Hari pertama semester baru.
Aku melangkah ke gerbang sekolah dengan rasa malas yang biasa saja. Bagiku, sekolah hanyalah rutinitas — datang, belajar, pulang. Tidak ada hal yang benar-benar menarik… sampai hari itu.
Saat aku membuka pintu kelas, pandanganku berhenti.
Seorang gadis duduk di dekat jendela. Rambutnya hitam panjang, tertiup angin tipis dari ventilasi. Cahaya matahari pagi menyentuh wajahnya, membuatnya terlihat… berbeda. Bukan hanya cantik. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Tenang, tapi misterius. Seolah dia membawa dunianya sendiri.
“Eh, kamu murid baru?” tanya Alfa, teman sebangkuku yang selalu heboh.
Gadis itu menoleh pelan.
“Namaku Seisya,” ucapnya lembut.
Saat mata kami bertemu, entah kenapa dadaku berdebar satu kali lebih cepat.Suatu sore, hujan turun deras. Aku lupa membawa payung. Saat aku berdiri di depan gerbang sekolah, sebuah payung putih tiba-tiba muncul di atas kepalaku.
“Ayo pulang bersama,” suara lembut itu terdengar.
Seisya berdiri di sampingku, memegang payung. Air hujan jatuh di sekitar kami, menciptakan suasana seperti adegan anime yang terlalu indah untuk nyata.
Kami berjalan tanpa banyak bicara. Tapi keheningan itu terasa nyaman.
“Kenapa kamu selalu terlihat sendiri?” tanyaku akhirnya.
Seisya tersenyum kecil.
“Karena… aku belum menemukan tempat yang membuatku ingin benar-benar tinggal.”
Aku menatapnya.
“Kalau begitu… bolehkah aku jadi alasanmu untuk tinggal?”
Seisya terdiam. Matanya melebar sedikit.
Lalu ia tertawa pelan.
“Kamu lucu,” katanya.
Tapi di balik tawanya, aku melihat sesuatu — warna baru yang mulai muncul di matanya.Hari-hari berikutnya, aku mulai memperhatikannya tanpa sadar.
Di kantin, Ester dan Kaleb sering mengajaknya bicara. Seisya selalu tersenyum kecil, sopan, tapi tidak pernah benar-benar banyak bicara. Dia berbeda dari gadis lain yang ramai dan penuh tawa keras. Seisya seperti… lagu pelan di tengah keributan.
“Aku heran deh,” bisik Kaleb suatu hari.
“Kenapa kamu sering ngeliatin Seisya?” tambah Ester sambil menyenggolku.
Aku langsung gugup.
“A-aku cuma… penasaran.”
Alfa tertawa keras.
“Wah, ini si MC kita kena love-at-first-sight nih!”
Aku memalingkan wajah, tapi pipiku terasa panas.