Di tengah kota besar yang sibuk, berdiri sebuah cat-café bernama "Paw Prints Haven"—tempat di mana pelanggan bisa menikmati kopi sambil bermain dengan puluhan kucing lucu yang dirawat dengan penuh cinta. Pemiliknya adalah seorang wanita berusia 30 tahun bernama Clara, yang sejak kecil telah menganggap kucing sebagai bagian dari keluarganya. Ia mendirikan café ini bukan hanya untuk mencari nafkah, tapi juga untuk memberikan rumah bagi kucing yang terlantar atau tidak diinginkan.
Hari itu, café ramai seperti biasa. Anak-anak bermain dengan kucing-kucing yang lincah, sementara orang dewasa duduk santai sambil mengelus bulu hewan peliharaan yang menggemaskan itu. Di antara pelanggan baru yang datang ada seorang wanita dengan wajah pucat dan ekspresi dingin—berbaju hitam dari kepala hingga kaki, tanpa sedikitpun kesan hangat di wajahnya.
Clara yang sedang menyajikan pesanan langsung merasa tidak nyaman ketika melihatnya, tapi tetap menyapa dengan ramah. Wanita itu hanya mengangguk pelan dan memilih tempat duduk di sudut paling sunyi, jauh dari keramaian.
Tak lama kemudian, seekor anak kucing Persia berusia enam bulan bernama Mochi—yang dikenal sebagai yang paling lincah dan suka mendekati orang—berlari ke arah wanita itu. Mochi menggosok-gosokkan tubuhnya ke kaki wanita itu dan mengeluarkan suara mengeong lembut, meminta untuk dimanja.
Namun tanpa ampun, wanita itu dengan cepat mengangkat kakinya dan menendangnya keras. Mochi menjerit kesakitan dan berguling ke belakang, membuat semua orang di café berbalik melihatnya. Kerusuhan pun terjadi—beberapa pelanggan berteriak marah, sementara kucing-kucing lain yang sedang bermain mulai berlari bersembunyi.
Tanpa menghiraukan tanggapan orang sekitar, wanita itu berdiri dan mulai bergerak menuju kandang anak kucing yang terletak di pojok dalam café. Clara bergegas menghalanginya, tapi wanita itu dengan cepat menyelinap dan membuka pintu kandang. Dalam sekejap, ia mengeluarkan tangan dan menyentuh tiga ekor anak kucing yang sedang tidur—ketika ia menarik tangan kembali, tubuh anak kucing itu menjadi tidak bergerak lagi.
"Kau?!" teriak Clara dengan suara berdarah, menangis melihat anak kucing kesayangannya tidak bernapas lagi.
Wanita itu hanya memberikan senyum sinis, "Saya adalah salah satu dari mereka yang tidak suka dengan makhluk ini... mereka tidak layak hidup." Sebelum Clara bisa melakukan apa-apa, wanita itu berlari keluar dari café dan menghilang di tengah keramaian jalanan.
Petugas kepolisian datang setelah itu, tapi tidak menemukan jejak yang jelas tentang wanita itu. Beberapa pelanggan yang melihat kejadian mengatakan bahwa mereka tidak ingat dengan jelas wajah atau ciri khas lainnya dari wanita itu, seolah-olah dia adalah bayangan yang datang dan pergi begitu saja.
Clara merasa sangat hancur. Mochi yang terkena tendangan harus dirawat intensif di klinik hewan, sementara tiga ekor anak kucing lainnya tidak bisa diselamatkan. Café yang dulunya penuh dengan tawa dan suara mengeong yang menyenangkan kini terasa sepi dan suram. Beberapa pelanggan yang tahu kejadian itu tidak berani datang lagi, takut hal yang sama akan terjadi.
Hari demi hari, Clara menghabiskan waktu di café bersama kucing-kucing yang tersisa. Ia tetap membersihkan kandang anak kucing yang kosong, berharap bahwa semuanya hanya mimpi buruk yang akan segera berlalu. Malam itu, ia duduk di lantai café, menatap foto anak kucing yang telah tiada sambil memeluk Mochi yang baru saja pulang dari klinik.
"Cinta kalian seharusnya membuat dunia jadi lebih baik... kenapa ada orang yang ingin merusaknya?" ujarnya dengan suara pelan, air matanya menetes ke lantai yang sudah dipenuhi bekas jejak kaki kucing.
Cat-café "Paw Prints Haven" akhirnya harus ditutup beberapa minggu kemudian. Clara tidak punya kekuatan lagi untuk menjalankannya, melihat setiap sudut café hanya mengingatkannya pada kehilangan yang tak terbayangkan. Ia memindahkan semua kucing yang tersisa ke rumahnya sendiri, berjanji akan selalu melindungi mereka dengan sekuat tenaga—meskipun rasa sakit karena kehilangan anak kucing kesayangannya akan selalu ada di dalam hatinya.