Kami tidak pernah jadian.
Itu kalimat yang paling sering aku ulang ke diri sendiri, seolah kalau diulang cukup sering, rasanya akan berkurang.
Setiap pagi, dia selalu datang lima menit lebih awal. Duduk di bangku paling dekat jendela, membuka laptop, lalu pura-pura sibuk. Padahal aku tahu, dia menunggu aku masuk ruangan duluan. Karena setiap kali aku muncul, dia selalu menoleh, senyum kecil, lalu kembali menunduk. Senyum yang tidak pernah dia tunjukkan ke siapa pun selain aku.
Kami terbiasa berbagi hal-hal kecil. Lagu yang baru ditemukan, kopi yang rasanya aneh tapi nagih, cerita tentang mimpi-mimpi yang tidak pernah kami ceritakan ke orang lain. Tidak pernah ada kata “sayang”, tidak pernah ada status, tapi rasanya… penuh.
Suatu sore, hujan turun terlalu deras. Kami terjebak di satu payung yang sama. Bahunya basah, tanganku dingin. Dia bilang, “Kalau hujan terus, kita bisa berhenti di mana saja.”
Aku tidak tahu dia bicara tentang hujan, atau tentang hidup.
Aku tidak pernah bertanya: kita ini apa?
Dia juga tidak pernah menjelaskan.
Kami sama-sama pengecut, dan cinta kami tumbuh di ruang yang tidak pernah diberi nama.
Hari terakhir sebelum dia pindah kota, kami duduk lama tanpa bicara. Terlalu banyak hal yang ingin diucapkan, tapi semuanya terasa terlambat. Saat akhirnya dia berdiri, dia cuma bilang, “Terima kasih ya, sudah jadi rumah yang nyaman.”
Aku tersenyum.
Padahal aku ingin bilang: tinggallah.
Sekarang, bertahun-tahun setelahnya, aku masih tidak bisa mendengar lagu favorit kami tanpa berhenti sejenak. Masih refleks ingin mengirim pesan setiap kali hujan turun. Masih bertanya-tanya, bagaimana jadinya kalau dulu aku sedikit lebih berani.
Karena ternyata, yang paling sulit dilupakan bukan orang yang benar-benar pergi…
tapi orang yang tidak pernah benar-benar kita miliki.
Dan sampai hari ini, aku masih tinggal di kenangan yang sama.
Sendirian.
Menjaga “kita” yang bahkan tidak pernah ada.