EPISODE 14 (KOREKSI KALO SALAH):
Dengan hati penuh tekad, Markonah dan Boris mengikuti bekas bekakak mobil yang mengarah keluar kota menuju kawasan industri. Jalannya tidak rata, ditutupi pasir dan lumpur, membuat mereka harus berhati-hati agar tidak tersesat.
"Tidak ada yang tahu di mana kita pergi, jadi lebih baik kamu pulang saja, Lala!" Markonah menjawab tanpa melihat ke belakang. Ia sudah menyadari bahwa Lala mengikutinya dari belakang sekolah.
Lala berlari kecil untuk menyusul, wajahnya sedikit putih tapi penuh keberanian. "Saya tidak bisa tinggal diam! Zikri adalah teman saya juga! Saya tahu dia selalu membantu saya saat ada masalah di kelas!" ujarnya dengan suara gemetar tapi tegas.
Markonah berhenti sejenak dan menoleh ke arah Lala. Gadis kecil itu memang sama polosnya dengan Zikri, selalu berada di belakang kelas dan jarang berbicara. Tapi melihat wajahnya yang penuh tekad, Markonah tidak bisa terus menolaknya.
"Bahaya, Lala. Kamu harus tahu itu," kata Markonah dengan nada lebih lembut.
"Saya tahu, tapi saya juga bisa membantu! Saya pandai mengingat jalan dan baca peta dengan baik!" lanjut Lala, mengeluarkan peta kecil yang selalu ada di dalam tasnya.
Markonah menghela napas lalu mengangguk. "Baiklah, kamu bisa ikut. Tapi harus selalu berada di belakang saya dan Boris ya. Jangan pernah menyendiri!"
Lala segera tersenyum lega dan mengangguk cepat. Boris juga melihat Lala dengan tatapan yang lebih ramah, seolah menyetujui kehadirannya.
Mereka melanjutkan perjalanan mengikuti bekas roda mobil yang kadang hilang di atas tanah yang keras, tapi Lala dengan cermat bisa menemukan jejak yang hilang dengan melihat bekas goresan kecil di batu dan rerumputan yang terinjak.
"Dia benar-benar pandai," bisik Markonah dalam hati.
Setelah berjalan sekitar setengah jam, jejak mobil mulai mengarah ke sebuah komplek gudang tua yang dikelilingi pagar besi yang sudah berkarat. Udara sekitar terasa semakin dingin dan sunyi, tidak ada satu orang pun yang terlihat di sekitar sana.
Markonah membuat tanda diam dengan cepat kepada Lala dan Boris. Ia menyelinap perlahan ke pagar, melihat sekeliling untuk mencari cara masuk tanpa terlalu mencolok. Boris siap berada di sisinya, sementara Lala menyembunyikan diri di balik semak tinggi, tetap mengawasi sekeliling dengan cermat.
"Kita harus masuk dengan hati-hati. Siapa tahu mereka sudah siap menyambut kita," bisik Markonah kepada Boris yang hanya mengangguk dan mengeluarkan suara menggeram rendah.