Malam itu hujan mengguyur jalanan kosong. Pia berdiri di depan cermin kamar mandi, kedua tangan menekuk erat tepi wastafel. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip menerangi setengah wajahnya—sisanya tertutup bayangan yang tampak lebih gelap dari biasanya.
"Dia bilang kamu harus berubah," bisiknya pelan, mata menatap bayangan yang ada di balik dirinya. Bayangan itu tidak bergerak sama sekali, bahkan ketika Pia sedikit menggeser badan. "Tapi aku tidak mau."
Suara dering telepon membuatnya terkejut. Dia berbalik, tapi bayangan di cermin tetap berada di tempatnya—seolah-olah ada sosok lain yang masih berdiri di sana. Di layar hp muncul nama yang tidak dikenali: "Yang Akan Mengubahmu". Pia mematikan telepon dengan cepat.
Sejak tiga hari yang lalu, hal-hal aneh mulai terjadi. Foto-fotonya di galeri selalu muncul bayangan orang tak dikenal berdiri di belakangnya. Pakaian yang digantung di lemari akan terjatuh sendiri, dengan bekas lengan yang menyentuh di bahunya. Malam ini, dia merasakan napas dingin menyentuh lehernya setiap kali dia hendak berbalik arah.
"Aku tetap akan menjadi diriku sendiri," tegas Pia, berbalik lagi ke arah cermin. Sekarang bayangan itu sudah tidak ada di sana. Dia menghembuskan napas lega, namun tiba-tiba merasakan sesuatu yang dingin menyentuh telapak tangannya di wastafel.
Dia melihat ke bawah.
Di permukaan wastafel yang basah, muncul tulisan dengan cairan yang tidak jelas warnanya: "Kamu tidak punya pilihan. Bayangan ini sudah menjadi milikmu."
Pia menjerit dan menarik tangannya. Ketika dia melihat ke cermin lagi, wajah yang ada di sana bukan miliknya—melainkan wajah dari bayangan yang selalu mengikutinya. Tapi ketika dia menyentuh cermin, hanya ada pantulan dirinya sendiri yang terlihat.
Teleponnya berdering lagi. Kali ini nama yang muncul adalah "Pia". Dia mengangkat panggilan dengan gemetar. Suara di ujung sana terdengar seperti miliknya sendiri, tapi lebih dalam dan penuh dengan kegelapan:
"Kau sudah mencoba melarikan diri. Sekarang dia akan datang untuk mengambil apa yang menjadi miliknya..."
Pia menjatuhkan telepon. Dari arah kamar tidur terdengar suara pintu yang perlahan terbuka. Dia tidak berani melihat ke sana. Di cermin, bayangan itu muncul lagi—kali ini dengan senyum yang menjijikkan, dan satu kalimat muncul di atas cermin dengan sendirinya:
"Kau tidak bisa menghapus apa yang sudah menjadi bagian dari dirimu."
Pia menutup mata erat-erat. Ketika dia membukanya kembali, cermin kosong. Tapi di lantai, ada jejak kaki basah yang berasal dari arah pintu kamar tidur... dan berhenti tepat di belakangnya.