Pemeran:
REZA: Si tenang yang telinganya sangat sensitif (si korban).
GALIH: Teman Reza yang kalau makan mulutnya terbuka lebar, menciptakan efek audio maksimal.
Lokasi: Meja makan sebuah warteg yang sedang sepi.
(Reza dan Galih duduk berhadapan. Reza baru saja menyuap sesendok nasi. Galih mulai memakan ayam gorengnya.)
GALIH: (Mengunyah) Tchap... Tchop... Slurp... Tchap...
(Reza berhenti mengunyah. Matanya sedikit berkedut. Dia mencoba fokus pada nasinya.)
GALIH: (Sambil bicara, mulut penuh nasi) Re... Tchap... Lo tau gak... Tchop... Si bos tadi... SPLASH (butiran nasi terbang ke meja).
REZA: (Menarik napas dalam-dalam) Lih, bisa nggak... dikunyahnya pelan-pelan aja? Atau ditutup dikit gitu?
GALIH: (Heran) Hah? Tchap... Apaan sih? Gue kan lagi makan. Makan itu harus dinikmati, Re. (Kembali menyeruput kuah gulai dengan suara seperti vakum rusak) SLUUUUUURRRRPPP... AHHH!
REZA: (Mencengkeram sendok sampai bengkok) Suara lo itu, Lih... kayak lo lagi jalan di lumpur pake sepatu boots basah. Tchap-tchop-tchap-tchop. Gue berasa lagi duduk di depan speaker subwoofer yang isinya suara orang kumur-kumur.
GALIH: (Ketawa lebar, memperlihatkan isi mulutnya yang sedang diproses) Lo sensitif banget deh! Ini namanya apresiasi terhadap rasa. Tchap! (Bunyi kecapannya makin nyaring, seolah sengaja).
REZA: (Bicara dalam hati) Sabar, Rez. Masuk penjara gara-gara sendok semen itu nggak estetik. Sabar.
GALIH: (Mengambil kerupuk) Lo mau kerupuk nggak? CRUNCH... TCHAP... TCHOP...
(Suara Galih sekarang mencapai puncaknya. Bayangkan suara decakan lidah yang bertemu langit-langit mulut dengan tempo 120 BPM.)
REZA: (Tiba-tiba berdiri) OKE, CUKUP!
GALIH: (Berhenti, bingung) Kenapa lo? Kesurupan?
REZA: Gue nggak bisa, Lih. Setiap suara TCHAP yang lo keluarin, itu kayak ada malaikat maut lagi ngetuk pintu hati gue. Lo bukan lagi makan ayam, lo lagi ngajak duel gendang telinga gue!
GALIH: Ya elah, tinggal makan doang repot. Nih, liat, gue pelanin... (Galih mencoba menutup mulut, tapi sedetik kemudian dia bersin) ACHOOO! (Semua remah kerupuk mendarat di piring Reza).
REZA: (Menatap piringnya yang sekarang penuh "ranjau" kerupuk) ...
GALIH: Sori, Re. Tchap... Kebanyakan micin kayaknya. Tchop.
REZA: (Berdiri pelan, meninggalkan piringnya) Gue duluan ya, Lih. Gue mau cari tempat sepi... yang nggak ada suara manusia... atau minimal yang kalau makan mulutnya dijahit.
GALIH: (Sambil teriak) Eh, nasi lo belum abis! TCHAP! TCHOP! SLURRRRP!
(TAMAT)
Jika suka jangan lupa likenya teman-teman Dan komen kalo ingin cerita menghibur lainnya.