Udara pagi di basecamp Merapi menusuk tulang. Enam pasang mata menatap puncak yang masih diselimuti kabut tebal, seolah gunung itu menyembunyikan rahasianya sendiri. Kami adalah tim pendaki 'Jejak Rembulan'
aku, Arif, (sebagai leader) Maya, kekasihku, (si paling ceria) Bimo, (ahli navigasi yang kalem) Santi, (teman Maya yang selalu panik tapi berani) (dan dua junior kami) Dimas dan Rina, yang baru pertama kali mendaki gunung tinggi.
Pendakian ini adalah yang ketiga bagiku di Merapi, tapi entah mengapa, kali ini ada firasat aneh yang merayapi. Mungkin karena mimpi buruk semalam, tentang jeritan perempuan di tengah hutan pinus.
"Siap semuanya?" tanyaku, mencoba terdengar bersemangat.
"Siap, Kapten!" sahut Dimas dengan semangat menggebu. Rina hanya tersenyum gugup.
Maya merangkul lenganku. "Jangan tegang gitu dong, Sayang. Merapi itu cantik, bukan seram."
Aku balas memeluknya. "Iya, kamu juga cantik."
*Awal Petaka di Pos 2*
Pendakian dimulai dengan ceria. Jokes receh dari Bimo dan tawa renyah Maya mengisi setiap langkah. Kami mencapai Pos 1 tanpa masalah, menikmati pemandangan desa-desa yang mulai tampak kecil di bawah sana. Namun, saat kami menuju Pos 2, suasana mulai berubah.
Hutan pinus yang kami lalui terasa lebih gelap dan lembab dari biasanya. Suara burung seolah lenyap, digantikan desiran angin yang membawa bisikan-bisikan tak jelas.
"Perasaan gue kok nggak enak ya," bisik Santi, merapatkan jaketnya.
"Perasaanmu doang itu," sahut Maya, tapi aku bisa melihat dia sedikit bergidik.
Di tengah perjalanan menuju Pos 2, Bimo tiba-tiba berhenti. Ia menunduk, menatap tanah di depannya.
"Kenapa, Mo?" tanyaku.
"Ini... ini jejak kaki," ucapnya pelan.
"Jejak sepatu gunung, tapi... kenapa cuma satu?"
Kami semua ikut menunduk. Benar saja, di antara dedaunan kering dan tanah yang becek, ada jejak sepatu tunggal. Anehnya, jejak itu seperti melompat-lompat di satu garis lurus, bukan seperti orang berjalan.
"Mungkin ada orang iseng lompat-lompat, Mo," kata Dimas, mencoba mencairkan suasana.
Bimo menggeleng. "Jejaknya masuk ke semak-semak yang gelap itu, Mas. Arahnya menjauhi jalur pendakian."
Tiba-tiba, dari arah semak-semak itu, terdengar suara tawa perempuan. Tawa yang melengking, dingin, dan... dekat sekali. Terlalu dekat.
Santi menjerit. Rina langsung memeluk Dimas. Bulu kudukku meremang. Itu tawa yang sama persis seperti di mimpiku.
"Jangan hiraukan," ujarku, mencoba tetap tenang. "Mungkin itu pendaki lain yang bercanda. Ayo jalan!"
Kami mempercepat langkah, namun tawa itu seolah mengikuti. Kadang di kiri, kadang di kanan, kadang di belakang kami. Semakin lama, tawa itu berubah menjadi tangisan pilu.
"Arif, itu bukan manusia," bisik Maya, wajahnya pucat pasi.
*Hilangnya Jejak*
Kami berhasil mencapai Pos 2, sebuah area lapang dengan beberapa tenda kosong. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di sana dan beristirahat. Malam mulai merayap, membawa hawa dingin yang menusuk.
Saat semua sibuk menyiapkan tenda, Rina tiba-tiba berteriak.
"Dompetku! Hilang!"
Kami semua panik. Dompet Rina berisi KTP dan sejumlah uang.
"Tadi aku terakhir taruh di saku jaket, Kak. Pas di hutan tadi aku sempat buka jaket sebentar," jelas Rina, air matanya mulai mengalir.
"Coba ingat-ingat lagi, Rin. Mungkin jatuh di sekitar sini?" kata Maya, mencoba menenangkan.
Kami menyisir area sekitar Pos 2, menggunakan senter. Tidak ada.
"Kita harus kembali ke jalur tadi," ucap Dimas. "Mungkin jatuh di sana."
"Tidak!" cegahku tegas. "Terlalu berbahaya. Lagipula, dompet itu benda kecil. Sulit ditemukan di kegelapan."
Tiba-tiba, Bimo kembali ke dekatku, wajahnya tegang. "Mas, jejak yang tadi... itu bukan jejak sepatu."
"Maksudmu?"
"Jejak tadi... itu tapak kaki telanjang. Dan itu bukan kaki manusia. Bentuknya lonjong, ujungnya lancip, seperti... kaki binatang buas."
Jantungku berdebar kencang. Jika itu bukan manusia, lalu apa? Dan kenapa hanya satu jejak?
Malam itu, kami tidur berdesakan di dua tenda. Tidak ada yang bisa memejamkan mata. Suara tangisan dan tawa perempuan itu seolah mengelilingi tenda kami, sangat jelas terdengar, kadang berbisik di samping telinga.
"Arif, aku takut," bisik Maya di pelukanku.
"Ada aku, Sayang. Aku janji, kita pulang bareng."
*Hilangnya Maya*
Pukul 03.00 pagi, alarm dari Bimo berbunyi. Kami harus melanjutkan pendakian ke puncak agar bisa menikmati sunrise. Kami semua bersiap, memeriksa barang bawaan masing-masing.
"Maya? Kamu di mana?" tanyaku saat tidak melihat kekasihku di tenda.
Semua langsung panik. Tenda Maya dan Santi kosong.
"Santi juga hilang!" seru Bimo.
Kami berteriak memanggil nama Maya dan Santi. Hanya angin dingin yang menjawab.
"Jangan-jangan mereka kebelet dan pergi sebentar?" ujar Dimas mencoba rasional.
"Tidak mungkin. Mereka tidak akan pergi tanpa memberitahu," jawabku, naluri buruk mulai mencengkeram.
Kami berlima menyisir area sekitar Pos 2 lagi. Aku melihat ke arah semak-semak gelap tempat kami mendengar tawa kemarin. Aku merasa ada yang menarikku ke sana.
"Maya! Santi!" teriakku lagi.
Tiba-tiba, dari arah semak-semak itu, terdengar suara Maya. Bukan suara teriakannya, tapi suaranya yang sedang tertawa, riang seperti biasa.
"Dia di sana!" Rina menunjuk ke arah semak-semak.
Aku, Bimo, Dimas, dan Rina segera masuk ke dalam semak-semak yang rapat itu.
Semakin dalam kami masuk, semakin pekat kegelapan dan semakin dingin udaranya. Tawa Maya terdengar semakin dekat, seperti dia sedang bermain petak umpet.
"Maya, jangan bercanda! Keluar!" teriakku.
Kami sampai di sebuah area yang sedikit lapang. Di tengah-tengahnya, ada sebuah pohon besar dengan akar yang menjuntai. Dan di sana, berdiri Maya, membelakangi kami. Rambutnya tergerai panjang menutupi punggungnya. Dia tertawa-tawa sendiri.
"Maya!" Aku mendekat, lega bercampur kesal.
Namun, saat aku menyentuh bahunya, dia berbalik. Wajahnya... itu bukan Maya.
Matanya hitam pekat tanpa pupil, senyumnya lebar hingga ke telinga, menampakkan gigi-gigi yang terlalu panjang dan runcing. Darah kering mengalir dari sudut bibirnya.
"Kamu siapa?" bisikku, mundur ketakutan.
Wajah itu tertawa lagi, tawa yang sama persis dengan yang kami dengar kemarin. Suaranya berubah, menjadi berat dan serak, namun dengan intonasi seperti Maya.
"Aku? Aku sahabat barumu... Kalian kan pendaki gunung. Apa kalian tidak tahu ada yang harus dikorbankan setiap kali kalian naik?"
Dari belakang tubuhnya, aku melihat kaki telanjang yang lonjong dan runcing.
"Di mana Maya? Di mana Santi?" teriak Bimo.
Sosok itu menunjuk ke arah akar pohon. Di antara akar-akar yang melilit, tergeletak tubuh Santi. Matanya melotot, mulutnya menganga. Di dadanya, ada bekas cakar yang mengerikan.
Dan di samping Santi, tergeletak dompet Rina.
"Santi!" Rina menjerit histeris. Dimas langsung memeluknya agar tidak mendekat.
Sosok itu melangkah maju. "Santi tidak cukup. Satu lagi. Satu lagi untuk menemaniku di sini. Kalian sudah membangunkan aku. Sekarang giliran kalian menemaniku."
*Pilihan yang Tak Terpikirkan*
Kami berlari. Panik, ketakutan, dan putus asa. Sosok itu mengejar kami, suaranya yang menyerupai Maya memanggil-manggil namaku.
"Arif... sayang... jangan tinggalkan aku..."
Suara itu menghantuiku, merobek hatiku. Aku tahu, Maya sudah tidak ada. Yang kami lihat adalah wujud lain yang menggunakan wajah dan suaranya.
Kami berlari menuruni jalur pendakian secepat mungkin. Namun, langkah kami terhenti saat kami mendengar teriakan Bimo dari belakang.
"Arrgghhh!"
Kami berbalik. Bimo sudah jatuh. Di belakangnya, sosok itu berdiri, mencengkeram kakinya. Bimo meronta, tapi tubuhnya diseret semakin dalam ke hutan pinus yang gelap.
"Bimo!" teriak Dimas.
"Jangan! Jangan ke sana!" cegahku. Aku tahu, siapa pun yang mendekat akan menjadi korban berikutnya.
Kami bertiga terus berlari, air mata membanjiri wajah. Aku, Dimas, dan Rina. Hanya kami yang tersisa.
Kami mencapai Pos 1. Hari sudah terang, tapi kami tidak merasakan kehangatan matahari. Kami melihat beberapa pendaki lain yang sedang beristirahat.
"Ada apa? Kenapa kalian lari-lari?" tanya seorang pendaki.
Aku tidak bisa menjawab. Hanya gemetar dan air mata yang keluar. Rina pingsan.
*Kesunyian yang Abadi*
Kami selamat. Tapi kami tidak pernah kembali sama. Polisi dan tim SAR melakukan pencarian besar-besaran, namun tubuh Maya, Santi, dan Bimo tidak pernah ditemukan. Mereka hanya menemukan jejak kaki tunggal yang lonjong dan runcing di dekat area Pos 2.
Merapi kembali sunyi. Tapi bukan sunyi yang damai. Itu adalah kesunyian yang mencekam, menyimpan rahasia kelam di puncaknya.
Aku tidak pernah lagi mendaki gunung. Setiap kali aku melihat gunung, aku teringat tawa Maya yang berubah menjadi jeritan pilu, dan senyum mengerikan di wajahnya. Aku teringat janji "pulang bareng" yang tidak bisa kutepati.
Dimas dan Rina juga trauma berat. Rina sering terbangun di malam hari, berteriak memanggil nama Santi.
Setiap malam, sebelum tidur, aku menatap foto Maya. Senyumnya yang ceria kini terasa menyakitkan. Aku tahu dia tidak akan pernah kembali. Aku tahu dia tidak pernah pulang. Dan aku hidup dengan rasa bersalah yang tak terhingga, karena aku tidak bisa melindunginya dari puncak sunyi Merapi yang menuntut korban.
Aku masih bisa mendengar suara bisikan itu di telingaku, setiap kali aku menutup mata: "Satu lagi... satu lagi untuk menemaniku di sini..."