Malam itu, 15 Desember 2023, hujan rintik membasahi kaca kedai kopi kecil tempat Antin bekerja. Antin biasanya acuh pada pelanggan, namun saat Rian masuk bersama teman-temannya-Dani dan Mukhyar-pandangannya terkunci. Di sudut meja, Rian dan teman-temannya sebenarnya sedang berbisik. "Eh, lihat cewek itu. Cantik kan?" bisik Mukhyar. "Boleh juga. Taruhan yuk, siapa yang bisa dapetin dia?" tantang Dani. Rian hanya tersenyum tipis, matanya melirik ke arah kasir, namun ia salah mengira. la mengira Leha-teman Antin-adalah target yang dimaksud teman-temannya. Saat Antin hendak pulang, langkahnya dihadang. "Eh, tunggu! Boleh minta nomor HP? Buat pesan tuak aren kalau nanti kita mau nongkrong lagi," goda salah satu dari mereka. Karena hari sudah larut, Antin terpaksa memberikan nomornya agar bisa lewat. Ternyata, HP yang digunakan untuk menyimpan nomor itu adalah milik Rian. Setelah malam itu, Rian dan Mukhyar mulai mendekati Antin secara bersamaan.
Namun, Mukhyar yang sebenarnya sangat menyukai Antin, memilih mundur setiap kali tahu Rian sedang bertukar pesan dengan gadis itu. "Yan, kamu beneran suka sama dia atau cuma karena taruhan?" tanya Mukhyar suatu hari. "Dia beda, Yar. Tapi... kok aku ngerasa ada yang salah ya?" Rian bingung, karena di satu sisi ia mulai mengejar Leha karena salah paham soal identitas "target" taruhan mereka. Antin terjebak di tengah, la kagum pada Rian, tapi ia melihat Rian juga memberikan respon pada Leha. Demi menjaga perasaan temannya, Antin memilih memendam perasaannya. Suatu malam jam sepuluh, Antin terjebak hujan deras saat pulang kerja. la kembali ke kafe dan mendapati Rian serta teman-temannya masih di sana. Di saat itulah, Leha meminta nomor Rian kepada Antin. "Plis, Tin, kasih nomomya. Aku suka banget sama dia," rengek Leha. Antin menghela napas, membujuk Rian agar mau memberikan nomornya pada Leha. Tak disangka, hanya dalam satu hari, Leha dan Rian resmi berpacaran. Namun, Rian tetap sering mengirim pesan pada Antin dengan dalih bertanya soal Leha. "Tin, Leha sukanya apa sih?" tanya Rian di pesan singkat, padahal hatinya selalu mencari alasan untuk bicara dengan Antin. Malam pergantian tahun seharusnya menjadi momen Rian dan Leha. Namun, Antin melihat status WhatsApp Leha sedang berjalan-jalan dengan laki-laki lain bernama Viky. Antin melabrak Leha, "Kamu jalan sama Viky? Bukannya kalian sudah putus?" "Jangan kasih tahu Rian, Tin! Aku cuma bosan," mohon Leha. Antin merasa sakit hati. Pria yang ia puja dikhianati oleh temannya sendiri. Di sisi lain, Rian terus menelepon Antin malam itu karena Leha tidak bisa dihubungi. Antin terpaksa berbohong demi menutupi aib temannya, meski hatinya perih. Hubungan Rian dan Leha penuh badai karena Leha terus-menerus meminta putus. Sampai pada suatu malam, Rian akhirnya berkata "lya". Leha menangis meminta Antin membujuk Rian, tapi Rian sudah mantap. Hanya butuh seminggu bagi Rian untuk kembali mendekati Antin. Tepat tanggal 23 Januari 2024, jam 3 subuh, di bawah sunyinya malam, mereka resmi berpacaran. "Aku nggak bermaksud merebutnya, Leha," gumam Antin saat ia mulai dimusuhi dan disebut munafik oleh teman-temannya sendiri. Hubungan mereka berlanjut ke tahap LDR. Saat Rian pulang untuk acara lamaran kakaknya,Antin diperkenalkan pada keluarga besar. Namun, kebahagiaan itu hancur saat Antin menemukan kenyataan pahit di malam hari. "Kamu pakai obat-obatan lagi?" tanya Antin dengan suara bergetar, melihat Rian mengonsumsi pil terlarang. "Ini yang terakhir, aku janji." ucap Rian memohon. Antin merasa kecewa berat, namun rasa rindunya yang besar membuatnya memberikan kesempatan kedua. la tidak sanggup meninggalkan Rian saat itu. Lebaran menjadi momen manis sekaligus pahit. Keluarga besar Rian, terutama Acil (bibinya) dan Kakak Iparnya, sudah sangat menyayangi Antin. "lyan ini sudah tidak ada orang tua, tolong jaga dia ya, Sayang," ucap Acil Rian dengan tulus. Namun, di bulan yang sama, Antin mencium bau pengkhianatan. Rian selingkuh. Saat Antin menyusul ke Balikpapan untuk training kerja, ia memberanikan diri membuka HP Rian saat pria itu mandi. Di sana, ia menemukan foto-foto tidak senonoh dari wanita lain. "Ternyata tukang selingkuh akan selalu selingkuh," batin Antin, menangis dalam diam sambil berpura-pura semua baik-baik saja. Di kos Balikpapan, dalam suasana hujan dan pengaruh alkohol, Rian menjadi sangat manja. la menarik kaki Antin ke pangkuannya di depan teman-temannya. "Ngapain malu? Aku ini pacarmu, bisik Rian. Malam itu, mereka tidur bersama. Rian bertanya tentang masa lalu Antin, dan Antin menjawab dengan jujur bahwa ia selalu menjaga batasan dengan mantan-mantannya. Namun malam itu, pertahanan Antin runtuh. Terjadi adegan dewasa yang hampir melewati batas hingga Antin menampar Rian karena takut. "Maaf, Tin. Aku nggak seharusnya begini," ucap Rian sambil memeluknya erat hingga pagi. Suatu pagi, atas permintaan kakak ipar Rian, Antin datang ke rumah itu. la diminta membangunkan Rian di kamarnya. Dengan langkah ragu, ia masuk. Namun, sebelum sepatah kata pun terucap, Rian menarik tangan Antin hingga ia terjatuh ke dalam pelukan yang sangat kencang. Rian menciumnya lama, sebuah tindakan yang terasa seperti klaim kepemilikan di tengah status mereka yang sudah asing. "Dulu kamu sering minta dipeluk dan nggak boleh membelakangi, sekarang aku peluk. Tidur aja lagi," bisik Rian lirih di telinganya. Antin membeku; tubuhnya di sana, tapi hatinya terasa seperti kaca yang dipukul martil. September 2024 menjadi bulan yang paling dingin bagi Antin. Kebohongan yang selama ini disusun rapi oleh Rian akhimya runtuh. Tanpa ragu, Antin menyudahi semuanya. Namun, perpisahan itu tidak benar-benar memutus tali di antara mereka. Rian memohon satu hal: "Jangan beri tahu keluargaku, Tolong berpura-pura lah sebentar saja. Pada akhirnya kebenaran tentang perilaku Rian akhirnya tercium sedikit demi sedikit oleh keluarganya, respons mereka benar-benar di luar dugaan. Rian, yang biasanya menjadi anak kesayangan, tiba-tiba menjadi "orang asing" di rumahnya sendiri. Selama seharian penuh, Keluarganya memarahinya habis-habisan dan mendiamkannya. Bagi mereka, Antin bukan sekadar pacar Rian, tapi sudah dianggap bagian dari keluarga, Tapi malah di sakiti oleh Rian. Empat bulan telah berlalu sejak kata "putus" itu terucap. Keluarga Rian tetap menganggap Antin adalah sosok terbaik yang pernah ada. Rian pun masih terus menghubunginya setiap hari, seolah-olah September kelam itu tidak pemah terjadi. Tetap menganggap Antin adalah sosok terbaik yang pernah ada. Rian pun masih terus menghubunginya setiap hari, seolah-olah September kelam itu tidak pernah terjadi. Di tengah kesendiriannya, Antin hanya bisa menatap layar ponselnya yang menyala. "Aku sudah move on," gumamnya pada dinding kamar, "tapi hatiku masih terlalu hancur untuk orang baru. Waktu terus berjalan, membawa Antin pada sebuah kesadaran bahwa mencintai seseorang tidak harus selalu memilikinya. Setelah pelukan terakhir di kamar itu, Antin mulai menarik diri secara perlahan. la tidak lagi membalas pesan Rian dengan perasaan yang sama. la mulai menata hatinya yang sempat hancur berkali-kali. Suatu sore di pertengahan tahun 2025, Antin menerima sebuah pesan singkat dari Kak Sabda,kakak ipar Rian. Sebuah foto undangan digital muncul di layar ponselnya. Nama Rian bersanding dengan seorang wanita yang tidak Antin kenal. "Tin, Rian mau nikah bulan depan. Dia minta Kakak kasih tahu kamu. Maafin dia ya, Tin," tulis Kak Sabda. Antin tertegun sejenak. Ada rasa sesak yang sempat lewat, namun anehnya, perasaan itu segera berganti dengan rasa lega. la tersenyum tipis dan membalas, "Alhamdulillah, Kak. Antin ikut senang. Semoga Rian jadi suami yang baik dan tidak mengulangi kesalahan yang dulu." Rian menikah dengan pilihan keluarganya, seorang wanita yang konon bisa membimbingnya menjadi lebih baik. Rian. akhirnya menemukan ketenangan yang selama ini ia cari melalui cara-cara yang salah. la berhenti dari kebiasaan buruknya dan mulai hidup lurus demi istri dan kenangan tentang orang tuanya. Beberapa bulan kemudian, takdir juga menyapa Antin. la bertemu dengan seorang pria bernama Adit, rekan kerjanya yang jauh dari kata "drama". Adit adalah pria yang tenang. menghargai batasan, dan yang paling penting, tidak pernah membiarkan Antin merasa sendirian. Di hari pernikahannya, Antin berdiri di depan cermin dengan gaun putih yang anggun. la teringat kata-kata Acil Rian dulu tentang ketulusan. Kini, ia mendapatkan ketulusan itu dari orang yang tepat. Rian sempat mengirimkan pesan terakhir sebelum mengganti nomor ponselnya: "Tin, terima kasih sudah pernah menjadi bagian paling sabar dalam hidupku. Aku bahagia sekarang, dan aku harap kamu jauh lebih bahagia dariku." Antin menutup ponselnya tanpa membalas. la melangkah keluar menuju pelaminan, meninggalkan masa lalunya yang penuh luka dan pengkhianatan di belakang pintu. Mereka memang tidak bisa bersama, namun di bawah langit yang berbeda, keduanya akhirnya menemukan definisi bahagia yang sesungguhnya. Aku bahagia sekarang, dan aku harap kamu jauh lebih bahagia dariku." Antin menutup ponselnya tanpa membalas. la melangkah keluar menuju pelaminan, meninggalkan masa lalunya yang penuh luka dan pengkhianatan di belakang pintu. Mereka memang tidak bisa bersama, namun di bawah langit yang berbeda, keduanya akhimya menemukan definisi bahagia yang sesungguhnya.
Terkadang "melepaskan" adalah bentuk cinta tertinggi untuk diri sendiri.
Inspired by the true story of Antin