Di sebuah warung makan kecil bernama "Rumah Rasa" yang terletak di gang kecil pusat kota, tinggal seorang pemilik muda bernama Lala. Ia mengelola warung itu sendirian setelah orang tuanya pindah ke kota lain, dengan semangat tinggi tapi seringkali bingung menghadapi pelanggan unik.
Salah satu pelanggan tetap yang selalu datang setiap hari jam 12 siang adalah Rio—seorang pekerja kantoran yang selalu memesan nasi goreng spesial plus teh tawar manis. Tapi ada kebiasaan anehnya: setiap kali datang, dia pasti salah bilang pesanan, atau salah ambil tas orang lain di warung, atau bahkan salah duduk di meja yang sudah ditempati!
Suatu hari, Rio datang seperti biasa. "Saya pesan nasi goreng spesial dan jus jeruk dong, Bu!" ujarnya sambil tersenyum lebar padahal Lala jelas bukan "Bu"—dia baru berusia 25 tahun!
Lala tidak bisa tidak tertawa, "Mas Rio, sudah sepuluh kali kamu bilang 'Bu' padaku lho! Dan kamu kan selalu pesan teh tawar manis, bukan jus jeruk?"
Rio langsung merah muka, "Waduh maaf ya... paginya lagi tergesa-gesa kerja, otak masih kabur. Bolehkah tetap pesan teh tawar aja ya?"
Sejak itu, setiap kali Rio datang, pasti ada kejadian lucu yang terjadi. Satu hari, dia membawa laptop kantornya tapi lupa bawa charger, akhirnya harus nungguin pesanan sambil nge-charge hp di stop kontak warung sambil terus bilang "Maaf ya gangguin listriknya". Hari lain, dia bahkan membawa bunga mawar tapi salah kasih ke pelanggan lain yang sedang datang sama pacarnya—bikin orang itu heran dan pasangannya cemburu!
Lala mulai merasa penasaran dan juga sedikit tersentuh dengan keanehan dan kesopanan Rio. Suatu hari, ketika warung sedang sepi setelah jam makan siang, Lala memutuskan untuk bertanya, "Mas Rio, kenapa kamu selalu bingung-bingungan setiap datang ke sini ya?"
Rio terdiam sejenak, kemudian mengeluarkan napas dalam-dalam, "Jujur aja Lala... aku suka sama kamu dari pertama kali datang ke warung ini. Tapi setiap kali melihat kamu, hati aku jadi berdebar kencang dan otak jadi kosong aja. Aku coba jadi pelanggan tetap supaya bisa sering melihat kamu, tapi malah jadi sering salah tingkah!"
Lala langsung tertawa terbahak-bahak tapi juga merasa senang, "Waduh Mas Rio... kamu tuh lucu banget! Aku juga sudah mulai suka sama kamu lho, dari dulu liat kamu yang selalu salah pesan tapi tetap sopan aja."
Dari saat itu, hubungan mereka mulai berkembang. Rio tidak lagi salah bilang pesanan—malah mulai membantu Lala merapikan meja atau mengambil pesanan dari pelanggan lain saat warung ramai. Namun kebiasaan lucunya tidak hilang sama sekali: satu hari dia coba bantu masak tapi salah masukkan gula ke dalam nasi goreng, bikin semua pelanggan yang pesan langsung terkejut dengan rasa manisnya tapi tetap bilang enak!
Beberapa bulan kemudian, Rio mengajak Lala keluar pertama kalinya. Dia membawa bunga mawar yang benar-benar untuknya, tapi malah salah jalan dan sampai terlambat dua jam—karena dia lupa bawa peta dan hp-nya kehabisan daya. Lala tidak marah malahan tertawa dan bilang, "Itu dia Mas Rio yang aku kenal!"
Pada hari ulang tahun Lala, Rio mengadakan kejutan di warung "Rumah Rasa". Dia memesan semua makanan spesial warung dan mengundang tetangga serta pelanggan tetap. Saat acara mulai meriah, Rio berdiri dan berkata, "Lala... kamu adalah orang yang membuat hari-hariku jadi penuh tawa dan kehangatan. Meskipun aku sering salah tingkah, apakah kamu mau jadi pasangan hidupku yang selalu mau menerima keanehan ku ini?"
Lala langsung menangis bahagia dan mengangguk, "Tentu aja Mas Rio! Aku suka sama kamu apa adanya, bahkan suka sama keanehan kamu yang bikin aku selalu senyum!"
Kini warung "Rumah Rasa" tidak hanya dikenal karena masakannya lezat, tapi juga karena kisah cinta pemiliknya yang penuh tawa dan kebahagiaan. Setiap pelanggan yang datang selalu diberitahu oleh Lala dan Rio tentang bagaimana cinta mereka dimulai dari kesalahan-kesalahan lucu yang membuat hati mereka saling terpikat.