Matahari sore itu memantulkan seburat jingga pekat di ufuk barat. Alea duduk di bangku taman belakang yang jauh dari keriuhan pesta kebun perayaan ulang tahun pernikahan perak kerabatnya.
Di tangannya, sebuah ponsel menampilkan berita tentang gugatan seorang anak kepada ibunya sedang memuncaki trending topic, dan entah mengapa, setiap baris kalimat di sana terasa seperti sembilu yang menyayat kulit Alea sendiri.
Dunia sedang haus darah. Kolom komentar penuh dengan penghakiman:
“Ibu macam apa yang menelantarkan darah dagingnya?”
“Surga di telapak kaki ibu, tapi ibu ini tidak layak punya surga.”
Alea mematikan layar ponselnya. Ia merasa mual. Bukan karena berita itu, tapi karena bayangan dirinya sendiri yang terpantul di sana. Alea tahu rasanya menjadi sasaran tembak. Ia tahu rasanya berdiri di tengah lapangan luas sementara orang-orang melemparinya dengan batu moralitas, tanpa ada satu pun yang bertanya, Ke mana perginya pria yang ikut menanam benih itu?
Dari kejauhan, tawa dari seseorang yang sangat dikenalnya terdengar memenuhi ruangan. Itu suara Baskara.
Baskara sedang berdiri di dekat meja prasmanan, memegang piring porselen dengan gestur yang sangat tenang. Ia tampak berwibawa dengan kemeja linen biru pucat yang licin disetrika. Di sampingnya, istrinya yang anggun sesekali membetulkan kerah baju Baskara dengan penuh kasih.
Baskara adalah potret kesuksesan seorang pria yang "selesai" dengan masa lalunya, seorang pemimpin yang dihormati, dan ayah yang tampak begitu menyayangi anak-anaknya.
Melihat pemandangan itu, dada Alea sesak. Ingatannya dipaksa mundur ke masa kelam dalam hidupnya.
Dulu, di sebuah kontrakan sempit yang pengap, Alea pernah bersimpuh di kaki Baskara. Ia menangis hingga sesak napas, memohon agar pria itu tidak pergi. Saat itu, Alea baru saja melahirkan seorang bayi perempuan yang tak diinginkan oleh dunia.
Dunia menyebutnya "anak haram", sebuah label yang secara otomatis disematkan pada dahi si ibu dan si anak, tapi entah kenapa, label itu selalu meleset dari dahi si ayah.
"Aku tidak bisa, Al. Karirku baru saja mulai. Keluarga besarku bisa hancur kalau tahu ini,"
Suara Baskara waktu itu begitu datar, sedingin es kutub. Ia meletakkan sejumlah uang di atas meja kayu yang mulai lapuk. Uang yang jumlahnya tak sebanding dengan trauma yang akan dipikul Alea seumur hidup.
"Anggap saja ini bantuan terakhir. Tolong, jangan cari aku dan jangan katakan pada keluarga yang lain. Kita sama-sama tahu ini kesalahan kita, tapi kamu yang paling tahu cara mengatasinya."
“Kamu yang paling tahu cara mengatasinya.”
Bagi pria seperti Baskara, "mengatasi" berarti menghilang. Baginya, kesalahan adalah debu yang bisa dibersihkan dengan air. Namun bagi Alea, kesalahan itu adalah sebuah prasasti yang dipahat dalam-dalam di punggungnya. Ia harus membawa beban itu ke mana pun ia pergi.
Saat Alea memutuskan untuk merawat bayinya seorang diri karena tak ingin mengulang dosa, dunia meludahi wajahnya. Ia disebut jalang.
Namun, tidak ada satu pun orang yang mencari Baskara. Tidak ada yang bertanya di mana pria yang mematikan ponselnya saat Alea butuh biaya persalinan. Tidak ada yang menghujat pria yang asyik berpesta saat Alea harus bekerja dua shift sebagai buruh pabrik hanya untuk menyambung hidup yang hancur.
Kini, di pesta kebun ini, kesenjangan itu terlihat begitu telanjang.
Seorang kerabat mendekati Alea, namanya Tante Widya. Tanpa basa-basi, ia duduk di samping Alea dan mulai berbisik dengan nada sok prihatin. "Al, kamu lihat berita yang lagi viral itu? Miris ya. Zaman sekarang kok banyak ibu yang tega. Kamu jangan sampai seperti itu ya, Al. Walaupun dulu kamu... yah, kita tahu sendirilah sejarahmu, tapi setidaknya kamu harus tunjukkan kalau kamu sudah bertobat."
Alea hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung lebih banyak kepahitan daripada madu. "Kenapa hanya ibunya yang disalahkan, Tante? Di mana ayahnya?"
Tante Widya mendengus, seolah pertanyaan Alea adalah hal yang konyol. "Yah, laki-laki kan memang begitu, Al. Mereka itu makhluk logika. Kalau sudah terjepit, ya pergi. Tapi perempuan kan punya rahim, punya perasaan. Harusnya perempuan yang lebih bisa menjaga diri. Kalau perempuan sudah rusak, ya rusaklah semuanya."
Logika yang cacat itu sudah didengar Alea ribuan kali. Perempuan dianggap sebagai "penjaga moral" tunggal. Jika sebuah keluarga runtuh, itu salah ibu. Jika seorang anak nakal, itu salah ibu. Dan jika seorang pria pergi meninggalkan tanggung jawab, itu dianggap sebagai "sifat dasar laki-laki" yang harus dimaklumi.
Baskara berjalan mendekat ke arah mereka untuk mengambil gelas minum di meja dekat bangku Alea. Ia sempat berhenti, menatap Alea dengan tatapan yang kosong, seolah Alea adalah orang asing yang pernah ia lihat di iklan pinggir jalan.
"Hai, Al. Apa kabar?" sapanya dengan nada yang sangat sopan. Seolah tidak pernah ada darah dan air mata yang tumpah di antara mereka
"Kabar baik, Bas," jawab Alea. "Tadi aku sedang bahas berita yang lagi viral. Tentang anak yang menggugat ibunya. Kamu sudah dengar?"
Alis Baskara terangkat sedikit. Ia menyesap minumannya. "Oh, itu. Ya, sangat disayangkan. Tapi jujur saja, aku tidak suka drama seperti itu. Terlalu berisik. Orang-orang harusnya bisa menyelesaikan masalah secara privat tanpa harus mempermalukan diri di depan publik."
Alea hampir tertawa terbahak-bahak mendengar kata "mempermalukan diri". Baskara tidak takut pada dosa, ia hanya takut pada rasa malu. Ia tidak takut pada Tuhan, ia hanya takut pada opini publik.
Alea kembali menatap mata Baskara dalam-dalam. Ia mencari sedikit saja gurat rasa bersalah, sedikit saja getaran kecemasan. "Bas. Cheryl sekarang sudah kelas empat SD. Dia juara kelas. Kau lihat sendiri kan, dia cantik, matanya persis seperti matamu."
Baskara menoleh pada gadis kecil yang kini bermain dengan "saudara saudaranya" yang lain. Tapi hanya sekejap. Ia kembali memakai topeng ketenangannya. Ia memperbaiki posisi jam tangan Rolex-nya yang mengkilap. "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan, Al. Jangan bawa-basa basi yang tidak perlu di sini. Nikmati saja pestanya.”
“Itu bukan basa basi, Bas. Bayangkan jika Cheryl juga menuntut balas padamu. Dan kau seolah melupakan semuanya seperti tak terjadi apapun.”
Wajah Baskara sedikit menegang, tapi hanya sekejap. Ia kembali memakai topeng ketenangannya. "Laki-laki itu berbeda, Al. Secara biologis dan sosial, beban itu memang lebih besar di pihak wanita. Itu sudah hukum alam. Kita tidak bisa mengubahnya."
"Hukum alam atau hukum yang dibuat oleh pria untuk melindungi sesama pria?" tanya Alea retoris.
Baskara hanya tersenyum merendahkan, lalu pamit pergi karena istrinya memanggil. Alea melihat punggung Baskara yang menjauh. Punggung itu tampak begitu ringan, seolah tidak ada beban apa pun yang ia panggul. Sementara itu, Alea merasakan bahunya sendiri merosot.
Malam itu, setelah pesta usai, Alea pulang ke rumah kontrakannya dengan menggendong Cheryl yang terlelap karena kelelahan bermain dengan “adiknya” (mungkin). Lalu Ia berdiri di depan cermin, melihat garis-garis halus di wajahnya garis-garis yang lahir dari kerja keras dan kesepian.
Ia mengambil selembar foto lama yang sudah memudar, foto dirinya dan Baskara yang tersenyum merajut janji manis namun kini menghilang ditelan dusta.
Alea merobek foto itu, Ia membenci kenyataan bahwa ia harus memikul rasa bersalah itu sendirian. Ia teringat lagi pada berita artis yang dibicarakan orang-orang. Ia melihat bagaimana seorang ibu dikuliti hidup-hidup, sementara sosok ayah nyaris tidak pernah disebut.
Dunia seolah-olah setuju untuk membiarkan pria itu tetap menjadi bayangan yang tak tersentuh. Alea menyadari, kesenjangan gender bukan hanya soal upah kerja atau jabatan di kantor. Kesenjangan yang paling kejam adalah dalam hal tanggung jawab moral.
Pria boleh melakukan kesalahan, lalu "lahir baru" sebagai orang baik. Namun perempuan, sekali ia berbuat salah, ia akan selamanya menjadi "perempuan yang itu".
Dosa bagi pria adalah debu yang bisa dibasuh dengan air kesuksesan.
Dosa bagi wanita adalah noda tinta yang meresap hingga ke tulang, yang bahkan air mata sebanyak lautan pun tak mampu menghapusnya.
Alea merebahkan tubuhnya di kasur. Di luar, hujan mulai turun. Suaranya berisik di atas atap seng. Ia berpikir, seandainya Tuhan benar-benar adil, hujan itu harusnya membasahi semua orang dengan intensitas yang sama.
Tapi di dunia ini, Alea merasa dialah satu-satunya orang yang basah kuyup hingga kedinginan, sementara pria-pria seperti Baskara tetap kering dan hangat di balik payung kemunafikan mereka.
Ia menutup matanya, berharap bahwa suatu hari nanti, dunia tidak hanya menganggap dirinya jalang tapi juga menunjuk pria yang melarikan diri. Sebab sebuah luka tak akan pernah tercipta jika tidak ada pisau yang menghujam. Dan pisau itu, seringkali, dipegang oleh tangan yang paling bersih di mata manusia.
Cerita ini di buat bukan untuk menyinggung individu atau menyerang seseorang secara personal, tapi di tujukan pada Baskara 🤭🤭🤭