Kisah ini adalah tentang sebuah ikatan yang seharusnya suci, namun perlahan digerogoti oleh sesuatu yang tidak kasat mata. Berikut adalah cerpen mistis tentang perjuangan seorang istri melawan tirai gaib kiriman sang mertua.
Wangi Melati di Tengah Malam
Rumah besar bergaya kolonial milik Ibu Rahayu selalu terasa dingin, meski matahari sedang terik-teriknya. Sejak aku menikah dengan Baskara dan terpaksa tinggal di sini, aku merasa ada ribuan mata yang mengawasiku dari balik dinding.
Ibu Rahayu tidak pernah menyukaiku. Baginya, aku hanyalah wanita biasa yang "mencuri" putra semata wayangnya. Namun, penolakannya tidak disampaikan lewat kata-kata, melainkan lewat sesuatu yang jauh lebih gelap.
Gejala yang Tak Masuk Akal
Segalanya dimulai sebulan setelah pernikahan kami. Setiap kali Baskara hendak menyentuhku, aroma melati yang busuk menyengat tiba-tiba menyeruak di kamar kami.
Rasa Panas: Setiap kali tangan Baskara menyentuh kulitku, rasanya seperti ditempelkan besi panas. Aku akan menjerit kesakitan, padahal Baskara hanya ingin membelai rambutku.
Wujud Gaib: Di sudut mata, aku sering melihat sesosok wanita tua bungkuk dengan wajah hancur yang berdiri tepat di belakang Ibu Rahayu setiap kali kami makan bersama.
Perubahan Sifat: Baskara yang penyayang perlahan berubah menjadi pemarah. Ia sering menatapku dengan tatapan benci, seolah-olah ia melihat sosok monster, bukan istrinya.
Malam Puncak Penderitaan
Malam itu, tepat malam Jumat Kliwon, aku terbangun karena merasa sesak napas. Di atas dadaku, aku melihat bayangan hitam besar sedang menindihku. Di sudut kamar, sayup-sayup terdengar suara Ibu Rahayu sedang merapal mantra dalam bahasa Jawa kuno yang kaku.
"Pergi... kau bukan bagian dari keluarga ini..." bisik suara itu, parau dan dingin.
Aku mencoba berteriak, tapi lidahku terasa kaku. Mataku melirik ke arah pintu yang sedikit terbuka. Di sana, Ibu Rahayu berdiri memegang sebuah boneka kain yang dililit rambut hitam—rambutku yang jatuh di kamar mandi tempo hari. Ia menusukkan jarum tepat ke bagian dada boneka itu.
Seketika, jantungku terasa seperti diperas. Aku melihat Baskara terbangun, namun ia tidak melihatku. Ia menatap kosong ke arah ibunya, lalu berjalan keluar kamar seperti kerbau dicocok hidung, meninggalkan aku yang sekarat dalam cengkeraman gaib.
Tabir yang Terungkap
Pagi harinya, aku menemukan bungkusan kain kafan kecil di bawah kasur kami. Isinya mengerikan: tanah kuburan, kembang kamboja kering, dan foto pernikahanku yang wajahnya telah disilet habis.
Aku menyadari satu hal: cinta kami tidak memudar karena bosan, tapi karena ada "tembok" yang dibangun dengan bantuan jin. Ibu Rahayu ingin memulangkan Baskara ke rahimnya, menjadikannya milik dia seutuhnya, tanpa ada wanita lain di antara mereka.
Catatan: Dalam banyak kepercayaan lokal, sihir pemisah atau sihir tafriq memang bertujuan merusak persepsi pasangan sehingga mereka saling terlihat buruk satu sama lain.
Kisah ini berakhir dengan pilihanku: bertahan dan bertarung secara batin, atau pergi menyelamatkan nyawaku sendiri sebelum sihir itu benar-benar menghancurkan akal sehatku.
Apakah kamu ingin aku melanjutkan cerita ini dengan adegan bagaimana sang istri berusaha melakukan pembersihan gaib atau "ruqyah" untuk melawan sihir tersebut?