan yang terlalu jelas artinya.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin,” katanya pelan.
Kalimat itu cukup. Dunia Rania runtuh tepat di situ.
Ia tidak menangis. Tidak langsung. Kesedihan yang terlalu besar tidak keluar sebagai air mata—ia berubah menjadi mati rasa.
Seperti ada sesuatu di dadanya yang berhenti bekerja.
Rania berdiri dengan kaki lemas. “Boleh… boleh saya lihat dia?”
Dokter ragu, lalu mengangguk.
Di balik tirai putih, Arga terbaring dengan wajah yang jauh lebih tenang daripada hidupnya. Rania melangkah pelan, seolah takut suara langkahnya akan membangunkannya.
Ia duduk di samping ranjang.
“Aku di sini,” bisiknya, dengan suara yang akhirnya pecah. “Maaf aku telat bilang.”
Tangannya gemetar saat menggenggam tangan Arga yang dingin.
“Aku suka kamu. Dari dulu. Dari semua hari yang kamu nggak sadari.”
Air mata jatuh membasahi sprei putih. Tangis Rania tak tertahan, penuh penyesalan yang tak lagi punya tempat.
“Kalau kamu dengar… tolong bangun. Aku janji nggak akan diam lagi.”
Tapi Arga tidak menjawab.
Dan Rania akhirnya mengerti—bahwa beberapa penantian tidak berakhir dengan pertemuan, hanya dengan kehilangan.
Hari pemakaman berlangsung cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang mengisi begitu banyak hari dalam hidup Rania. Orang-orang datang dan pergi, sementara Rania berdiri di antara mereka, merasa asing di kesedihannya sendiri.
Ia bukan siapa-siapa. Tidak tertulis di batu nisan itu bahwa ada seseorang yang mencintai Arga dalam diam selama bertahun-tahun.
Malamnya, Rania pulang ke kamar yang sunyi. Ia membuka ponselnya, membaca ulang pesan terakhir Arga.
Kalau aku nggak bangun besok, kamu jangan sedih ya.
Rania menangis hingga dadanya terasa sakit.
“Bagaimana caranya?” bisiknya lirih, “sedangkan kamu pergi membawa separuh hidupku?”
Dan sejak malam itu, Rania belajar hidup dengan satu kenyataan paling kejam: bahwa cinta yang tak pernah diucapkan, akan selamanya menjadi penyesalan yang tak bisa dimakamkan bersama orang yang pergi.