Johan selalu ada buat Gadis.
Bukan dengan janji, bukan dengan kata cinta, tapi dengan kehadiran yang nyaris tak pernah absen.
Ia ada saat Gadis pulang dengan bahu jatuh dan mata lelah.
Ada saat Gadis bicara panjang tentang hari yang tidak adil.
Ada dalam bentuk pesan singkat tengah malam, dan kopi hangat yang disodorkan tanpa diminta.
Johan adalah tempat pulang yang tak pernah diakui sebagai rumah.
Mereka berjalan beriringan terlalu lama untuk disebut kebetulan, tapi terlalu menggantung untuk disebut hubungan.
Johan cemburu saat Gadis tertawa dengan orang lain, wajahnya berubah saat nama lelaki lain disebut. Namun setiap kali Gadis memberanikan diri bertanya, Johan selalu mundur satu langkah.
“Aku nggak mau merusak apa yang udah ada,” katanya.
Padahal, yang tak diberi nama justru perlahan rusak.
Gadis mencintai Johan dalam diam. Ia belajar menurunkan ekspektasi, belajar memahami tanpa diminta, belajar bertahan tanpa kepastian.
Tapi mencintai tanpa diperjuangkan adalah luka yang tumbuh pelan, nyaris tak terasa sampai suatu hari ia terlalu dalam.
Malam itu, Gadis memilih pergi.
Bukan dengan amarah. Bukan dengan air mata yang meledak. Ia hanya lelah menjadi seseorang yang selalu ada, tapi tak pernah dipilih. Lelah menjadi rumah yang tak pernah ditempati, hanya disinggahi saat hujan.
Kepergian Gadis meninggalkan sunyi yang aneh bagi Johan.
Tak ada lagi pesan “sudah makan?”, tak ada suara di ujung telepon yang mendengarkan tanpa menyela.
Baru saat itu Johan sadar kehadiran Gadis bukan sekadar teman, bukan kebiasaan, bukan pengisi waktu.
Ia adalah kehilangan.
Dengan keberanian yang selama ini disimpannya rapat-rapat, Johan mengejar Gadis.
Menyusulnya di tempat yang dulu sering mereka datangi, dengan napas terengah dan dada yang penuh penyesalan.
“Kamu itu rumah,” katanya, suara Johan bergetar. “Dan aku bodoh… karena baru menyadarinya sekarang.”
Gadis tersenyum.
Matanya basah, bukan karena sakit lagi, tapi karena akhirnya ia tahu kehadirannya memang punya arti.
Namun hidup tidak selalu adil pada waktu.
“Aku senang kamu sadar,” ujar Gadis pelan.
“Tapi aku capek menunggu.”
Ada cinta di antara mereka malam itu, tapi juga jarak yang sudah terlanjur tumbuh.
Johan datang saat Gadis hampir selesai dengan lukanya. Saat hatinya sudah belajar pulang ke dirinya sendiri.
“Apa aku terlambat?” tanya Johan, nyaris berbisik.
Gadis mengangguk kecil. “Bukan terlambat mencintai,” jawabnya. “Tapi terlambat memperjuangkan.”
Mereka berpisah tanpa pertengkaran. Tanpa saling membenci.
Hanya dua orang yang saling mencintai, tapi kalah oleh waktu dan keberanian yang datang terlalu akhir.
Dan sampai hari ini, Johan masih bertanya dalam diam.
Bukan lagi apa arti kehadiran Gadis untuknya.
Melainkan, apa artinya menyesal, ketika orang yang paling berarti sudah memilih pergi.