Semua orang hanya tahu aku yang “bisa apa saja”.
Aku yang nggak enakan untuk menolak.
Aku yang diam dan mengalah.
Tapi mereka tak pernah tahu sisi diriku yang sebenarnya.
Sejak kecil, tuntutan selalu datang lebih dulu daripada pengertian.
Entah sejak kapan, kata sempurna terasa seperti garis akhir yang tak pernah ada ujungnya.
Aku akui—aku memang tak pandai dan tak selalu mahir dalam banyak hal, baik akademik maupun non-akademik.
Namun aku juga tak sebodoh dan sebeban itu.
Bertahun-tahun aku berusaha agar tak menjadi beban bagi siapa pun.
Jika bisa, aku ingin melakukan segalanya sendiri—tanpa bantuan, tanpa merepotkan.
Sulit, tentu saja.
Namun lama-lama itu menjadi kebiasaan.
Menjadi caraku bertahan.
Kehidupanku tak pernah benar-benar baik-baik saja.
Keluargaku tak pernah utuh dalam kata tenang.
Teman-temanku pun tak pernah sungguh memikirkanku.
Mungkin ini egois, tapi aku hanya ingin dimengerti.
Aku lelah.
Bukan karena aktivitas, bukan karena alasan yang terlihat.
Aku lelah karena tak bisa mengekspresikan diriku sendiri.
Aku bercerita ke sana kemari, tapi tak pernah benar-benar didengar.
Dan aku membenci perasaan itu.
Sekarang aku mulai paham—berekspektasi terlalu tinggi pada orang lain mungkin bukan ide yang baik.
Masalahnya, merekalah yang terlalu banyak berekspektasi padaku.
Dan bodohnya aku, aku selalu berusaha menjadi apa yang mereka inginkan, meski itu sulit.
Aku hanya tak ingin mengecewakan siapa pun.
Setidaknya, aku sudah berusaha.
Namun ketika aku mengeluh tentang lelahku, tak pernah ada yang memelukku dan berkata, “Aku dengar.”
Yang ada hanya kalimat sederhana:
“Semua orang capek. Di dunia ini nggak ada orang yang nggak capek.”
Kalimatnya singkat, tapi rasanya menyakitkan.
Lalu aku bertanya pada diriku sendiri—
kapan dunia akan benar-benar melihatku?
Kapan orang-orang menyadari aku bisa jatuh, menangis, dan tak sanggup melakukan apa-apa?
Kapan mereka paham bahwa lelahku bukan lelah seperti yang mereka bayangkan?
---
" one fact about myself." -6I4M0ND.