EPISODE 15 :
Di dalam gudang yang gelap dan lembap, Zikri masih terbaring lemah di atas tanah liat yang basah. Jamur mulai tumbuh di sudut-sudut ruangan dan bahkan sedikit menyentuh ujung seragam SMA Garuda-nya yang diletakkan di atas lantai kayu yang sudah lapuk. Rantai besi yang mengikat tangannya dan kakinya terasa semakin berat, membuatnya sulit untuk bergerak sedikit pun.
Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, tapi udara yang penuh dengan bau lembap dan zat kimia membuatnya batuk-batuk. Tubuhnya mulai menggigil karena dingin, dan rasa lapar serta dahaga mulai menyerang. Namun pikirannya tetap fokus pada satu hal—harapan bahwa Markonah akan datang menyelamatkannya.
"Markonah... kamu pasti sedang mencari aku," gumam Zikri pelan, matanya menatap arah pintu gudang yang tertutup rapat.
Sementara itu, di Kantor Kepolisian Kecamatan Suka Kayang, ruang penyelidikan penuh dengan kegembiraan yang terkendali. Petugas polisi yang memeriksa gelang karet merah menemukan logo kecil berbentuk burung garuda yang sangat khas. Setelah melakukan pencarian cepat di database perusahaan lokal, mereka menemukan jawabannya.
"Ini logo PT. Garuda Jaya Mandiri! Perusahaan kontraktor yang sudah tidak aktif selama setahun, tapi kantor dan gudangnya masih ada di kawasan industri luar kota," jelas salah seorang petugas kepada kepala penyidik.
"Segera lakukan pengecekan lokasi mereka! Jangan lupa beritahu tim operasi untuk bersiap," perintah kepala penyidik dengan suara tegas. "Kita harus menemukan anak itu sebelum terlambat."
Petugas segera menghubungi tim patroli dan menyusun rencana untuk mengunjungi lokasi gudang PT. Garuda Jaya Mandiri. Mereka juga mencoba menghubungi Markonah untuk memberitahu petunjuk yang ditemukan, namun teleponnya tidak dapat dihubungi karena lokasi di kawasan industri yang sinyalnya sangat lemah.
"Kita harus bergerak cepat. Siapa tahu anak-anak itu sudah sampai di sana sebelum kita," ucap salah seorang polisi sambil mengambil perlengkapan yang dibutuhkan.
Di belakang layar, mereka juga mulai menyelidiki mengapa perusahaan yang sudah tidak aktif itu terkait dengan penculikan Zikri. Beberapa nama mantan karyawan mulai muncul sebagai orang yang perlu diperiksa, termasuk seorang mantan supervisor yang dikenal memiliki masalah dengan hutang dan sering terlibat dalam kekerasan jalanan.
Semua petunjuk mulai menyatu, dan polisi semakin yakin bahwa mereka sudah berada di jalur yang benar untuk menyelamatkan Zikri.
Bekakak mobil yang mereka ikuti mulai semakin sulit dilihat seiring dengan jalan yang semakin tidak terawat. Lumpur menggantikan pasir, dan rerumputan yang tinggi hampir menutupi seluruh jejak. Markonah menatap sekeliling dengan tatapan waspada, sementara Boris mengendus-endus udara setiap beberapa langkah untuk mengkonfirmasi arah yang benar.
"Jejaknya mulai hilang di sini," ujar Markonah dengan nada khawatir. Ia berhenti di tengah jalan tanah yang bengkok, melihat ke kanan dan kiri tanpa menemukan bekas roda yang jelas.
Lala segera membuka peta kecilnya, menoleh ke sana kemari sambil membandingkan dengan lokasi sekitar. "Menurut peta, jalan ini hanya ada satu yang masuk ke kawasan gudang tua di depan sana," katanya sambil menunjuk ke arah kejauhan yang tampak ada beberapa bangunan tinggi dengan cerobong yang sudah tidak berasap.
Markonah mengangguk setuju. "Meskipun tidak ada bekakak lagi, itu pasti tempatnya. Mari kita lanjut, tapi lebih hati-hati lagi ya."
Mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan menyusuri jalan yang semakin menyempit. Udara semakin dingin, dan kabut tipis mulai menyelimuti kawasan itu. Boris semakin sering menggeram rendah, seolah merasakan keberadaan bahaya yang semakin dekat.
Setelah beberapa menit berjalan, mereka melihat pagar besi berkarat yang mengelilingi komplek gudang besar. Di atas pagar, masih terbaca tulisan yang sudah pudar: PT. GARUDA JAYA MANDIRI.
"Ini pasti tempatnya!" bisik Lala dengan suara gemetar tapi penuh kegembiraan.
Markonah segera menarik Lala untuk bersembunyi di balik semak tinggi yang lebat. Ia melihat sekeliling pagar dan menemukan sebuah celah kecil di sudut paling belakang, di mana pagar sedikit roboh akibat usia dan cuaca.
"Kita masuk dari sini," bisik Markonah kepada keduanya. "Lala, kamu tetap di luar ya? Kamu jadi pengawal dari belakang dan jika ada sesuatu yang salah, kamu harus langsung mencari bantuan."
Lala ingin menolak, tapi melihat tatapan tegas Markonah, akhirnya ia mengangguk. "Baiklah, tapi hati-hati ya kalian berdua!"
Markonah mengangguk dan kemudian menyelinap melalui celah pagar bersama Boris. Mereka bergerak dengan sangat perlahan di antara gudang-gudang yang kosong, hingga akhirnya menemukan gudang terbesar di tengah komplek—dengan pintu kayu yang terbuka selebar sesekali dan ada sedikit cahaya yang keluar dari celah jendela.
Boris mulai menggeram lebih keras, matanya menyala melihat pintu gudang itu. Markonah tahu bahwa Zikri ada di dalam sana. Ia mengeluarkan tongkat kayu yang dibawanya dari tali pinggang, siap menghadapi apa saja yang ada di dalam.