Rumah keluarga Baskoro dulunya adalah bangunan paling bising di blok itu.
Suara tawa Arkan yang baru berusia tujuh tahun biasanya akan beradu dengan denting piring yang disiapkan Sarah, ibunya, dan suara radio tua milik Pak Baskoro yang selalu menyiarkan berita pagi. Namun, sejak enam bulan lalu, rumah itu berubah menjadi museum sunyi.
Debu mulai menumpuk di rak mainan Arkan, dan hanya ada satu suara yang tersisa: detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sesuatu yang tak terelakkan.
Semuanya bermula dari sebuah keluhan sederhana. "Ma, kepalaku pusing seperti diputar-putar," ucap Arkan suatu sore. Siapa yang menyangka bahwa kalimat sederhana itu adalah awal dari badai yang menghancurkan pondasi keluarga mereka?
●Di Koridor Putih●
Kini, kehidupan mereka berpindah ke kamar 402 Rumah Sakit Harapan. Bau karbol dan suara mesin patient monitor menjadi latar belakang kehidupan sehari-hari.
"Mas, kamu sudah makan?" tanya Sarah lirih. Wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua. Lingkaran hitam di bawah matanya tak lagi bisa disembunyikan oleh bedak tipis.
Baskoro menggeleng. Ia sedang duduk di kursi plastik di samping tempat tidur Arkan, menatap putranya yang kini tampak begitu kecil di balik selimut putih rumah sakit. Rambut lebat Arkan yang dulu sering diacak-acaknya kini sudah habis akibat rentetan kemoterapi.
"Makanlah dulu, Sar. Biar aku yang jaga Arkan," jawab Baskoro. Suaranya serak, seperti ada tumpukan pasir di tenggorokannya.
Tiba-tiba, jemari kecil Arkan bergerak. Matanya yang sayu terbuka perlahan.
"Papa..." bisik Arkan. Suaranya sangat tipis, hampir tenggelam oleh desis oksigen.
Baskoro langsung mendekat, menggenggam tangan mungil yang kini terasa dingin dan rapuh. "Iya, Sayang. Papa di sini. Papa nggak ke mana-mana."
"Pa, kenapa... kenapa di sini gelap terus? Padahal ini masih siang, kan?"
Hati Sarah serasa disayat sembilu. Ia berbalik, menutup mulutnya dengan tangan agar isakannya tidak terdengar. Kanker itu telah mulai menyerang saraf penglihatan Arkan.
"Hanya mendung, Kan. Sebentar lagi matahari muncul kok," bohong Baskoro.
Air matanya jatuh tepat di punggung tangan Arkan, namun ia segera mengusapnya dengan cepat.
"Pa, kalau nanti Arkan tidur lama... Papa jangan lupa kasih makan Robot Merah ya. Dia suka lapar kalau malam," ucap Arkan polos. Robot Merah adalah mainan favoritnya yang kini tergeletak bisu di atas nakas.
Baskoro terisak. Ia tak tahan lagi. "Iya, Nak. Papa jaga. Tapi Arkan harus kuat ya? Kita nanti pulang, kita main bola lagi di taman."
Arkan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih menyakitkan daripada tangisan. "Taman yang banyak bunga kuningnya ya, Pa? Yang ada es krim cokelatnya?"
"Iya, Nak. Apapun yang Arkan mau."
■■■■
Malam kian larut. Sarah tertidur di sofa kecil dengan posisi yang tidak nyaman, sementara Baskoro masih setia memandangi wajah putranya. Ia teringat saat Arkan pertama kali belajar bersepeda. Arkan jatuh dan lututnya berdarah, tapi dia tidak menangis. Dia justru menatap Papanya dan berkata, "Laki-laki harus kuat, kan Pa?"
Kini, justru Baskoro-lah yang merasa tidak kuat. Sebagai seorang ayah, ia merasa gagal karena tidak bisa memindahkan rasa sakit itu ke tubuhnya sendiri.
Pukul tiga pagi, alarm monitor berbunyi dengan nada yang berbeda. Melengking panjang dan menyakitkan telinga.
"Dokter! Suster!" teriak Baskoro panik.
Sarah terjaga dengan kaget. Dunianya seketika berputar. Suster masuk dengan tergesa-gesa, meminta mereka menunggu di luar.
Di koridor yang dingin, di bawah lampu neon yang berkedip-kedip, Baskoro dan Sarah berpelukan erat. Tidak ada kata-kata. Hanya ada isak tangis yang pecah di tengah kesunyian malam. Mereka adalah dua manusia yang sedang memohon pada semesta agar waktu diputar kembali.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Dokter keluar dengan wajah yang menunjukkan kekalahan. Ia hanya menunduk dan meletakkan tangannya di bahu Baskoro.
"Maafkan kami, Pak, Bu... Arkan sudah tidak merasakan sakit lagi."
Dunia seolah runtuh. Sarah jatuh terduduk di lantai rumah sakit yang dingin, menjeritkan nama putranya hingga suaranya habis. Baskoro berdiri mematung, matanya kosong. Cahaya di hidup mereka baru saja padam.
▪︎▪︎▪︎
Prosesi pemakaman berlangsung dengan sangat cepat, namun bagi Baskoro dan Sarah, setiap detiknya terasa seperti selamanya. Saat tanah pertama dijatuhkan ke atas peti mati Arkan, Sarah pingsan. Baskoro tetap berdiri, memegang Robot Merah milik Arkan di dadanya.
Seminggu setelah pemakaman, rumah mereka masih terasa asing. Baskoro masuk ke kamar Arkan. Baunya masih sama—bau minyak telon dan bedak bayi yang selalu melekat pada Arkan.
Ia melihat sebuah buku gambar di atas meja belajar. Di halaman terakhir, ada sebuah gambar yang tidak rapi. Gambar tiga orang manusia yang bergandengan tangan di bawah matahari yang sangat besar. Di bawahnya ada tulisan tangan yang miring-miring:
"Papa, Mama, Arkan. Bahagia selamanya. Arkan sayang Papa sama Mama sampai ke langit."
Baskoro memeluk buku gambar itu. Ia menangis sejadi-jadinya di lantai kamar yang sunyi. Ia menyadari bahwa meski Arkan sudah tidak ada secara fisik, cinta bocah itu telah memenuhi setiap sudut rumah ini.
..Mencoba Berjalan..
Suatu sore, Sarah duduk di taman belakang. Ia melihat sebuah tanaman kecil mulai tumbuh di pot yang dulu Arkan gunakan untuk menanam biji kacang hijau sebagai tugas sekolah.
"Mas, lihat," panggil Sarah pelan.
Baskoro mendekat. Tunas kecil itu tampak hijau dan kuat, menantang matahari.
"Dia meninggalkan kehidupan untuk kita, Sar," ucap Baskoro sambil menggenggam tangan istrinya. "Kita harus hidup dengan baik, demi dia. Agar saat kita bertemu lagi nanti, kita punya banyak cerita indah untuk diceritakan padanya."
Mereka berdua berdiri di sana, di bawah langit senja yang berwarna jingga. Luka itu tidak akan pernah benar-benar sembuh, tapi mereka belajar untuk berjalan bersamanya. Karena di setiap embusan angin, di setiap sinar matahari yang jatuh, mereka tahu Arkan sedang tersenyum, menjaga mereka dari balik awan.