Cinta butuh kepastian dan penjelasan yang tepat, namun apa jikalau semua ini hanya dianggap mainan olehnya tanpa mengerti rasanya menunggu begitu lama.
Perkenalakan aku bernama Anya Handika, seorang wanita berusia 21 tahun, parasnya tidak begitu cantik dan tidak begitu jelek standar dari wanita-wanita diluaran sana.
Anya sekarang ini berdiri didepan toko setelah membeli peralatan untuk pindah kosan esok hari karena harus mulai bekerja besok. Kedua tangannya penuh dengan keresek hitam berukuran besar dia bawa seorang diri.
"ANYA HAI!."panggil seorang wanita dengan wajah senang melambaikan tangannya kearah Anya didepannya
Anya menolehkan wajahnya mencari sumber suara itu berasal, setelah melihat wajah familiar dia langsung menoleh begitu melihat sahabat dekatnya yang tidak sengaja bertemu ditempat ini.
"Eh.. Dina! Apa kabar lama banget kita tidak bertemu bagaimana kabarmu sekarang ?."ucap Anya dengan akrab setelah Dina berjalan mendekatinya dengan senang
"Alhamdulilah baik Anya, kabar kamu juga bagaimana?."ujar Dina sampai tersenyum kecil
"Kabarku alhamdulillah baik juga."jawab Anya dengan wajah senang
Pada saat Anya selesai bicara, Dina melihat beberapa kantong kresek hitam besar-besar membuat Dina sampai geleng-geleng kepala. Tenaga Anya kuat juga ketika membawa begitu banyak barang seorang diri.
"Habis beli apa saja kok banyak banget, terus kenapa cuma sendirian aja, kenapa tidak ajak cowok kamu itu saja."tanya Dina memperhatikan barang bawaan Anya yang begitu banyak
Anya tersenyum kecil sambil menundukkan kepalanya, lalu dengan tenang menjelaskan pada Dina.
"Aku habis beli peralatan buat pindah besok, jadi beli beberapa barang yang dibutuhkan. Kalau soal dia katanya dia sibuk jadi tidak bisa ikut aku belanja."ujar Anya dengan nada rendah tetapi tetap tenang
Mendengar perkataan Anya, ekspresi wajah Dina sejenak berubah heran kepada pria itu yang merupakan kekasih Anya. Seharusnya pria itu bisa menyempatkan waktunya untuk menemani Anya disini. Tapi ini malah tidak sama sekali, membiarkan Anya membawa belanjaan begitu banyak seorang diri tanpa bantuan orang lain dasar egois.
"Gimana sih tuh cowok, bukannya pacarnya ditemani belanja dia malah tidak bisa!."ejek Dina dengan kesal pada pria itu lagipula dirinya mengenal betul kekasih Anya
"Sudahlah Dina, aku tidak masalah belanja sendiri. Dia katanya ada kerjaan penting yang tidak bisa diganggu."ujar Anya menjelaskan bahwa kekasihnya memiliki urusan penting yang sulit ditunda
"Masak pekerjaan lebih penting baginya daripada pacarnya sendiri sih, kalau pacarku dia lebih mementing aku daripada pekerjaannya itu."ujar Dina dengan wajah kesal ketika membandingkan kekasih Anya dengan kekasihnya sendiri
Mendengar perkataan Dina, Anya hanya tersenyum kecil menanggapi tanpa bicara. Lagipula Anya tidak begitu memperdulikannya jika dia tidak ingin membantunya.
Mereka berdua sejenak terdiam sesaat, suasana seketika menjadi hening. Kemudian tidak lama Anya mulai buka suara dan membahas topik lain.
"Dina aku harus segera pergi sekarang, takut kelamaan untuk pindah kosan nanti."ucap Anya dengan wajah tenang sambil melihat jam ditangannya bahwa dia sudah terlalu lama disini
"Baiklah, hati-hati. Oh iya memangnya kamu pindah kosan dimana, biar sekali-kali aku bisa main kekosan kamu."ujar Dina mengangguk mengerti dan juga bertanya
"Di kosan Merpati putih girl dikota A, dan aku tinggal dinomer 3 dilantai atas."jawab Anya
"Oke, nanti aku bakal kesana."angguk Dina mengerti dan akan mengingatnya dengan baik
"Kalau gitu aku pergi dulu Dina, sampai jumpa!."ucap Anya lalu melangkah pergi meninggalkan Dina seorang diri
"Sampai jumpa juga Anya!."jawab Dina tersenyum kecil melambaikan
Kemudian Anya mulai bergegas pergi kekosan lamanya, begitu tiba dia mulai mengambil barang tas besar dan koper satu biji ditangannya.
Memanggil taksi yang kebetulan lewat didepan ketika dia berdiri didepan kosan dan siap pergi. Setelah memasukkan barang bawaannya, taksi yang dikendarai Anya melaju menuju tempat tujuan.
Beberapa saat berlalu, Anya telah sampai dikosan Merpati Putih Girl. Setelah mengeluarkan barang miliknya dan membayar taksi dia melangkah masuk kedalam dan menemui pemilik kosan untuk mengambil kunci kamarnya.