EPISODE 12 :
Brak!
Pintu UKS akhirnya roboh tertendang oleh para preman yang berbondong-bondong masuk. Kayu yang menyangga pintu terlempar ke sekeliling, membuat Bu Sri terpental ke dinding. Markonah segera menghadang jalan mereka, tapi dengan jumlah yang terlalu banyak, ia terdesak mundur perlahan.
"Sadar diri aja, perempuan! Jangan campur urusan kita!" teriak salah seorang preman sambil mendorong Markonah hingga ia terjatuh di lantai.
Boris dengan gagah berani melompat menyerang para preman, menggigit kaki dan lengan mereka. Namun beberapa preman sudah siap, menangkap Boris dengan cepat dan mengikat badannya dengan tali yang mereka bawa. Boris mengeram kesakitan dan berusaha melarikan diri, tapi tidak berhasil.
Tanpa ada yang menghalangi lagi, salah seorang preman besar berbadan tegap langsung menghampiri Zikri yang sudah tak berdaya terduduk di ujung ranjang. Ia menyekak leher Zikri dengan tangan besarnya, membuat Zikri kesulitan bernapas.
"Kau benar-benar anaknya ya? Jangan menyembunyikan diri lagi!" ucap preman itu dengan suara mengerikan.
Zikri mencoba meronta, tapi kekuatan preman itu jauh lebih besar. Tangan lain mulai menyentuh tubuhnya, berusaha membuka kancing seragamnya dengan kasar. Air mata mengalir deras di wajah Zikri—takut, bingung, dan tidak mengerti mengapa semua ini terjadi padanya.
Markonah dengan susah payah bangkit dari lantai. Tubuhnya terasa sakit karena ditendang, tapi ia tidak bisa tinggal diam melihat Zikri disiksa. Ia mencoba menyerang para preman dari belakang, namun langsung dihalangi oleh dua orang preman lain yang menahan tangannya dan membawanya jauh dari Zikri.
"Biarkan aku pergi! Jangan sentuh dia!" teriak Markonah dengan suara serak, berusaha melepaskan diri dari genggaman mereka.
Bu Sri yang sudah bangun segera mengambil teleponnya lagi, mencoba menghubungi polisi sambil berteriak meminta bantuan. Namun salah seorang preman menyambar teleponnya dan menghancurkannya dengan batu yang ada di dekat jendela.
"Sekarang tidak ada yang bisa datang membantu kalian!" teriak preman itu dengan senyum sinis.
Saat tangan preman yang menyekak Zikri mulai semakin erat dan yang lain hampir membuka semua kancing seragamnya, Zikri merasa sesak dan dunia di depannya mulai berbalik-balik. Ia masih tidak mengerti apa hubungan dirinya dengan para preman ini, atau mengapa mereka harus menyakitinya dengan begitu kejam.
Boris yang masih terikat terus mengeram dengan penuh kemarahan, mata merah menyala karena tidak bisa melindungi Zikri seperti dulu.
Dengan kekuatan yang tak tertandingi, para preman menyeret Zikri yang sudah lemah keluar dari UKS. Zikri mencoba berteriak memanggil nama Markonah, tapi suaranya hanya terdengar serak dan nyaris tak terdengar karena masih tersekak.
"MARKONAH... Tolong..."
Markonah teriak kesakitan saat melihat pacarnya diambil begitu saja. Ia berusaha melawan dengan sekuat tenaga, tapi dua preman yang menahannya cukup kuat untuk menjaganya tidak bisa bergerak.
"LEPASIN DIA! KALIAN MAU APA DENGAN ZIKRI?!" jeritnya dengan suara pecah.
Boris, yang berhasil melepaskan diri dari tali pengikat dengan menggigitnya sampai putus, langsung mengejar mereka keluar koridor. Namun salah seorang preman menendangnya dengan sangat keras ke dinding, membuatnya terjatuh dan kesulitan berdiri kembali.
Bu Sri yang panik mencoba mengikuti mereka, tapi kaki nya terkilir saat terpental tadi, membuatnya hanya bisa merangkak sambil berteriak meminta bantuan kepada siswa dan guru yang baru mulai keluar dari kelas karena kebisingan.
Para preman menyeret Zikri melalui halaman sekolah, menuju gerbang belakang yang terbuka lebar. Beberapa siswa yang melihat kejadian itu takut untuk campur tangan, hanya bisa berdiri kaku menyaksikan semuanya. Di depan gerbang, sebuah mobil pikap tua sudah menunggu dengan mesin menyala.
Tanpa ampun, Zikri dimasukkan ke dalam bak mobil dan salah seorang preman segera menutupinya dengan erat. Mobil langsung melaju cepat meninggalkan SMA Garuda, menyisakan awan debu dan kepanikan di sekolah.
Markonah akhirnya berhasil melepaskan diri dari genggaman preman yang menahannya. Ia berlari keluar dengan menangis, melihat ke belakang mobil yang semakin jauh hilang di kejauhan. Boris yang sudah bisa berdiri kembali mengikuti langkahnya, mengeluarkan suara merintih khasnya "Krook... krook..." yang penuh kesedihan.
Bu Sri yang sudah dibantu oleh beberapa guru segera menghubungi kepala sekolah dan memanggil polisi. Kepala sekolah yang baru datang dengan petugas keamanan terkejut dan marah melihat kondisi sekolah yang berantakan dan kabar bahwa Zikri telah diambil oleh para preman.
"Segera laporkan ke polisi! Kita harus menemukan Zikri secepatnya!" perintah kepala sekolah dengan suara gemetar.
Markonah berdiri tak bergerak di halaman sekolah, matanya menatap arah mana mobil itu pergi. Tangannya menggenggam seragam Zikri yang sobek saat diseret, dan hatinya penuh dengan tekad yang membara.
"Aku akan menemukanmu, Zikri. Janji."
Boris berdiri di sisinya, kepalanya sedikit menunduk namun matanya tetap terpaku ke arah mobil yang hilang—seolah juga berjanji akan membantu menemukan sahabatnya itu.