Namaku Andi, 34 tahun. Istriku Nita, 31 tahun. Kami sudah menikah delapan tahun, tinggal di rumah dua lantai sederhana di pinggiran Bekasi. Rumah ini kami bangun dari nol, cicilan panjang, tapi nyaman. Depan ada teras kecil dengan pot bunga, ruang tamu sempit pakai sofa lama, dapur terbuka yang sering jadi tempat mesra, dan kamar tidur utama di lantai atas dengan kasur king size yang selalu berantakan setelah malam panas. Di belakang rumah ada musala kecil yang sering dipakai warga komplek untuk pengajian mingguan. Musala itu cuma 4x5 meter, lantai keramik, sajadah hijau, dan lampu temaram kuning yang bikin suasana hangat tapi agak gelap kalau malam.Ustadz yang sering datang namanya Ustadz Reza, 38 tahun, belum menikah. Badannya tinggi kurus, jenggot tipis rapi, suaranya lembut tapi tegas pas ngaji. Dia ustadz langganan komplek, setiap Rabu malam ngaji di musala belakang rumah kami. Nita selalu ikut, kadang bantu siapin air minum atau makanan kecil buat jamaah. Aku nggak curiga apa-apa, malah bangga istriku rajin ibadah. Nita badannya montok, dada 36D yang selalu numpuk di balik gamis, pinggul lebar, bokong bulat kenceng, kulit putih mulus. Dia pakai jilbab pas keluar rumah, tapi di rumah suka lepas dan pakai kaos ketat atau daster tipis yang bikin aku selalu pengen langsung tarik ke kamar.Awalnya biasa saja. Nita sering bilang, “Mas, Ustadz Reza baik banget, ceramahnya menyentuh hati.” Aku cuma senyum, “Baguslah, biar rumah kita penuh berkah.” Tapi lama-lama aku notice perubahan kecil. Nita mulai lebih sering pakai jilbab panjang pas di rumah, tapi kalau cuma berdua sama aku, dia suka lepas jilbab dan pakai kaos ketat yang nunjukin bentuk dada montoknya. Aku seneng, malah sering langsung tarik dia ke kamar. Malam-malam kami mesra seperti biasa: aku jilat memeknya pelan sampai dia squirt, lalu aku sodok dalam-dalam, creampie di dalem, peluk erat sambil bisik “Aku cinta kamu, Nit.” Dia balas peluk, “Aku juga, Mas.”Tapi suatu malam Rabu, pengajian selesai jam 10 malam. Jamaah pulang satu per satu, tinggal Ustadz Reza yang masih duduk di musala, baca Al-Qur’an sendirian. Nita bilang, “Mas, aku bantu beresin dulu ya, kasian Ustadz sendirian.” Aku capek habis lembur kantor, langsung naik ke kamar lantai atas, mandi, lalu rebahan. Aku pikir Nita bakal cepet naik. Tapi jam 11 lewat, Nita belum naik. Aku turun pelan-pelan, niat mau ambil air di dapur. Pas lewat musala, pintunya agak terbuka. Aku ngintip dari celah, jantung langsung berdegup kencang.Cahaya lampu temaram kuning, Nita duduk di depan Ustadz Reza, jaraknya deket banget. Ustadz pegang tangan Nita, bicara pelan. “Bu Nita… Allah tahu hati kita… kalau ada rasa yang terpendam, itu ujian. Tapi kalau kita berdua sama-sama berjuang, InsyaAllah jadi pahala.”Nita menunduk, pipinya merah. “Ustadz… saya takut dosa… tapi setiap dengar suara Ustadz, badan saya panas… memek saya berdenyut… maaf Ustadz, saya jorok bicara begini…”Ustadz Reza mendekat, tangannya naik ke pipi Nita, lalu turun ke leher. “Kita berdua sama-sama manusia… Allah Maha Pengampun. Kalau kita lakukan dengan niat tobat setelahnya, mungkin Allah ampuni.”Nita nggak nolak. Malah matanya merem, bibirnya terbuka sedikit. Ustadz cium bibir Nita pelan. Ciuman pertama ringan, tapi lama-lama jadi ganas. Lidah mereka saling bertaut, tangan Ustadz meraba dada Nita dari luar gamis. Nita mendesah kecil, “Ustadz… ahh… jangan di sini… suami saya di atas…”Ustadz bisik, “Musala ini rumah Allah… tapi malam ini, kita pinjam sebentar. Allah Maha Melihat, tapi juga Maha Pengertian.”Dia tarik Nita ke tikar sajadah yang masih terhampar. Gamis Nita digulung ke atas, celana dalam hitam tipis kelihatan. Ustadz tarik celana dalam itu ke bawah, memek Nita terbuka—bibir memek merah tebal, sudah basah mengkilap, klitoris bengkak. Jari Ustadz langsung muter di klitoris Nita, lalu masukin satu jari, ngocok pelan.“Bu Nita… memeknya sudah banjir… dari tadi mikirin Ustadz ya? Bau memek Bu Nita harum sekali,” bisik Ustadz serak.Nita mengangguk, mendesah, “Iya Ustadz… setiap dengar ceramah Ustadz, memek saya basah… ahh… jari Ustadz enak… lebih dalem…”Aku berdiri di celah pintu, kontolku keras banget di celana. Aku nggak percaya, tapi nggak bisa marah. Malah tangan aku sendiri nyusup ke celana, ngocok pelan sambil nonton. Jantung berdegup kencang, napas sesak, tapi mata nggak bisa lepas.Ustadz buka sarungnya, kontolnya loncat keluar—gede, panjang sekitar 17 cm, tebal, kepalanya merah mengkilap udah basah precum. Dia tempelkan di bibir memek Nita, gesek-gesek dulu biar licin.“Bu Nita mau nggak? Mau kontol Ustadz masuk ke memek yang sudah basah ini?”Nita mengangguk cepat, suara bergetar. “Mau Ustadz… masukin… isi memek saya… ahh… pengen ngerasain kontol Ustadz…”Ustadz dorong pelan. Kepala kontolnya masuk, memek Nita melar lebar. Nita jerit kecil nikmat. “Aduh… gede banget Ustadz… ahh… lebih dalem… pelan dulu…”Dia sodok pelan dulu, masuk keluar lambat. Lama-lama percepat. Bunyi plek-plek basah terdengar di musala sepi. Nita gigit bibir bawah, tangannya pegang pundak Ustadz. Payudaranya goyang-goyang di balik gamis yang sudah setengah terbuka, puting coklat muda mengeras.“Enak nggak Bu? Kontol Ustadz lebih gede dari punya suami ya?” bisik Ustadz sambil sodok dalam.Nita mengangguk, desah keras, “Enak Ustadz… lebih gede… lebih keras… ahh… genjot terus… robek memek saya… ahhh!”Ustadz balik badan Nita, posisi doggy di sajadah. Bokong Nita terangkat tinggi, dia tampar pelan tapi keras. “Plak! Bokong Bu Nita empuk banget… suka ditampar ya?”“Suka Ustadz… tampar lagi… ahh… sodok dari belakang… dalem banget! Isi memek saya Ustadz… creampie saya!”Dia pegang pinggul Nita, ngebor memeknya brutal. Kontolnya masuk keluar cepat, nempel ke dinding rahim. Nita jerit-jerit pelan, takut kedengeran tetangga. “Ustadz… aku mau keluar… ahhh… keluar bareng ya… isi memek aku… penuhin sama sperma Ustadz!”Ustadz percepat lagi, dorongan terakhir dalam banget. Kontolnya berdenyut keras, sperma muncrat banyak di dalem memek Nita—panas, kental, penuh. Luber keluar dari sela-sela memek yang merah bengkak, netes ke sajadah hijau.Mereka ambruk bareng, napas ngos-ngosan. Ustadz peluk Nita dari belakang, kontol masih setengah keras di dalam. “Ini rahasia kita ya, Bu. Allah Maha Pengampun. Tobat setelah ini.”Nita mengangguk lemes, badan masih gemetar. “Iya Ustadz… tapi… Rabu depan lagi ya? Saya pengen lagi… memek saya kecanduan kontol Ustadz…”Ustadz nyengir, cium kening Nita. “InsyaAllah, Bu. Tiap Rabu malam, kita lanjutkan ‘pengajian’ pribadi.”Aku mundur pelan ke dapur, pura-pura ambil air. Jantungku berdegup kencang, kontol masih keras dan basah precum. Aku naik ke kamar, rebahan pura-pura tidur. Nita naik 20 menit kemudian, mandi cepet di kamar mandi bawah, lalu tidur di sampingku. Bau sabunnya campur bau sperma samar-samar, memeknya pasti masih penuh.Aku peluk Nita dari belakang seperti biasa, tapi pikiranku penuh gambar tadi. Malam itu aku nggak tidur, cuma mikir: besok Rabu lagi pengajian. Dan aku bakal ngintip lagi. Mungkin kali ini aku nggak cuma nonton, tapi ikut campur. Atau mungkin aku biarin terus, sambil ngocok kontolku sendiri di balik pintu.Rahasia di rumah ini baru dimulai. Dan entah kenapa, aku nggak marah. Malah penasaran… dan terangsang.