Pemeran:
DIKA: Si Overthinker yang memperlakukan chat WhatsApp seperti operasi penjinakan bom.
BIMO: Teman yang santai, logis, dan capek melihat tingkah Dika.
Lokasi: Meja kafe. Suasana tenang, sampai Dika mulai panik.
(Dika menatap layar HP-nya dengan mata melotot, keringat dingin bercucuran. Dia memegang HP dengan dua tangan seolah itu artefak suci yang mau meledak.)
DIKA: (Berbisik histeris) Bim... Bim! Kode merah, Bim!
BIMO: (Menyedot es kopi dengan santai) Kenapa lagi lo? Dompet ketinggalan?
DIKA: Bukan! Si Sarah... Lihat ini! (Menyodorkan HP ke muka Bimo) Di bawah nama dia... ada tulisan itu!
BIMO: "Typing..."? Ya terus kenapa? Dia lagi ngetik balesan lah, bego.
DIKA: BUKAN SEKADAR NGETIK, BIMO! Dia udah typing selama empat puluh lima detik! Empat puluh lima! Lo tahu artinya apa?
BIMO: Artinya dia ngetik lambat? Jempolnya kegedean?
DIKA: (Menggebrak meja pelan) SALAH! Kalau orang ngetik "Oke" atau "Siap", itu cuma butuh 2 detik. Kalau 45 detik, itu artinya dia lagi nulis paragraf. Dia lagi nulis essay pembelaan diri, atau lebih parah... surat putus!
BIMO: Lo kan belum jadian, gimana caranya putus?
(Dika mengabaikan logika Bimo. Dia kembali menatap layar.)
DIKA: Tuh kan! Tuh kan! Tulisannya hilang! Statusnya balik jadi "Online". Dia menghapus semuanya! Kenapa dia hapus?! Apa kalimatnya terlalu kasar? Apa dia sadar kalau aku enggak pantes buat dia?!
BIMO: Mungkin dia cuma lagi cari stiker kucing joget, Dika. Astaga.
DIKA: (Panik meningkat) Muncul lagi! Typing lagi! Sekarang lebih lama! Satu menit... Ya Tuhan, ini pasti klarifikasi. Ini pasti dia mau ngungkit kejadian gue keselek bakso minggu lalu. Matilah gue.
BIMO: Lo drama banget sumpah. Coba sini gue liat.
DIKA: JANGAN! Jangan disentuh! Nanti sinyalnya kaget! (Dika menahan napas) Oke... oke... dia berhenti ngetik. Statusnya "Online". Hening... Hening yang mencekam...
(Tiba-tiba HP Dika berbunyi nyaring: TING!)
DIKA: (Melompat kaget) ITU DIA! Itu vonisnya! Baca, Bim. Gue nggak kuat. Gue serangan jantung. Bacain buat gue.
(Bimo mengambil HP Dika dengan malas. Dia melihat layar, lalu menatap Dika dengan wajah datar.)
BIMO: Lo mau tau isinya?
DIKA: (Menutup mata, pasrah) Apa? "Aku benci kamu"? "Jangan hubungi aku lagi"? Atau "Kamu bau minyak tawon"?
BIMO: Isinya cuma... "Wkwkwk".
(Hening sejenak. Dika membuka satu matanya.)
DIKA: Hah?
BIMO: Wkwkwk. W, K, W, K, W, K. Enam huruf.
DIKA: (Merebut HP) Nggak mungkin! Dia ngetik dua menit cuma buat ngetik "wkwkwk"?! Ke mana perginya draft undang-undang yang tadi dia tulis?!
BIMO: (Berdiri, mengambil tas) Mungkin dia tadi ngetik panjang, terus mikir "Ah, males debat sama orang gila", terus diapus diganti ketawa doang. Yuk balik.
DIKA: (Masih menatap HP dengan dendam) Tiga titik berdenyut itu... penipu...
(Bimo berjalan pergi. Dika masih duduk, lalu tiba-tiba teriak lagi.)
DIKA: BIM! DIA RECORDING AUDIO! DUA MENIT! KITA HARUS RAPAT DARURAT LAGI!
(TAMAT.)
Mau lanjut? Komen di bawah •~`