Sebuah senyuman. Itu saja. Hanya sebuah senyuman yang mampu mengubah segalanya, seolah bunga yang mekar di musim semi, merekah indah dan tak terlupakan. Senyuman itu kini hanya tinggal kenangan, sebuah fragmen masa lalu yang entah bagaimana bisa membelokkan arah hidupku.
Kejadian itu dua tahun silam, saat aku masih berstatus siswa kelas 12. Kala itu, hanya tinggal satu semester lagi untuk merampungkan masa SMA. Namaku Putra, nama yang mungkin terdengar pasaran, tapi aku meyakininya punya kisah yang tak kalah unik dari nama-nama lainnya.
Bisa dibilang, aku adalah tipikal orang normal pada umumnya. Bangun pagi, mandi, sarapan seadanya, pergi sekolah, pulang, lalu tidur lagi. Siklus yang mungkin terasa monoton, tapi itulah rutinitas keseharianku. Sejak kecil, aku terbiasa menyendiri. Bukan karena tak suka keramaian, tapi sifatku yang cenderung introvert dan pemalu membuat interaksiku dengan orang lain terasa canggung.
Tapi, jangan salah paham, aku bukan orang yang kesepian. Aku punya tiga sahabat yang selalu ada, menemani setiap langkah dan cerita.
Namun, segalanya berubah drastis sejak aku mengenal satu wanita. Dia hadir bagaikan bunga sakura yang mekar sempurna, memancarkan pesona yang tak bisa dijelaskan. Manisnya bak madu, membuat setiap detik di dekatnya terasa berbeda.
Pagi itu, seperti biasa, aku menjalankan rutinitas yang sama. Singkat cerita, aku sudah tiba di sekolah, langkahku ringan menuju ke dalam kelas. Namun, saat melewati koridor yang agak ramai, mataku tak sengaja menangkap siluet seseorang. Terlambat untuk menghindar, bahuku beradu dengan salah seorang siswi dari kelas sebelah.
Bruk! Beberapa buku yang dipegangnya terjatuh berserakan di lantai.
"Aduh," gumamnya pelan de gan suara yang terdengar lembut.
"Eh, maaf banget," kataku refleks sambil buru-buru membungkuk untuk mengambil buku-buku yang jatuh itu.
Jemariku meraih salah satu buku yang terbuka, dan di sampulnya tertulis jelas: "Cara Memasak dengan Baik".
Sebuah senyum tipis terukir di wajahku. "Ternyata, dia suka masak, ya," batinku sambil mengembalikan buku itu kepadanya.
Setelah menerima bukunya, gadis itu hanya mengangguk kecil, wajahnya sedikit tertunduk, lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku sempat berpikir, mungkin dia juga tipe pemalu sepertiku, jadi aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Hari itu pun berlalu begitu saja, tak ada kejadian istimewa selain pelajaran di kelas, makan siang di kantin, lalu kembali belajar. Saat jarum jam menunjuk pukul empat sore, bel pulang berbunyi nyaring, menandakan berakhirnya kegiatan sekolah. Aku segera memasukkan buku-buku ke dalam tas dan bergegas menuju tempat parkir sepeda, karena memang sepeda adalah teman setia perjalananku setiap hari.
Area parkir sepeda sore itu lumayan sepi, hanya ada beberapa siswa yang masih sibuk mengunci atau mengeluarkan sepeda mereka. Aku melangkah santai, mencari sepedaku yang biasa kuletakkan di deretan paling belakang. Tapi, langkahku tiba-tiba terhenti. Di dekat sepedaku, di antara tumpukan sepeda lainnya, berdiri sesosok gadis. Punggungnya menghadap ke arahku, terlihat sedang kesulitan dengan rantai sepedanya yang tampaknya lepas.
Aku mendekat perlahan, dan saat dia menolehkan kepala, jantungku seolah berhenti berdetak. Rambut panjangnya yang tergerai, wajahnya yang cantik, dan tatapan matanya yang sedikit kebingungan, tak salah lagi, itu adalah gadis yang kutabrak tadi pagi!
Dia yang memiliki senyuman indah layaknya bunga di musim semi. Sesaat aku terpaku, tak tahu harus berbuat apa. Haruskah aku menyapanya? Atau pura-pura tidak melihat dan langsung mengambil sepedaku? Debaran di dadaku terasa semakin kencang.
Aku hanya terpaku di tempat, rasanya otakku berputar cepat mencari keputusan. Namun, sebelum sempat memutuskan, gadis itu mendesah pelan, seolah menyerah pada nasib rantai sepedanya yang keras kepala. Dia mencoba lagi, jemarinya yang ramping menyentuh rantai hitam yang berminyak, namun usahanya sia-sia. Ada sedikit raut frustrasi di wajah cantiknya.
Melihatnya kesulitan, naluri menolongku tiba-tiba muncul. Sifat pemaluku seolah lenyap untuk sesaat, digantikan dorongan untuk membantu.
Aku memberanikan diri melangkah lebih dekat. "Butuh bantuan?" suaraku sedikit lebih rendah dari yang kuharapkan, agak serak karena gugup.
Gadis itu terkejut, sedikit tersentak lalu menoleh cepat ke arahku. Matanya yang indah membulat sempurna, dan rona merah tipis menjalar di pipinya. Mungkin karena malu, atau mungkin karena kaget tiba-tiba ada yang menyapa. Dia hanya mengangguk pelan, tanpa suara.
Aku menunjuk rantai sepedanya. "Sepertinya lepas. Biar aku bantu pasang," tawarku, mencoba terdengar sesantai mungkin. Tanpa menunggu jawabannya, aku segera berjongkok, mengamati posisi rantai dan gir. Tanganku yang tadinya bersih kini akan berlumuran oli, tapi entah mengapa, aku tidak peduli. Aroma manis dari dirinya yang berdiri di dekatku, entah dari parfum atau aroma alami tubuhnya, memenuhi indra penciumanku.
Aku fokus pada rantai, sedikit menariknya, lalu dengan hati-hati meletakkannya kembali ke posisinya. Tak butuh waktu lama, rantai sepeda itu sudah terpasang sempurna. Aku berdiri, membersihkan sedikit oli di jari-jariku dengan tisu yang untungnya selalu ada di saku celanaku.
"Sudah beres," kataku, mencoba tersenyum tipis.
Gadis itu menatap sepedanya, lalu mengangkat kepalanya, mempertemukan pandangan kami. Kali ini, sebuah senyum kecil terukir di bibirnya. Senyuman yang persis seperti yang kulihat pagi tadi, yang langsung menancap kuat di benakku. Sebuah senyuman yang benar-benar mirip bunga mekar di musim semi, memancarkan kehangatan dan keindahan.
"Terima kasih," suaranya lembut, seperti bisikan angin musim semi. Itu adalah kata pertama yang kudengar langsung darinya, dan rasanya seperti melodi yang indah.
"Sama-sama," jawabku, merasa sedikit canggung namun bahagia.
Aku ingin sekali bertanya namanya, atau bahkan obrolan ringan lainnya, tapi lidahku terasa kelu. Sifat pemalu itu kembali menyerang di saat yang tidak tepat.
Dia mengangguk lagi, lalu dengan hati-hati menaiki sepedanya.
Sebelum dia mengayuh pedal, dia menoleh sedikit ke belakang, matanya bertemu denganku lagi. "Aku duluan, ya," katanya, lalu senyum manis itu kembali merekah untuk sesaat sebelum dia melesat pergi, meninggalkan jejak harum yang samar di udara.
Aku hanya berdiri di sana, menatap punggungnya yang menjauh hingga menghilang di tikungan jalan. Jantungku masih berdebar kencang, dan senyumannya masih terbayang jelas di benakku. Aku tidak tahu namanya, tidak tahu kelasnya.
.....
Malam harinya, setelah makan malam, aku merebahkan diri di tempat tidur. Namun, pikiranku tak bisa tenang. Wajahnya terus berkelebat, senyumannya yang menawan tak henti-hentinya menari-nari di pelupuk mata. Siapa dia? Kenapa dia begitu memikat? Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja berputar di kepalaku, seperti roda gigi yang tak henti berputar.
Aku tahu, aku harus mencari tahu. Ini bukan hanya rasa penasaran biasa. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang mendorongku untuk mengenalnya lebih jauh. Tapi, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Dia anak kelas sebelah, artinya kami mungkin memiliki jadwal yang berbeda, atau bahkan teman-teman yang tidak saling mengenal. Ide untuk bertanya pada teman-temanku muncul, tapi segera kutepis. Mereka pasti akan meledekku habis-habisan jika tahu aku tiba-tiba tertarik pada seorang gadis yang baru kutemui. Aku harus melakukannya sendiri.
Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah dengan semangat yang berbeda. Langkahku terasa lebih ringan, pandanganku menyapu setiap sudut, mencari-cari kehadirannya. Setiap wajah siswi yang lewat kuperhatikan, berharap bisa menemukan senyuman yang sama, atau rambut panjang yang sama, atau bahkan buku "Cara Memasak dengan Baik" yang jadi petunjuk kecil. Namun, nihil. Koridor terasa lebih ramai dari biasanya, dan wajah-wajah yang kulihat tampak asing.
Aku bahkan memberanikan diri untuk mengintip ke kelas-kelas di sebelah kelasku, mencari-cari bangku kosong atau sosok yang familiar. Tentu saja, aku melakukannya dengan sangat hati-hati, agar tidak menarik perhatian siapapun, terutama para guru piket yang patroli di lorong. Berkali-kali aku hampir tertangkap basah, tapi untungnya, keberuntungan masih memihakku.
Pencarianku berlanjut hingga jam istirahat. Aku sengaja pergi ke kantin lebih awal, berharap bisa menemukannya di sana. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin yang mulai ramai, dari bangku-bangku di tengah sampai ke pojok-pojok yang tersembunyi. Namun, lagi-lagi, ia tidak ada. Aku bahkan mencoba duduk di dekat area penjualan makanan yang ramai, berharap bisa melihatnya saat dia membeli makan. Tapi, harapanku pupus.
Rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Sekolah kami cukup besar, dengan ratusan siswa di setiap angkatan. Menemukan satu orang tanpa nama, tanpa tahu kelasnya, adalah tugas yang hampir mustahil. Aku mulai merasa putus asa. Mungkin aku hanya terlalu terbawa perasaan. Mungkin dia hanya sekadar siswi biasa yang kebetulan lewat dan berinteraksi denganku. Tapi, hati kecilku menolak untuk percaya. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar kebetulan.
Hari itu berakhir tanpa hasil. Aku pulang dengan perasaan campur aduk. Ada sedikit kecewa, tapi juga tekad yang semakin membara. Aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku harus menemukannya. Entah bagaimana caranya, aku akan mencari tahu siapa dia. Karena, sejujurnya, senyumannya itu sudah terukir begitu dalam di memoriku, dan aku merasa, hidupku akan hampa jika tidak bisa melihatnya lagi.
.....
Minggu-minggu berikutnya terasa panjang dan hampa. Aku terus mencoba mencari tahu tentang gadis itu, tapi selalu saja buntu. Seolah dia muncul dan menghilang tanpa jejak, seperti ilusi di tengah keramaian sekolah. Fokusku pada pelajaran mulai sedikit terganggu. Setiap kali ada waktu luang, mataku tak bisa berhenti mencari, berharap sekilas bayangannya muncul di antara lautan siswa. Teman-temanku mulai menyadari perubahanku, tapi aku selalu beralasan sedang memikirkan soal ujian atau tugas akhir.
Waktu terus bergulir, dan tanpa terasa, semester terakhirku di SMA mulai menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Ujian akhir sudah di depan mata, diikuti dengan persiapan acara perpisahan yang megah. Segala hiruk-pikuk ini seolah menenggelamkan obsesiku pada gadis itu, meski bayangannya tetap samar-samar ada di sudut pikiranku. Aku harus fokus. Ini adalah momen terakhirku sebagai siswa SMA, dan aku ingin menyelesaikannya dengan baik.
Hingga akhirnya, hari itu tiba. Hari perpisahan SMA. Aula sekolah sudah disulap menjadi tempat yang indah, dihiasi bunga-bunga dan pita-pita, mencerminkan suasana sukacita sekaligus haru. Seluruh siswa kelas 12, beserta guru dan orang tua, berkumpul di sana. Aku mengenakan seragam terbaikku, ikut larut dalam kemeriahan, berfoto dengan teman-teman, dan mendengarkan pidato perpisahan yang mengharukan. Ada rasa lega, sedih, dan juga antusiasme akan masa depan yang menanti.
Setelah acara resmi selesai, suasana berubah menjadi lebih santai. Para siswa berpencar, mengobrol, berfoto, dan mengucapkan selamat tinggal. Aku sedang berdiri di dekat pintu keluar, mengamati keramaian, ketika pandanganku tak sengaja menangkap sosok yang familiar. Itu dia!
Di tengah kerumunan, di antara tawa dan senyum perpisahan, dia berdiri tak jauh dariku. Rambut panjangnya yang terurai, gaun yang dia kenakan, dan aura lembut yang selalu mengelilinginya, aku tidak mungkin salah. Jantungku yang tadinya tenang, kini kembali berdebar kencang, jauh lebih cepat dari yang kubayangkan. Ini seperti keajaiban. Di hari terakhir sekolah, saat aku sudah hampir menyerah, semesta seolah memberikan kesempatan kedua.
Aku segera melangkah, menembus kerumunan orang yang riuh. Setiap langkah terasa begitu berat, ada rasa gugup yang luar biasa, takut jika dia akan menghilang lagi. Namun, aku harus melakukannya. Ini mungkin kesempatan terakhirku.
Aku berhasil mendekatinya. Dia sedang berbicara dengan beberapa teman perempuannya, sesekali tertawa kecil. Aku memberanikan diri untuk memanggil namanya, meskipun aku tidak tahu namanya. "Hei!" kataku, suaraku sedikit lebih keras dari yang kuinginkan, menarik perhatian mereka.
Gadis itu menoleh. Matanya membulat sesaat, ada sedikit keterkejutan di wajahnya, lalu senyuman manis itu kembali merekah. Kali ini, senyumannya lebih lebar, lebih cerah. "Oh, kamu!" katanya, seolah dia juga mengingatku. Dadaku menghangat.
"Selamat, ya, untuk kelulusannya," kataku canggung.
"Kamu juga, selamat," balasnya, lalu tawanya yang renyah terdengar. "Terima kasih soal sepeda waktu itu."
"Ah, tidak masalah," aku melambaikan tangan, sedikit malu karena dia masih mengingatnya. "Aku... aku tidak tahu kalau kita satu angkatan."
Dia tersenyum lagi. "Aku juga tidak tahu kalau kamu suka bersepeda," jawabnya ringan. Suasana menjadi hening sejenak, hanya ada suara keramaian di sekeliling kami. Aku ingin sekali bertanya banyak hal, mengenalnya lebih dalam, tapi waktu terasa begitu singkat, dan kata-kata seolah tercekat di tenggorokanku.
Tiba-tiba, salah satu temannya menarik lengannya. "Ayo, kita harus segera pulang. Orang tua sudah menunggu," katanya.
Gadis itu menoleh ke arah temannya, lalu kembali menatapku. Ada sedikit raut penyesalan di matanya, seolah dia juga ingin melanjutkan percakapan ini. "Aku harus pergi sekarang," katanya, suaranya sedikit terburu-buru.
Aku hanya bisa mengangguk, merasa waktu ini terlalu singkat, terlalu cepat. Kesempatan yang kunanti-nantikan ini seolah akan melayang begitu saja.
Dia mulai melangkah mundur, mengikuti teman-temannya. Tapi, sebelum benar-benar berbalik, dia menoleh lagi ke arahku. Matanya berbinar, dan senyumannya mengembang sempurna, jauh lebih lebar dari senyuman bunga di musim semi.
"Omong-omong," katanya, suaranya sedikit melengking ceria. "Namaku Sakura!"
Dan dengan itu, dia berbalik dan melangkah pergi, menghilang di antara kerumunan siswa yang berhamburan keluar aula. Aku terpaku. Nama itu. Sakura. Persis seperti bunga indah yang kubayangkan saat pertama kali melihatnya. Nama yang sangat cocok dengannya.
Senyumannya yang terakhir, saat dia menyebutkan namanya, terasa seperti janji. Sebuah janji untuk pertemuan selanjutnya, atau mungkin, sebuah janji untuk hidupku yang baru akan dimulai. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan pernah melupakan hari kelulusan ini, dan nama Sakura akan selalu terukir di hatiku.
The End