Baiklah langsung saja, namaku adalah Rosie Camelia. Kalau kalian membayangkan namaku seindah bunga yang mekar di taman istana, kalian salah besar. Di kehidupan sebelumnya—kehidupan yang terasa seperti mimpi yang sangat jauh sekarang—aku adalah seorang wanita karier di Jakarta.
Hidupku dikelilingi oleh hiruk-pikuk suara klakson, tekanan deadline kantor, dan kenyamanan digital yang tidak pernah kusyukuri sampai semuanya direnggut dariku.
Aku ingat betul bagaimana semuanya dimulai. Hari itu aku merasa berada di titik nadir. Gaji yang hanya numpang lewat untuk bayar kosan dan makan mi instan, serta bos yang tidak punya hati nurani.
Aku lelah menjadi 'budak korporat'. Aku ingin kabur. Tapi tidak menyangka bahwa semesta akan mengabulkan permintaanku dengan cara yang sangat ekstrem. Yaitu melemparku ke masa lalu, ke sebuah dunia yang hanya aku kenal dari buku dongeng usang milik mendiang ibuku.
Sekarang, di sinilah aku. Bukan lagi di apartemen sempitku di Jakarta, melainkan di sebuah rumah kayu yang bagi orang modern sepertiku lebih cocok disebut sebagai museum purbakala.
Kalian tahu apa yang paling menyiksa dari menjadi "Bawang Merah"? Bukan soal reputasi jahatnya, tapi soal betapa primitifnya hidup di sini.
Sumpah demi apa pun, aku ingin menangis setiap kali bangun pagi. Tidak ada alarm ponsel yang berbunyi dengan lagu favoritku. Yang ada hanyalah suara kokok ayam jantan yang sangat berisik dan bau asap dari dapur tungku yang menusuk hidung.
Duniaku yang dulu serba instan, kini berubah menjadi dunia yang serba manual dan melelahkan. Aku merindukan skincare-ku. Aku merindukan serum vitamin C, pelembap, dan sunscreen SPF 50.
Di sini? Kulitku harus berhadapan langsung dengan sinar matahari saat aku harus membantu di luar atau sekadar berjalan ke sungai.
Dan sungai! Ya Tuhan, jangan tanya soal urusan sanitasi. Di Jakarta, aku mengeluh jika air di kosan mati sebentar. Di sini, aku harus berjalan kaki membawa jeriken atau bakul hanya untuk mendapatkan air yang bahkan tidak sejernih air mineral kemasan lima ribuan.
Setiap kali aku bercermin di permukaan air yang tenang, aku melihat wajah Bawang Merah. Wajah yang cantik sebenarnya, tapi terlihat begitu kusam di mataku yang terbiasa dengan filter Instagram.
Aku sering berkeluh kesah sendirian. "Rosie, apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu harus terjebak di zaman Nusantara kuno yang bahkan tidak mengenal konsep tisu toilet?"
Babak awal kehidupanku di sini adalah bencana total. Di awal-awal perjuanganku (yang kalau diingat-ingat sangat memalukan), aku menghabiskan waktu dengan kebingungan.
Bayangkan saja, di hari pertama aku terbangun, aku hampir gila karena mencari-cari ponselku. Aku meraba sisi tempat tidur busa yang ternyata sudah berubah menjadi balai-balai bambu keras yang membuat punggungku encok.
Aku berteriak memanggil Google Assistant, tapi yang menyahut justru suara melengking seorang wanita yang memanggilku, "Merah!". Dia adalah ibuku di dunia ini, sosok yang dalam dongeng dikenal sebagai ibu tiri yang kejam, tapi bagiku, dia hanyalah seorang ibu yang terlalu menuntut di tengah kemiskinan dan ambisi.
Lalu masuk ke hari-hari berikutnya, aku mulai menyadari betapa beratnya menjadi wanita di zaman ini. Tidak ada mesin cuci.
Aku harus mengucek pakaian di sungai sampai tanganku kasar dan kapalan. Kalian tahu betapa sakitnya itu? Wanita modern mana yang sanggup mencuci tumpukan kain kasar dengan sabun yang baunya sama sekali tidak wangi lavender?
Belum lagi soal makanan. Jangan harap ada GoFood atau GrabFood yang bisa mengantar seblak atau kopi susu gula aren dalam 15 menit. Kalau aku lapar, aku harus meniup api di tungku sampai mataku perih terkena asap, menumbuk bumbu dengan ulekan batu yang beratnya minta ampun, dan memasak nasi yang seringkali gosong di bawahnya karena aku tidak tahu cara mengatur api kayu bakar.
Dan yang paling membuatku ingin meledak adalah keberadaan Putih—Bawang Putih. Dalam dongeng, dia adalah protagonis yang teraniaya dan suci. Tapi dari sudut pandangku, Rosie yang pragmatis dan sudah kenyang asam garam dunia kerja Jakarta, Putih itu sangat menyebalkan. Dia terlalu ... pasrah. Dia terlalu "baik" sampai-sampai terlihat bodoh di mataku.
Bagaimana mungkin seseorang bisa terus tersenyum dan menerima perlakuan tidak adil tanpa melawan sedikit pun? Aku seringkali gatal ingin memaki, bukan karena aku jahat, tapi karena aku gemas melihat mentalitas korbannya.
Aku sering merenung di bawah pohon beringin di pinggir desa, menatap langit yang biru tanpa polusi—satu-satunya hal positif di sini—sambil membatin. Hidupku berubah dari mengejar target bulanan menjadi mengejar target bertahan hidup.
Aku harus belajar tata krama zaman dulu, berbicara dengan bahasa yang halus, dan yang paling sulit, menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata makian modern saat aku tersandung batu atau saat kepanasan.
"Rosie Camelia," bisikku pada diri sendiri, "kamu harus bertahan. Kamu adalah Bawang Merah yang berbeda. Kamu bukan Bawang Merah yang hanya tahu caranya iri dan dengki. Kamu adalah wanita Jakarta yang punya insting bertahan hidup lebih kuat dari siapa pun di desa ini."
Tapi tetap saja, rasa rindu itu menyiksa. Aku rindu koneksi Wi-Fi. Aku rindu menggulir TikTok sampai tertidur. Aku rindu dinginnya AC saat Jakarta sedang panas-panasnya.
Di sini, kalau panas, pilihannya cuma satu, mengipasi diri dengan daun pisang atau mandi di sungai yang airnya yang kadang-kadang butek kalau habis hujan.
Perjuanganku di sini bukan cuma soal melawan takdir dongeng agar tidak berakhir tragis, tapi soal bagaimana caranya menjaga kewarasanku di tengah dunia yang sangat primitif ini.
Aku harus memutar otak, menggunakan pengetahuan modernku yang terbatas untuk mempermudah hidupku, sambil tetap menjaga penyamaranku sebagai gadis desa.
Kadang aku merasa seperti alien. Aku melihat orang-orang di pasar yang merasa bahagia hanya dengan mendapatkan sepotong kain baru, sementara aku menangis di dalam hati karena tidak bisa mendapatkan satu cup kopi latte.
Aku merasa terasing di tengah keramaian. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai mengerti bahwa mungkin ini adalah kesempatan keduaku. Untuk tidak lagi menjadi Rosie yang lemah dan tertindas oleh sistem kantor, melainkan menjadi Rosie yang berani. Bawang Merah yang savage, yang tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan pangeran sekalipun, meremehkannya.
Kehidupan di dunia dongeng zaman Nusantara ini memang berat, melelahkan, dan seringkali membuatku ingin menyerah.
Tapi aku adalah Rosie Camelia. Dan jika dunia ini ingin aku menjadi Bawang Merah, maka aku akan menjadi Bawang Merah yang paling tidak terlupakan dalam sejarah dongeng ini.
Keluh kesahku mungkin tidak akan habis dalam seribu malam. Ada begitu banyak detail penderitaan "budak modern" yang dipaksa jadi "gadis kuno" ini yang belum kuceritakan.
Bagaimana rasanya memakai kain lilit yang membuat ruang gerak terbatas, atau bagaimana rasanya harus menghadapi intrik-intrik desa yang ternyata tidak kalah tajam dari politik kantor di Sudirman.
Kalau kalian ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana aku menghadapi pangeran yang menyebalkan itu, atau bagaimana aku mengubah nasibku dari gadis yang seharusnya 'jahat' menjadi wanita yang paling ditakuti dan disegani karena keberanianku, kalian harus mengikuti perjalananku sepenuhnya.
Jika kalian mau tau seperti apa perjuanganku di sini, kalian harus baca novel yang judulnya Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage karya original Riyana Biru.
Di sana, menceritakan semuanya. Segala kemarahanku, strategiku, dan bagaimana aku bertahan hidup di dunia yang gila ini. Sampai jumpa di sana!