Bel pertama hari Senin berbunyi ketika matahari baru naik setengah.
Suasana kelas X-B masih riuh oleh suara kursi yang digeser dan tawa kecil siswa yang saling menyapa.
Alya duduk di bangku dekat jendela, menyiapkan buku pelajaran sambil menatap halaman sekolah yang mulai ramai.
Pintu kelas terbuka perlahan.
“Anak-anak, hari ini kita kedatangan siswa baru,” kata Bu Rini sambil melangkah masuk.
Di belakangnya berdiri seorang siswa laki-laki dengan seragam rapi dan tas sederhana di punggungnya.
“Namanya Raka.
Silakan perkenalkan diri.”
Raka melangkah maju.
“Halo, saya Raka.
Semoga kita bisa belajar bersama,” ucapnya singkat.
Saat itulah Alya tanpa sengaja menoleh.
Pandangan mereka bertemu, dan Raka tersenyum. Senyum yang sederhana, tidak berlebihan, namun terasa hangat.
Alya membalas dengan anggukan kecil, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Jam pertama dimulai.
Bu Rini menjelaskan pelajaran, namun Alya merasa waktu berjalan lebih lambat. Bukan karena bosan, melainkan karena pikirannya masih teringat senyum singkat di awal pelajaran itu.
Saat pembagian kelompok, Raka duduk tidak jauh darinya.
Mereka bekerja sama mengerjakan tugas, berbincang seperlunya tentang soal dan buku. Tidak ada hal istimewa, namun Alya merasa nyaman.
Ketika bel istirahat berbunyi, Raka berkata pelan, “Terima kasih sudah membantu.”
Alya tersenyum.
“Sama-sama.”
Hari itu berlalu seperti hari sekolah lainnya.
Namun bagi Alya, jam pertama di hari Senin itu terasa berbeda.
Ia belajar satu hal sederhana:
Kadang, senyum kecil di awal pertemuan bisa menjadi awal cerita yang berkesan.