Dipasar yang ramai, semua serba ada. Mahkluk bumi berdesakan, berbondong bondong hilir mudik. Mencari barang yang tak mereka temukan diswalayan sekitar rumah didesa terpencil
Dengan penuh harap kugelar tilam lapuk, sobek dimana mana tapi hanya ini yang ku punya,
Ku jajalkan setiap kunci kunci, berharap para saudagar mau melihat kearah daganganku,
Beberapa jam berlalu ku habiskan hanya untuk duduk melamun, menyaksikan betapa berutungnya jadi mereka yang sudah selesai berniaga kala matahari kian bergerak naik tepat diatas kepala
Sementara aku, satu pun kunci tak terjual
"Astaga, apa kunci kunci yang kujual sama sekali tak menarik perhatian para saudagar kaya itu?" Monologku seraya membereskan barang daganganku kembali dalam tas
"Akan aku jual kembali esok hari, aku yakin esok akan laku keras."
Ucapku membakar semangat yang hampir padam ditelan kenyataan,
"Hey,tunggu aku! Kita pulang sama sama." Teriak Danu sahabat seperjuanganku
Aku tersenyum lebar menunggu dengan tak sabaran
Danu berlari kecil menghampiriku dengan sisa barang dagangannya,
"Tampaknya, laku keras dagangan mu hari ini, Dan?" Seru ku
Danu tersenyum jumawa, "Tentu, Jun. Sudah mulai musim penghujan, para petani mulai sibuk dengan perkakas mereka."
Aku tersenyum ikut senang mendengarnya,"Nanti kalau kunci kunciku sudah laku, buatkan aku cangkul terbagus buatanmu ya, Dan."
"Kau ingin berladang juga, jun?"
"Hanya untuk mengisi waktu kosong, Dan."
"Ah baiklah, akan aku buatkan cangkul paling bagus untukmu."
"Nanti saja, kalau aku sudah berhasil menjual kunci kunci ini." Ucapku sembari menepuk tas yang berisi kunci kunci buatanku
"Hari ini kuncimu laku banyak, jun?"
"Tidak terjual sama sekali, Dan. Tapi aku yakin besok akan habis tak bersisa." Sahutku percaya
Danu tertawa kuda mendengar ucapanku, "Aku percaya,Jun. Kau pengrajin kunci hebat didesa kami."
Aku dan Danu berjalan bersisian dibawah terik matahari yang menembus hingga inti kepala,
Sesuai janjiku pada diriku, Keesokan harinya dipagi buta. Tampaknya matahari saja belum ingin tampak tapi aku sudah bersiap dengan perbekalan daganganku
"Arjun, isi dulu perutmu nak!" Pinta ibu
"Tidak usah, bu. Makanlah bersama bapak. Arjun tidak lapar."
Namun ibu bergegas menghampiri, ia memberikan dengan sedikit paksaan dalam genggamanku,
Singkong rebus yang masih hangat dengan daun pisang sebagai bungkusnya
"makanlah dijalan!"
Aku mengangguk, "Do'akan Arjun ya bu, semoga Arjun dapat banyak uang hari ini."
Ibu menatapku dengan lembut, aku tahu sebelum ku pinta, do'a ibu sudah ia langitkan pada sang penguasa alam
Beberapa jam berjalan, aku sampai dikota. Kembali ku gelar tilam usang dengan kunci kunci yang aku buat dengan tanganku sendiri
Aku terduduk, seraya merogoh singkong rebus yang aku simpan didalam saku baju
Membukanya perlahan bungkus daun pisang yang mulai layu,
Sepotong singkong hampir sampai dimulutku, namun seorang wanita berdiri tepat dihadapanku
"Apa yang kamu makan wahai pemuda?"
Aku mendongak dengan senyum lebar, "Singkong rebus buatan ibuku, tapi aku tidak menjualnya. Aku hanya menjual kunci kunci ini."
Wanita itu melihat kearah kunci kunci yang kujual, "Aku beli semua."
Aku terdiam tak percaya, "Semuanya,nyonya?"
"Tapi tentu dengan singkong yang katamu buatan ibumu."
"ah tidak masalah nyonya." Aku tersipu melihat senyumnya yang menggetarkan hati.
Belum sampai satu jam, semua kunciku habis tak bersisa. Dengan langkah tak sabaran, aku ingin segera pulang dan menemui ibu mengatakan kalau aku telah berjaya hari ini
"Bu.. ibuk? Arjun sudah pulang buk?" Teriak ku tak sabar
Ibu datang tergopoh gopoh dari belakang rumah, "Ada apa Jun? Kenapa kamu sudah pulang?"
"Arjun berhasil bu, semua kunci kunci Arjun habis terjual. Diborong oleh seorang wanita dari keluarga bangsawan kaya raya."
Aku dan ibu bersorak gembira, akhirnya hari ini bisa makan nasi
Esok harinya kembali ku coba peruntungan,
Lagi lagi wanita bangsawan itu datang menghampiri, namun wajahnya masam saat menemuiku
"Semua kuncimu patah, tak bisa membuka pintu yang aku mau." Serunya tiba tiba
"Tidak mungkin nyonya, kunci yang kubuat dari tembaga yang kokoh dan kuat. Tidak mungkin mudah patah."
Ia membawa kembali semua kunci yang patah menghamburkannya hingga berserakahan dihadapanku, "ambilah semua kunci patah ini, dan aku minta uangku kembali."
Aku menangis tersedu sedu, bagaimana bisa kunci yang kubuat semudah itu patah,
Hari ini aku merugi dalam berjual beli, tak akan aku tawar kembali kunci dengan pintu yang tak bertuan,
Biarlah pintu pintu itu tertutup rapat tanpa kunci yang bisa membukanya.
Selesai.
#Tapi ini bukan tentang kunci, ini tentang hati yang tertutup sebab ia yang tak kunjung menemukan pelabuhan hatinya.