EPISODE 11:
Di dalam UKS yang tenang, Zikri masih terbaring di ranjang dengan pandangan yang belum fokus. Petugas kesehatan sekolah, Bu Sri, sedang menyiapkan teh hangat sambil mengamati kondisi Zikri dengan perhatian penuh.
"Tenang saja, nak. Kamu aman di sini," ujar Bu Sri lembut saat memberikan gelas teh kepada Zikri.
Zikri menerima gelas dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia menyeduh secangkir kecil, rasa hangat teh perlahan meresap ke dalam tubuhnya yang masih menggigil ringan. Tak lama kemudian, Markonah masuk bersama Boris yang kini berjalan dengan langkah lebih tenang.
Boris langsung mendekat ke ranjang Zikri, melingkarkan tubuhnya di sisi kepala ranjang dan menjilat perlahan tangan Zikri. Sentuhan lembut itu seolah membawa pesan penyejuk: Aku ada di sini.
Markonah menarik sebuah kursi ke dekat ranjang, kemudian duduk sambil menahan erat tangan Zikri. "Bu Sri bilang kamu butuh istirahat dan bicara perlahan. Mau cerita sedikit tentang apa yang kamu rasakan sekarang?" tanyanya dengan nada yang sangat lembut.
Zikri menghela napas panjang. Setelah beberapa saat, ia mulai berbicara dengan suara pelan, "Aku cuma... takut. Kenapa mereka harus begitu padaku? Aku cuma mau belajar dan tidak mengganggu siapa-siapa."
Markonah mengangguk dengan penuh pengertian. "Itu bukan salahmu, Zikri. Para pelaku yang salah. Mereka tidak punya hak menyakiti kamu seperti itu."
Seiring berjalannya waktu, Zikri mulai membuka diri lebih banyak. Ia menceritakan bagaimana perundungan itu sudah terjadi selama beberapa minggu, tapi ia selalu menyembunyikannya karena takut dianggap lemah dan khawatir membuat Markonah khawatir.
"Aku tahu kamu kuat, tapi kamu tidak harus menanggung semuanya sendirian," ujar Markonah sambil mengusap punggung Zikri dengan lembut. "Kita adalah pasangan. Ada baiknya kita saling berbagi beban, bukan?"
Bu Sri yang sedang memeriksa catatan kesehatan Zikri kemudian menyela, "Zikri membutuhkan istirahat cukup dan dukungan emosional. Boleh saja jika kamu ingin tinggal di sini menemani dia, Markonah. Selain itu, saya akan menghubungi orang tuanya untuk memberitahu kondisi sekarang dan menyarankan konseling agar pemulihan mentalnya lebih baik."
Markonah mengangguk setuju. Ia melihat Boris yang kini sudah tertidur di kaki ranjang, lalu kembali menatap Zikri. "Aku akan tetap di sini sampai kamu merasa lebih baik. Besok kita bisa berbicara dengan konselor sekolah juga ya? Banyak orang yang ingin membantu kamu."
Zikri mengangguk, matanya mulai terlihat lebih tenang. Ia meraih tangan Markonah dengan erat, rasa aman yang datang dari pacarnya dan kesetiaan Boris perlahan menghapus rasa takut yang menggerogoti hatinya. Perlahan-lahan, matanya mulai terasa berat dan ia tertidur dengan wajah yang lebih rileks.
Markonah tetap berada di sampingnya, menjaga dengan penuh cinta, sambil mengamati Boris yang masih terbaring setia di sisi ranjang.
Namun Tiba-tiba, suara desisan dan teriakan keras terdengar dari koridor luar UKS. Suara sepatu bot yang menginjak lantai dengan keras semakin dekat, disertai jeritan yang membuat semua orang di dalam UKS menjadi tegang.
"Dimana Zikri?! Cari dia sekarang juga!"
Bu Sri yang baru saja keluar sebentar untuk mengambil obat langsung masuk ke dalam UKS dengan wajah pucat ketakutan. Tanpa berlama-lama, ia segera mengunci pintu, lalu menggunakan kursi berat untuk menyangga pintu dari dalam. Rak obat juga ditarik untuk memperkuat penghalang.
"Ada preman masuk sekolah! Mereka cari Zikri!" ujar Bu Sri dengan napas terengah-engah.
Zikri langsung duduk tegak di ranjang, matanya penuh ketakutan. "Kenapa mereka bisa tahu aku ada di sini? Aku bahkan tidak kenal mereka!" gumamnya dengan suara gemetar.
Markonah berdiri dengan cepat, tubuhnya siap siaga. Boris juga langsung bangun dari tidurnya, berdiri di depan ranjang Zikri dengan leher membengkak dan mengeluarkan suara menggeram rendah "Krook... krook...".
Kita tidak bisa keluar sekarang, pintunya sudah kita kencangkan dari dalam," kata Bu Sri sambil melihat ke arah jendela yang cukup tinggi. "Jendela juga terkunci rapat. Kita harus bertahan sampai bantuan datang."
Suara pukulan keras mulai menghantam pintu UKS. "Bukakan pintu! Kalau tidak kami akan menghancurkannya!" teriak salah satu preman di luar.
Zikri menggenggam tangan Markonah erat. "Aku tidak tahu kenapa mereka cari aku. Aku tidak pernah berselisih dengan siapapun di luar sekolah," katanya hampir menangis.
Markonah memeluk pundak Zikri dengan lembut tapi kuat. "Tenang, aku akan melindungimu. Kamu tidak sendirian."
Boris semakin menggeram keras, siap menyerang jika pintu terbuka. Bu Sri mengambil telepon darurat di meja dan segera menghubungi kepala sekolah serta petugas keamanan sekolah.
"Tolong cepat datang ke UKS! Ada preman yang ingin masuk dan mencari siswa kami!" teriak Bu Sri ke telepon.
Suara pukulan di pintu semakin keras. Kayu pintu mulai menunjukkan tanda-tanda retak. Tidak ada yang tahu mengapa para preman ini bisa masuk ke sekolah atau mengapa mereka mencari Zikri—semua yang penting sekarang adalah menjaga keamanan Zikri dan semua orang di dalam UKS.
Markonah mengambil tongkat kayu yang ada di sudut kamar untuk digunakan jika ada yang berhasil masuk. "Siapapun mereka, mereka tidak akan menyentuhmu, Zikri," ucapnya dengan tekad membara.