Murid Baru, Cerita Baru
Hari Senin selalu terasa sibuk, apalagi di awal semester. Kelas VIII-C tampak ramai ketika wali kelas masuk membawa seorang siswi baru. Najwa yang duduk di bangku tengah menoleh pelan, penasaran seperti teman-teman lainnya.
“Anak-anak, ini murid baru kita. Namanya Lala,” kata Bu Guru sambil tersenyum.
Lala melangkah ke depan kelas dengan wajah sedikit gugup. “Halo, semoga kita bisa berteman dengan baik,” ucapnya singkat.
Najwa menangkap tatapan Lala yang tampak ragu. Tanpa berpikir panjang, Najwa menggeser tasnya dan memberi isyarat ke bangku kosong di sampingnya. Lala tersenyum lega lalu duduk di sana.
Hari pertama berjalan pelan bagi Lala. Ia masih sering bingung dengan jadwal dan kebiasaan sekolah. Najwa dengan sabar membantu—meminjamkan buku, menjelaskan pelajaran, dan mengajak Lala berkeliling sekolah saat jam istirahat.
“Terima kasih ya,” kata Lala tulus. “Aku takut nggak punya teman.”
Najwa tersenyum. “Semua juga pernah jadi murid baru.”
Hari-hari berikutnya, mereka semakin akrab. Najwa mengetahui bahwa Lala pindah karena orang tuanya bekerja di kota baru. Lala juga belajar banyak dari Najwa tentang cara beradaptasi dan percaya diri.
Suatu hari, Lala mendapat tugas presentasi dan terlihat sangat gugup. Najwa menyemangati dan berlatih bersamanya sepulang sekolah. Saat presentasi berlangsung, Lala berhasil menyampaikan dengan baik. Tepuk tangan teman-teman membuatnya tersenyum bangga.
Sejak saat itu, Lala tidak lagi merasa sendirian. Ia belajar bahwa keberanian sering tumbuh dari dukungan seorang teman.
Bagi Najwa, kehadiran Lala mengajarkannya arti peduli dan empati. Bagi Lala, Najwa adalah awal dari cerita barunya di sekolah.
Karena terkadang, murid baru bukan hanya membawa cerita baru untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang-orang yang ia temui.
Amanat
Sikap ramah, peduli, dan saling membantu dapat membuat seseorang merasa diterima. Persahabatan yang baik dimulai dari empati dan keberanian untuk menyapa.