Sore itu, langit Jakarta berwarna abu-abu, seolah sedang menahan napas sebelum menumpahkan tangisnya. Di sebuah ruang tamu yang pengap oleh bau obat-obatan, aku duduk bersila di depan kursi goyang kayu jati milik Ayah. Di pangkuanku, ada sebuah kotak beludru hitam yang sudah mengelupas di sudut-sudutnya.
"Ayah tidak butuh itu lagi, Aris," suara Ayah terdengar seperti gesekan amplas pada kayu. Kering dan berat.
Aku mendongak, menatap lelaki yang dulu terlihat seperti raksasa bagiku.
Sekarang, dia hanyalah tumpukan tulang yang dibungkus kulit pucat, tenggelam di balik selimut wol tebal.
"Ini cuma mau dibersihkan, Yah. Biar mengkilap lagi," jawabku pelan, sambil mengeluarkan sebuah jam tangan analog tua bermerek Seiko. Kacanya sudah baret-baret, dan tali kulitnya sudah retak.
Ayah terkekeh, lalu terbatuk kecil. "Jam itu sudah mati sejak kamu masuk kuliah. Mesinnya menyerah, sama seperti pemiliknya."
"Jangan bicara begitu," potongku cepat. "Aku bisa membawanya ke tukang servis di Pasar Baru. Mereka pasti bisa menghidupkannya lagi."
Ayah menatapku lama dengan mata yang mulai menguning karena penyakitnya. "Ada hal-hal yang memang ditakdirkan untuk berhenti, Ris. Biar kita tahu bahwa waktu itu mahal."
*Kenangan dalam Setiap Putaran Jarum.*
Aku teringat, dua puluh tahun yang lalu, jam tangan itulah yang selalu aku dengar detaknya saat Ayah menggendongku sepulang kerja. Ayah adalah seorang kuli panggul di pelabuhan sebelum akhirnya menjadi satpam di sebuah bank swasta.
Tangannya kasar, kapalan, dan berbau matahari. Tapi bagiku, itu adalah tangan paling aman di dunia.
"Ayah, kenapa jamnya bunyi tik-tok terus?" tanyaku saat masih berusia tujuh tahun.
Ayah tertawa, mengangkatku tinggi-tinggi. "Itu suaranya jantung Ayah, Ris. Selama jam ini berdetak, Ayah akan terus kerja buat belikan kamu buku dan sepatu baru."
Dialog sederhana itu tertanam di kepalaku. Bagiku, jam tangan itu adalah nyawa Ayah.
Namun, seiring berjalannya waktu, aku tumbuh menjadi pemuda yang ambisius. Aku kuliah, sukses, dan mulai merasa malu dengan penampilan Ayah yang "kuno". Aku sering mengabaikan teleponnya karena sibuk rapat, atau menolak ajakannya makan bakso di pinggir jalan karena merasa tempat itu tidak higienis.
"Aris, kapan pulang? Ayah masak sayur lodeh kesukaanmu," tanya Ayah di telepon, tiga tahun lalu.
"Aduh, Yah, Aris lagi di Surabaya. Ada proyek besar. Nanti ya, bulan depan kalau sempat," jawabku singkat tanpa perasaan.
Bulan depan berubah menjadi bulan depannya lagi. Hingga akhirnya, telepon itu bukan lagi dari Ayah, melainkan dari Ibu yang menangis tersedu-sedu mengabarkan bahwa Ayah pingsan di teras rumah. Vonis dokter menghantamku seperti godam: kanker paru-paru stadium akhir.
Dialog di Ambang Senja
Di ruang tamu itu, aku mencoba memutar tuas jam tangan tua itu. Keras. Macet. Sama seperti tenggorokanku yang sekarang terasa tercekat.
"Yah, maafkan Aris," bisikku tanpa berani menatap matanya.
"Maaf buat apa?" Ayah bertanya tenang.
"Maaf karena Aris jarang pulang. Maaf karena Aris lebih peduli pada jam tangan mahal di tangan Aris sendiri daripada waktu yang Ayah punya."
Ayah mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh kepalaku. Sentuhan itu masih sama, meski kekuatannya sudah hilang.
"Kamu tahu, Ris? Ayah tidak pernah menghitung berapa kali kamu tidak pulang. Ayah cuma menghitung berapa kali Ayah mendoakanmu dalam sehari."
"Tapi Aris anak yang buruk, Yah..." air mataku jatuh, membasahi kaca jam tangan tua itu.
"Anak yang buruk tidak akan duduk di sini menemani ayahnya yang sudah bau tanah," Ayah tersenyum tipis. "Ris, dengarkan Ayah. Hidup itu seperti jam tangan ini. Kamu tidak bisa memutar balik jarumnya. Yang bisa kamu lakukan hanyalah memastikan bahwa setiap detik yang tersisa digunakan untuk mencintai, bukan menyesali."
"Aris mau Ayah sembuh. Kita jalan-jalan lagi ke Monas seperti dulu," kataku terisak.
Ayah menggeleng pelan. "Tiket Ayah sudah dipesan, Ris. Keretanya sudah hampir sampai di stasiun. Kamu harus belajar melepas. Tapi ingat, meski jam ini mati, kenangannya tetap hidup di sini," Ayah menunjuk dadaku.
**Detik Terakhir**
Malam itu, kondisi Ayah memburuk. Kami membawanya ke rumah sakit, tapi Ayah menolak semua alat bantu pernapasan yang rumit. Dia hanya ingin memegang tanganku dan Ibu.
Di ruangan yang sunyi itu, hanya terdengar suara monitor jantung yang lambat. Beep... beep...
Aku menggenggam tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih melingkar jam tangan tua yang tadi sore kubersihkan. Tiba-tiba, Ayah membisikkan sesuatu yang sangat pelan. Aku mendekatkan telingaku ke bibirnya.
"Jaga Ibu... dan jangan lupa... tersenyum... karena kamu... adalah kebanggaan terbesar... Ayah..."
Lalu, garis di monitor itu menjadi datar. Suara panjang beeeeeeep memenuhi ruangan.
Dunia seakan berhenti berputar. Aku meraung, memeluk tubuh yang perlahan mendingin itu. Ibu jatuh pingsan di samping ranjang. Di tengah kekacauan rasa sakit itu, mataku tertuju pada jam tangan tua di pergelangan Ayah.
Entah bagaimana, atau mungkin hanya halusinasiku, jarum detik jam yang tadinya macet total itu bergerak satu kali. Klik. Seolah memberikan penghormatan terakhir sebelum benar-benar berhenti untuk selamanya.
Penutup: Warisan yang Tak Ternilai
Setelah pemakaman, aku menemukan sebuah surat di dalam kotak jam tangan itu.
Surat yang ditulis Ayah dengan tulisan tangan yang berantakan, mungkin ditulis saat dia menahan sakit yang luar biasa.
("Untuk Aris, jagoan Ayah.
Kalau kamu baca ini, mungkin Ayah sudah tidak bisa lagi mendengar suaramu. Jam ini sengaja tidak Ayah perbaiki. Ayah ingin kamu tahu, bahwa meskipun waktu Ayah berhenti, cinta Ayah padamu akan selalu melampaui waktu itu sendiri.
Jangan menangis terlalu lama. Pakailah jam ini. Bukan untuk melihat waktu, tapi untuk mengingatkanmu bahwa Ayah selalu ada di setiap detik langkahmu.")
Kini, aku duduk di kantor megahku. Di pergelangan tangan kiriku, melingkar sebuah Seiko tua dengan tali kulit yang baru. Jam itu tetap mati, jarumnya berhenti di angka empat—jam di mana Ayah menghembuskan napas terakhirnya.
Setiap kali aku merasa lelah atau sombong, aku akan menyentuh kaca jam itu. Aku merasa Ayah masih di sana, membisikkan bahwa waktu adalah tentang siapa yang kita sayangi, bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki.