Di sebuah desa terpencil di lereng gunung, tinggal seorang gadis muda bernama Siti. Ia lahir dengan tubuh yang tidak bisa berjalan dengan normal—kakinya lemah dan ia harus selalu menggunakan tongkat untuk berdiri atau bergerak perlahan.
Meskipun begitu, Siti memiliki hati yang kuat dan cita-cita besar: ia ingin membuat desa kelahirannya dikenal karena bunga-bunga indah yang bisa tumbuh di tanah yang dulu dianggap tandus. Ia sering menghabiskan waktu berjam-jam duduk di tepi kebun kecil yang ia kelola sendiri, menanam berbagai jenis benih bunga yang ia dapatkan dari tukang kebun yang lewat desa.
Orang desa awalnya tidak mempercayai usahanya. "Tanah kita tidak bisa tumbuh apa-apa selain rumput kering, Siti," kata Pak Amir, kepala desa yang sudah tua. "Lebih baik kamu fokus pada hal-hal yang bisa kamu lakukan saja."
Tapi Siti tidak menyerah. Ia membaca semua buku tentang pertanian yang bisa ia dapatkan, bertanya kepada setiap ahli yang datang ke desa, dan mencoba berbagai metode untuk memperbaiki kualitas tanah. Kadang ia harus menghabiskan berjam-jam untuk hanya membawa ember air dari sumur ke kebunnya yang terletak di atas bukit kecil—jalan yang butuh waktu setengah jam bagi orang biasa, ia butuh lebih dari satu jam untuk menempuhnya dengan tongkatnya.
Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu. Akhirnya, sebatang tunas kecil muncul di kebunnya. Kemudian satu lagi, lalu satu lagi. Dalam waktu setahun, kebun kecil Siti sudah penuh dengan bunga berwarna-warni yang indah—mawar, melati, matahari, dan bahkan beberapa jenis bunga langka yang tidak pernah ada di desa itu.
Kehadiran kebun bunga Siti mulai merubah desa. Wisatawan mulai datang untuk melihat keindahan bunga-bunganya, membawa uang yang membuat ekonomi desa sedikit demi sedikit membaik. Orang desa yang dulu merendahkan usahanya kini mulai membantu Siti mengembangkan kebun, bahkan membuat kebun bunga mereka sendiri di sekitar bukit.
Siti merasa bahagia luar biasa. Ia mulai merencanakan untuk membuat pusat pelatihan pertanian bunga di desa, agar lebih banyak orang bisa belajar cara menanam bunga di tanah tandus. Ia bahkan sudah mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah untuk membangun fasilitasnya.
Suatu pagi yang cerah, Siti berangkat ke kebunnya seperti biasa. Ia ingin memeriksa benih baru yang ia tanam beberapa hari yang lalu. Saat ia sedang naik ke bukit dengan membawa ember air, langit tiba-tiba menjadi mendung dan hujan deras turun dengan cepat. Jalan yang sudah licin menjadi semakin sulit ditempuh.
Dalam upaya untuk menyelamatkan ember air yang akan digunakan untuk menyirami benih baru, Siti tergelincir dan jatuh dari jalan kecil yang menjulang. Ia terjatuh ke bawah lereng, dan ketika orang desa menemukan dia beberapa saat kemudian, dia sudah tidak bernapas lagi—tangan kirinya masih erat menggenggam ember yang sebagian airnya sudah tumpah ke tanah.
Di tempat di mana air dari ember itu tumpah, beberapa minggu kemudian tumbuh tunas bunga yang belum pernah ada sebelumnya di desa itu. Orang desa memberi nama bunga itu "Bunga Siti" sebagai penghormatan bagi gadis muda yang telah merubah nasib desa mereka.
Pusat pelatihan pertanian bunga yang direncanakan Siti akhirnya dibangun tepat di atas bukit tempat kebunnya dulu berada. Setiap tahun, pada hari ulang tahun Siti, desa mengadakan festival bunga di mana ribuan orang datang untuk melihat keindahan bunga-bunga yang tumbuh subur di tanah yang dulu tandus.
Meskipun Siti tidak bisa melihat hasil penuh dari perjuangannya, namanya selalu dikenang sebagai sosok yang membuktikan bahwa impian besar bisa menjadi kenyataan meskipun harus menghadapi rintangan yang luar biasa—bahkan jika kita tidak bisa sampai melihat akhir dari perjalanan kita sendiri.