Cinta pertama selalu datang tanpa aba-aba. Ia tidak mengetuk pintu, tidak memperkenalkan diri, dan tidak memberi waktu untuk bersiap. Ia hadir begitu saja—seperti hujan pertama setelah musim kemarau, terasa asing, dingin, tapi menenangkan.
Bagi Nara, cinta pertama datang dalam bentuk seorang anak laki-laki bernama Raka.
Ia duduk di bangku dekat jendela kelas VIII-B, selalu datang lebih awal, dan punya kebiasaan memutar pulpen di antara jari-jarinya saat berpikir. Tidak ada yang istimewa dari Raka pada pandangan pertama. Ia bukan siswa paling pintar, bukan pula yang paling populer. Tapi entah mengapa, sejak hari itu, mata Nara selalu menemukannya lebih dulu.
Hari itu hari Senin, dan wali kelas memperkenalkan murid pindahan baru.
“Namanya Raka Adhitya,” kata bu guru. “Tolong dibantu menyesuaikan diri, ya.”
Raka berdiri, sedikit canggung.
Senyumnya tipis, matanya sempat berkeliling sebelum akhirnya bertemu dengan mata Nara—hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat jantung Nara lupa cara berdetak dengan benar.
Sejak saat itu, hal-hal kecil mulai terasa berbeda.
Suara bel masuk tidak lagi hanya berarti pelajaran dimulai, tapi juga kesempatan melihat Raka duduk dan membuka bukunya. Jam istirahat bukan sekadar waktu makan, melainkan momen mencuri pandang dari jauh. Bahkan tugas kelompok terasa lebih ringan hanya karena ada kemungkinan nama mereka berada di kertas yang sama.
Nara tidak pernah menceritakan perasaannya pada siapa pun. Ia terlalu takut kata-kata itu akan terdengar berlebihan jika diucapkan. Lagipula, apa yang bisa ia jelaskan? Bahwa ia menyukai seseorang hanya karena cara orang itu tertawa kecil saat gugup? Atau karena caranya menunduk saat dipuji?
Cinta pertama memang sering kali tidak masuk akal.
Suatu hari, hujan turun deras saat jam pulang sekolah. Siswa-siswa berkerumun di teras, menunggu hujan reda. Nara berdiri sambil memeluk tasnya, berharap hujan segera berhenti, atau seseorang menjemputnya.
“Rumah kamu jauh?” suara itu datang dari samping
Nara menoleh. Raka.
“E—enggak terlalu,” jawabnya gugup.
Raka mengangguk. “Aku juga. Tapi sepertinya hujannya lama.”
Mereka berdiri dalam diam yang aneh. Tidak canggung, tapi juga tidak sepenuhnya nyaman. Hanya suara hujan yang mengisi ruang di antara mereka.
“Aku boleh nebeng payung?” tanya Raka akhirnya, sambil mengangkat payung hitamnya.
Nara mengangguk cepat, sebelum pikirannya sempat menghalanginya.
Mereka berjalan berdampingan. Bahu mereka hampir bersentuhan, dan setiap langkah terasa terlalu dekat sekaligus terlalu jauh. Tidak ada percakapan berarti, hanya kalimat-kalimat pendek yang tertelan hujan.
Tapi hari itu, Nara pulang dengan senyum yang tidak bisa ia jelaskan.
Sejak hari itu, hubungan mereka berubah—sedikit, tapi cukup terasa. Mereka mulai saling menyapa lebih dulu.
Sesekali duduk bersebelahan saat ada tugas kelompok. Raka pernah meminjamkan penghapus, Nara pernah membagi bekal.
Hal-hal kecil. Tapi justru itulah yang membuatnya istimewa.
Namun, cinta pertama jarang berjalan mulus.
Rumor mulai beredar. Ada yang bilang Raka dekat dengan siswi kelas lain. Ada yang bilang ia akan pindah lagi mengikuti orang tuanya.
Nara tidak tahu mana yang benar, dan ia tidak cukup berani untuk bertanya.
Ia memilih diam.
Hari demi hari berlalu, hingga suatu sore Raka tidak datang ke sekolah.
Besoknya juga tidak. Hingga akhirnya bu guru mengumumkan bahwa Raka pindah sekolah—lagi.
Tidak ada perpisahan. Tidak ada pesan. Tidak ada penjelasan.
Nara duduk di bangkunya, menatap kursi kosong dekat jendela. Untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa sunyinya kelas tanpa kehadiran seseorang yang tidak pernah benar-benar ia miliki.
Minggu-minggu berlalu. Perasaan itu tidak hilang, hanya berubah bentuk. Dari harapan menjadi kenangan. Dari debar menjadi rindu yang tidak tahu harus ditujukan ke mana.
Bertahun-tahun kemudian, Nara menemukan sebuah nama di daftar pertemanan media sosialnya: Raka Adhitya.
Ia menatap layar lama sekali sebelum akhirnya menutup aplikasi itu. Bukan karena masih berharap, tapi karena ia sadar—cinta pertama tidak selalu tentang memiliki.
Kadang, ia hanya tentang mengingat.
Tentang seseorang yang pernah membuat dunia terasa lebih terang, meski hanya sebentar. Tentang perasaan yang mengajarkan bagaimana rasanya menyukai seseorang tanpa syarat.
Cinta pertama memang jarang berakhir bahagia. Tapi ia selalu menjadi yang paling jujur.
Dan hingga hari itu, setiap kali Nara mendengar suara hujan, ia masih mengingat satu nama—nama yang pertama.