EPISODE 13 :
Krik... krik...
Suara kecoa dan tetesan air dari langit-langit gudang mengiringi kedalaman kegelapan. Zikri perlahan menyadarkan diri, kepalanya berdenyut sakit akibat benturan saat dibawa pergi. Ia merasakan dinginnya lantai tanah liat yang basah menyentuh punggungnya, dan ketika meraba tubuhnya, menyadari bahwa seragamnya sudah dicopot hingga hanya menyisakan celana panjang. Dada nya terbuka, dan tangan serta kakinya terikat erat oleh rantai besi yang terpaku ke dasar gudang.
Matanya mulai menyesuaikan kegelapan. Ia melihat seragam SMA Garuda-nya tergantung di ujung ruangan, jauh dari jangkauannya. Udara pekat dan bau lembap menyengat membuatnya berkeringat dingin. Hidungnya menangis karena debu dan bau tidak sedap, sementara pikirannya penuh dengan rasa takut dan kebingungan.
"Kenapa aku di sini? Siapa mereka? Apa yang mereka inginkan dariku?" gumam Zikri dengan suara serak, mencoba menarik rantai tapi hanya membuat pergelangan tangannya terasa sakit dan lecet.
Di SMA Garuda, suasana semakin tegang. Polisi sudah datang dan sedang melakukan penyelidikan di lokasi kejadian. Namun Markonah tidak sabar menunggu proses resmi. Ia berdiri di halaman sekolah, wajahnya penuh kemarahan yang jarang terlihat. Ciri khasnya sebagai "Cewe Baja" kini benar-benar terasa—tubuhnya rileks tapi siap bergerak kapan saja.
Boris berdiri di sisinya, matanya tajam seperti sedang mencium bau musuh.
"Kepala sekolah, saya tidak bisa tinggal diam menunggu! Saya harus mencari Zikri sendiri!" ujar Markonah dengan nada tegas kepada kepala sekolah yang sedang berbincang dengan petugas polisi.
"Markonah, ini sangat berbahaya. Polisi sedang bekerja untuk menemukan dia," coba menenangkan kepala sekolah.
"Tapi berapa lama kita harus tunggu? Setiap detik penting buat Zikri!" jawab Markonah dengan nada naik. Ia melihat sekeliling, mencoba mencari petunjuk apa saja yang bisa membantu.
Tiba-tiba, matanya tertuju pada bekas bekakak mobil di tanah basah dekat gerbang belakang. Ia segera berlari ke sana, dengan Boris mengikutinya cepat. Di sana, ia menemukan sesuatu yang kecil dan terjatuh di tanah—sebuah gelang karet berwarna merah dengan tulisan nama toko.
Ini adalah barang dari salah satu preman yang membawanya!" teriak Markonah sambil mengambil gelang itu. Ia langsung menunjukkan gelang kepada salah satu petugas polisi.
"Kita bisa mencari tahu di mana gelang ini dijual! Dari situ bisa kita dapatkan informasi tentang mereka!" jelas Markonah dengan mata yang menyala api.
Petugas polisi menerima gelang dan mengangguk setuju. Namun Markonah sudah memutuskan sendiri. Ia berbalik menghadap Boris dan berkata dengan tekad:
"Boris, kita tidak bisa hanya menunggu. Kita akan mencari tahu sendiri di mana mereka menyembunyikan Zikri. Siapkah kamu?"
Boris menggeram rendah sebagai jawaban, kepalanya sedikit mengangguk. Markonah segera berjalan meninggalkan sekolah, menyampaikan pesan kepada Bu Sri bahwa ia akan segera kembali dengan membawa Zikri pulang.
Tanpa berpikir panjang lagi, ia mulai mengikuti jejak apa saja yang bisa ditemukannya, dengan hati yang penuh tekad untuk menyelamatkan orang yang dicintainya.