Di sebuah sore yang hening, aku duduk sendiri di tepi sungai. Angin membawa aroma hujan kemarin, dan cahaya senja menembus sela pepohonan. Di saat itulah aku menyadari, cinta bukan sekadar rindu atau nafsu, tapi kesadaran yang tumbuh dalam diam.
Aku menatap langit, memohon pada Tuhan agar hatiku tetap murni, meski dunia sering menguji dengan keserakahan dan hasrat. Dan di antara kerlip cahaya matahari yang menari di permukaan air, aku melihatmu. Sosok yang sederhana, namun menghadirkan ketenangan yang selama ini kucari.
Pertemuan itu diam-diam mengubahku. Setiap percakapan, setiap senyumanmu, menumbuhkan kesadaran baru dalam diriku: bahwa cinta yang sejati adalah yang memuliakan diri sendiri, pasangan, dan Tuhan yang Maha Esa. Tak ada tergesa, tak ada paksaan. Hanya kesabaran dan ketulusan yang berjalan beriringan.
Malam itu, di bawah cahaya bintang yang redup, aku menyadari: mencintai bukan tentang memiliki, tapi memahami. Dan dalam diam, aku menemukanmu—bukan hanya sebagai kekasih, tapi sebagai cermin yang menuntunku menyempurnakan hati dan jiwa.
Cinta kita mungkin lahir dari dunia yang fana, tapi ia berjalan di jalan kesadaran, menuju kesempurnaan diri yang selalu kupanjatkan kepada-Nya. Dan aku yakin, setiap detik yang kita lalui bersama, adalah doa yang terselip di antara rasa rindu dan syukur yang tak terucap.