Hari masih gelap. Matahari belum berani menampakkan diri, dan suara ayam pun belum terdengar. Hutan masih menyimpan dinginnya malam, basah oleh embun yang menggantung di daun-daun.
Di tengah kesunyian itu, seorang anak kecil berjalan menyusuri sungai. Tangannya yang kurus memanggul ember, bolak-balik mengambil air,seember demi seember. Nafasnya terengah, tapi langkahnya tak pernah berhenti.Namanya Rafa. Usianya tujuh tahun.
Ia hidup hanya dengan ibunya, berdua, di sebuah gubuk kecil yang berdiri terpencil di pinggir hutan. Orang-orang desa menjauhi mereka. Bukan karena benci, melainkan karena takut, takut pada penyakit yang katanya bersarang di tubuh ibu Rafa. Ada yang bilang TBC, ada pula yang menyebut penyakit menular lain. Tak ada yang benar-benar tahu, dan tak ada pula yang benar-benar peduli.
Ibunya sakit parah. Tak ada uang untuk dokter. Maka Rafa, dengan tubuh sekecil itu, merawat ibunya seorang diri.
Pagi itu, setelah ember terakhir diletakkan, Rafa pulang dengan senyum kecil. Di tangannya, seekor ikan hasil tangkapan dari sungai.
“Bu… ibu,” panggilnya pelan sambil masuk ke gubuk.
“Rafa baru pulang ambil air. Tadi juga dapat ikan. Ibu mau ikan goreng atau bakar?”
Wajahnya berseri, matanya penuh kasih sayang, seolah dunia tak pernah kejam padanya.
Ibunya membuka mata perlahan. Suaranya lemah, hampir tenggelam oleh batuk.
“Aduh, Nak… ibu masih kenyang. Rafa saja yang makan, ya.”
Rafa terdiam.
“Tapi… dari kemarin ibu belum makan.”
Ibunya tersenyum tipis.
“Nanti kalau ibu lapar, ibu pasti makan.”
Rafa tahu itu bohong.Tapi ia mengangguk.
Ia pergi ke belakang gubuk, menyusun kayu kecil, meniup api hingga menyala. Ikan itu dibakar sederhana, tanpa bumbu, hanya api dan kesabaran.
“Ibu… kita makan berdua, ya,” katanya saat kembali.
Dan mereka pun makan bersama. Satu ikan kecil, dibagi dua. Tak ada nasi, tak ada lauk lain. Hanya rasa lapar yang ditahan, dan cinta yang dibagi.
Hari berganti.
Setiap pagi Rafa masuk hutan, mengumpulkan kayu kering. Kayu itu ia jual ke warga desa. Saat ia datang, orang-orang menjaga jarak. Ada yang menutup hidung, ada yang berbisik-bisik. Rafa pura-pura tak mendengar. Dengan uang hasil jual kayu, ia membeli beras—sedikit, cukup untuk hari itu saja.
Sore itu, Rafa pulang lebih cepat. Ibunya tertidur pulas.
“Ibu capek, ya…” gumamnya sambil menyelimuti tubuh ibunya yang semakin kurus.
Namun pagi berikutnya, setelah mengambil air dari sungai, Rafa kembali membangunkan ibunya. Tubuh itu tetap diam. Tak ada batuk. Tak ada keluhan.
“Ibu?” panggilnya pelan.
“Bangun, Bu…”
Tak ada jawaban.
Rafa kembali ke hutan, melakukan pekerjaannya seperti biasa.Saat menjual kayu, seorang warga bertanya, “Rafa, bagaimana keadaan ibumu?”
“Ibu dari kemarin tidur terus, Pak… nggak bisa dibangunin,” jawabnya polos.
Wajah bapak itu langsung berubah. Ia bergegas mengikuti Rafa pulang.
Dan di sanalah kebenaran itu menunggu.
Ibunya telah pergi. Tanpa suara. Tanpa pamit.
Warga desa akhirnya datang. Mereka menguburkan ibunya dengan layak. Ada rasa sesal yang tak terucap di wajah-wajah mereka, sesal yang datang terlambat.
Seseorang mengajak Rafa tinggal bersama. Anak itu menggeleng pelan.
Ia memilih tetap tinggal di gubuk kecil itu. Di tempat ibunya terakhir tersenyum. Di tempat setetes embun pagi dulu menemani langkahnya.
Beberapa hari setelah pemakaman, pagi kembali datang seperti biasa. Gelap masih menggantung, dan hutan tetap dingin. Rafa bangun lebih awal, mengambil ember, lalu berjalan ke sungai. Tak ada yang berubah—kecuali rumahnya.
Saat kembali, ia menuang air ke tempayan. Tanpa sadar, ia berseru kecil,
“Bu, airnya sudah diambil…”
Tak ada jawaban.
Rafa terdiam lama. Lalu ia duduk di lantai tanah, memeluk ember itu. Untuk pertama kalinya sejak ibunya pergi, ia menangis. Tangisnya pelan, seolah takut mengganggu siapa pun.
Ia mengambil satu piring, meletakkannya di depan tempat tidur ibunya yang kini kosong. Di atasnya, ia taruh segenggam nasi dan sepotong ikan kecil.
“Kalau ibu lapar nanti, makan ya…” bisiknya.
Pagi itu, setetes embun jatuh dari atap gubuk tepat di piring itu. Rafa menatapnya lama. Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa sesak.
Ia hanya tahu, sejak hari itu, ia selalu menyiapkan dua piring.
Dan selalu ada satu yang tak pernah tersentuh.