Takdir yang Pernah Terbilang di Benah, di Benak, dan Kehidupan
Takdir itu dulu hanya terbilang di benah Rania—pelan, seperti doa yang tak berani ia ucapkan lantang. Ia sering membayangkannya saat senja turun: hidup yang tenang, hati yang lapang, dan seseorang yang hadir bukan sekadar menemani, melainkan menuntun. Namun benah hanyalah tempat harap bersembunyi, bukan kepastian.
Waktu berjalan, dan takdir itu pindah ke benaknya. Ia mulai berpikir realistis—tentang usaha, tentang pilihan, tentang kegagalan yang mengajarinya bangkit. Rania belajar bahwa tidak semua yang diinginkan harus dikejar dengan tergesa. Ada yang perlu ditunggu dengan sabar, ada yang perlu dilepaskan dengan ikhlas. Benaknya penuh pertanyaan, tapi juga perlahan dipenuhi keyakinan.
Hingga suatu hari, kehidupan menjawab tanpa banyak kata. Takdir yang dulu hanya tinggal bayang, kini hadir dalam bentuk langkah-langkah kecil: keputusan yang tepat, pertemuan yang sederhana, dan hati yang merasa cukup. Rania tersenyum, menyadari bahwa takdir tak selalu datang sesuai rencana, tetapi selalu tiba tepat pada waktunya. Apa yang dulu terbilang di benah dan berputar di benak, akhirnya menemukan rumahnya dalam kehidupan.