EPISODE 17 :
DI GUDANG SEBENARNYA (TENGAH HUTAN TERENCENG)
Pak Samsudin berdiri dengan wajah memerah kemarahan. Ia melihat tubuh Zikri yang mulai berisi dengan pandangan penuh rasa tidak senang.
"Kau tidak pernah mendengarkan aku kan?! Aku sudah berusaha semaksimal mungkin membuatmu tetap kurus!" teriaknya sambil mengangkat tangan besarnya.
Tanpa ampun, ia mulai memukuli Zikri dengan brutal. Tangan dan kaki nya yang terikat dengan rantai besi membuat Zikri tidak bisa menghindar. Setiap pukulan membuatnya merasakan rasa sakit yang luar biasa, tapi dia tidak bisa berteriak keras karena tenggorokannya terbakar.
"Aku tidak ingin kau menjadi seperti aku! Tidak ingin kau terjebak di dunia yang sama denganku!" teriak Pak Samsudin setiap kali memukulnya. Darah mulai muncul di wajah dan tubuh Zikri, yang hanya bisa menutup mata dan menahan rasa sakit.
Setelah beberapa saat, Pak Samsudin berhenti dengan napas terengah-engah. Ia melihat Zikri yang terbaring lemah di lantai dengan wajah penuh rasa sakit, lalu menghela napas dengan keputusasaan. "Ini untuk kebaikanmu sendiri, Zikri."
DI GUDANG PALSU (PT. GARUDA JAYA MANDIRI)
Penyelidikan terus berlangsung dengan penuh semangat. Polisi sedang memeriksa setiap sudut kompleks gudang, mengambil sampel tanah, dan menanyai beberapa orang yang ditemukan di sekitar lokasi—semua orang yang sebenarnya dibayar oleh Pak Samsudin untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Markonah hanya bisa berdiri diam di tengah gudang kosong itu. Pikirannya hanya fokus pada Zikri—dia tidak berpikir apakah tempat ini benar atau tidak, tidak mempertanyakan mengapa semua jejak hanya berhenti di sini. Dia hanya ingin menemukan Zikri secepat mungkin karena dia tahu Zikri tidak sekuat dirinya dan pasti sedang dalam bahaya.
"Kapan kita bisa menemukan dia?" tanya Markonah dengan suara serak kepada salah satu petugas polisi.
"Kita sedang melakukan yang terbaik, Nona. Kita akan terus mencari jejak baru," jawab petugas itu dengan nada menenangkan.
Lala berdiri di dekatnya, sedang mencoba menganalisis peta tapi tidak menemukan jalan lain yang bisa diambil. Boris terus mengendus-endus udara dengan mata merah menyala, tapi tidak bisa menemukan bau Zikri yang benar karena semua yang ada di sini adalah jejak palsu.
Belum ada titik terang sedikit pun. Semua orang yang terlibat dalam penyelidikan tidak menyadari bahwa mereka telah terperangkap dalam jebakan yang dirancang dengan cermat oleh Pak Samsudin. Bahkan polisi pun yakin bahwa mereka sedang berada di jalur yang benar, padahal mereka semakin jauh dari kebenaran tentang di mana Zikri sebenarnya berada.
DI DEKAT KOMPLEKS PT. GARUDA JAYA MANDIRI
Markonah sudah hampir menyerah. Badannya terasa sangat lelah dan harapannya mulai sirna melihat penyelidikan polisi yang tidak menghasilkan apa-apa. Namun, saat ia hendak berbalik pergi, matanya tiba-tiba tertuju pada sesuatu di tanah basah di ujung area PT. Garuda Jaya Mandiri.
"Bekakak mobil lagi!" teriaknya dengan mata yang kembali bersinar.
Bekakak itu berbeda dari yang mereka ikuti sebelumnya—roda mobilnya lebih besar dan bekasnya lebih dalam, seolah membawa beban yang berat. Tanpa berpikir panjang, Markonah segera menarik lengan Lala dan memberi isyarat pada Boris untuk mengikuti jejak itu.
"Kita tidak bilang ke polisi ya," bisik Markonah. "Kalau kita bilang, khawatir mereka mengganggu atau ada yang menyadari dan mengganggu Zikri."
Lala mengangguk cepat sambil menegakkan badan yang juga sudah lelah. Boris langsung siap bergerak, mengendus udara untuk mengkonfirmasi arah yang benar.
DI PERJALANAN KE HUTAN
Jejak mobil mengarah jauh ke arah hutan yang lebat. Jalanannya sangat sulit—tanah berlumpur, rerumputan tinggi menyambar tubuh mereka, dan matahari yang terik membuat mereka merasa sangat haus.
"Saya bawa air minum!" ujar Lala dengan senyum lega, mengeluarkan botol kecil dari dalam tasnya.
Markonah menerima botol dengan tangan gemetar, kemudian meminumnya sedikit demi sedikit sebelum memberikannya kembali kepada Lala dan memberi juga pada Boris yang sedang mengirap. Tanpa air itu, mungkin Markonah sudah tidak bisa melanjutkan perjalanan karena dehidrasi yang drastis.
Mereka berjalan selama berjam-jam hingga siang bolong tiba. Matahari terik menyengat di atas kepala, tapi tekad mereka untuk menemukan Zikri tidak pernah patah.
Akhirnya, dari kejauhan, mereka melihat sosok sebuah gudang kecil yang terletak di tengah hutan. Gudangnya terlihat sangat tua dan terabaikan, dengan atap yang sebagian roboh dan dinding kayu yang sudah mulai lapuk. Lokasinya sangat terpencil, jauh dari jalan raya atau pemukiman mana pun.
"Itu pasti tempatnya!" bisik Markonah dengan suara penuh harapan. Ia merasakan detak jantungnya semakin cepat—rasa yang sama seperti ketika ia tahu Zikri ada di dekatnya.
Boris juga mulai menggeram dengan nada berbeda, seolah merasakan keberadaan Zikri di dalam gudang itu. Mereka berjalan lebih cepat lagi, menyusuri jalan kecil yang semakin menyempit menuju lokasi gudang yang misterius itu.