Hujan turun pelan di Stasiun Senja, membasahi rel-rel tua yang sudah jarang dilewati kereta. Di bangku kayu paling ujung, Arka duduk sendiri, menggenggam sebuah amplop cokelat yang sudutnya mulai kusut. Jam dinding menunjukkan pukul lima sore—waktu yang sama seperti tujuh tahun lalu, saat hidupnya berubah.
Arka adalah seorang penulis yang gagal merayakan kesuksesan. Buku-bukunya dikenal banyak orang, tapi hatinya selalu terasa kosong. Satu-satunya hal yang tak pernah bisa ia tulis dengan jujur adalah masa lalunya bersama Nara.
Nara adalah gadis dengan senyum sederhana dan mata yang selalu terlihat seolah menyimpan banyak pertanyaan. Dulu, mereka sering bertemu di stasiun ini. Nara bekerja di kios kecil penjual kopi, sementara Arka datang setiap sore, pura-pura menunggu kereta yang tak pernah ia naiki.
“Apa kamu percaya, kalau seseorang bisa jatuh cinta hanya karena sering bertemu?” tanya Nara suatu sore.
Arka tertawa kecil. “Kalau begitu, aku jatuh cinta pada stasiun ini.”
Namun hidup tak sesederhana candaan. Suatu hari, Arka pergi tanpa pamit, mengejar ambisi dan mimpi yang katanya lebih penting. Ia meninggalkan Nara hanya dengan janji yang tak pernah ditulis.
Tujuh tahun berlalu.
Kini Arka kembali, bukan untuk mengejar mimpi, melainkan untuk menutup penyesalan. Amplop cokelat itu adalah surat dari Nara, dikirim beberapa hari lalu, seolah tahu Arka akan kembali.
Ia membuka surat itu dengan tangan gemetar.
Arka,
Jika kamu membaca ini di stasiun, berarti kamu masih mengingatku.
Aku tidak marah. Aku hanya ingin kamu tahu, aku bahagia.
Terima kasih sudah pernah singgah di hidupku.
—Nara
Arka menunduk lama. Hujan semakin deras. Di kejauhan, suara kereta mendekat—kereta terakhir hari itu. Untuk pertama kalinya, Arka berdiri dan melangkah menuju peron.
Ia tersenyum kecil. Beberapa pertemuan memang tidak ditakdirkan untuk dimiliki, hanya untuk dikenang.
Dan Stasiun Senja kembali sepi, menyimpan cerita yang selesai tanpa perlu diulang